42🍁

24.5K 1.4K 17
                                        


🍁🍁🍁🍁🍁

Arana terbengong tak percaya menatap sekitarnya. Ternyata Hades tidak berbohong. Setelah acara sarapan itu Hades benar-benar mengajaknya ke Jerman.

Sekarang Arana sedang berada di sebuah rumah dengan interior klasik. Lagi-lagi gadis itu berdecak kagum melihat seberapa kaya keluarga Hades.

"Sebenarnya kita mau ngapain kesini?" Tanya Arana dengan mata yang terus menelusuri keindahan rumah mewah ini.

Hades meraih tangan Arana untuk ia genggam sesekali mengelusnya lembut menggunakan ibu jari.

"Mau ketemu Mama"

Eh

Mama?

Arana menatap Hades kaget
"Mama?" Beo gadis itu.

Hades mengangguk lugas. Membawa Arana memasuki rumah.

Seketika saja suhu tubuh Arana menjadi dingin. Dirinya akan bertemu ibunya Hades? Calon mertua?

Hahaha. Memikirkan mertua membuat Arana tertawa dalam hati.

"Gugup?"

"Hah?!"

Hades menatap Arana sekilas
"Gugup?" Tanyanya lagi

"Eng--enggak!! Siapa yang gugup?" Bantah Arana. Tangan yang satunya bergerak membenarkan rambutnya.

Hades menyeringai
"Yakin? Tangan lo dingin."

"Masa sih?!" Arana menarik tangan yang Hades genggam dan berlari kecil mendahului Hades.

Tawa Hades mengudara begitu saja.
Aish lucu sekali tunangannya ini.

Dengan kaki jenjangnya Hades menyusul Arana. Kembali meraih tangan gadis itu lalu menggenggamnya erat.

"Ayo, mama ada di kamarnya"

Oke google, bagaimana caranya saat bertemu dengan calon mertua?

🍁🍁🍁

"Kamu Arana?" Tanya seorang wanita dengan senyum lembut yang menghiasi wajahnya.

Arana menjawab dengan tersenyum sopan. Sebenarnya ada banyak pertanyaan di benak Arana.
Ingin bertanya tapi sungkan.

"Kamu cantik sekali. Hades memperlakukan kamu dengan baik kan sayang?" Tanya Daisy

"Engg-enggak tante. Hades baik kok."

Daisy tersenyum menanggapi. Tangan ringkihnya bergerak mengusak surai hitam Arana.

"Maaf tante baru bisa menemui mu sekarang."

Arana bingung harus menjawab seperti apa jadinya dia hanya tersenyum tipis.

Di lain sisi Kevan mengkode Hades melewati sudut matanya. Setelah sang anak melihatnya barulah dia beranjak dari tempatnya.

"Daisy, aku ke pergi sebentar." Pamitnya pada wanita itu yang dibalas dengan anggukan dan senyum tipis

🍁🍁🍁🍁

"Malvin marah besar"

Hades menatap tanpa minat sang ayah. Mulutnya menghembuskannya asap yang berasal dari nikotin yang baru dihisapnya.

"Kemungkinan besar dia akan meluluhlantakan mansion utama."

"Gak peduli"

Kevan menghela nafas panjang. Kepalanya menggeleng pelan. Pemuda di depannya ini sungguh sangat keras kepala.

"Lagian, kenapa kamu menculik ayah kandung Malvin?"

Kali ini Hades menoleh ke arah sang ayah. Ada kebencian yang kental di mata tajamnya.

"Balas dendam"

"Kevin dan Yuna sudah membuat Mama menderita. Bertahun-tahun Mama harus tinggal di rumah sakit jiwa----

Tangan Hades terkepal kuat
"----dia harus merasakan lebih dari ini."

"Yuna sudah tiada akibat ulah Kevin sendiri, bahkan sekarang kaki Kevin sekarang lumpuh. Mira, gadis malang itu juga sudah dibunuh oleh suaminya sendiri. Apa Itu masih kurang?"

Hades terkekeh renyah mendengar ucapan sang ayah. Ahhh bahkan sepertinya itu semua kurang untuk membuat balas dendamnya tertuntaskan.

Hades belum puas

"Kenapa seakan-akan kau menyuruhku diriku untuk berhenti dari ini semua."

Sekali lagi Hades menghirup rokok di sela-sela jarinya.

"Kau tidak tau betapa menderitanya mama selama ini"

"Aku tahu!!" Sela Kevan cepat yang membuat Hades berdecih

"Lalu, kemana saja kau selama ini. Dirimu bahkan tidak ada usaha untuk membebaskan Mama dari penderitaanya selama ini. Tiba-tiba kau datang dan mengaku sebagai ayah kandungku."

"Lucu sekali" Hades terkekeh dengan ucapanya sendiri

"Aku selalu memantau kalian"

"Hanya memantau tanpa melakukan apa-apa. Percuma"

Hades membuang putung rokoknya ke sembarang tempat, lalu menginjaknya agar padam.

"Jangan pernah ikut campur dengan urusanku sekalipun kau adalah ayah kandungku."

"Jangan pernah"

Setelah mengatakan hal tersebut Hades pergi meninggalkan Kevan dengan segala kebungkamanya.

🍁🍁🍁🍁🍁

Tunangan Antagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang