47🍁

43.6K 1.5K 191
                                        


🍁🍁🍁🍁🍁

Arana beserta hades tengah berada di sebuah kapal, melakukan pelarungan bunga di Pulau Rafflesia.

Pencarian telah dihentikan, walaupun korban jatuhnya pesawat VandrickAir belum diketemukan semua termasuk kedua orangtua Arana. Dari total 208 korban, hanya ditemukan 58 jenazah dan yang lainnya dinyatakan hilang.

Arana tidak henti-hentinya menangis. Tangannya dengan bergetar menabur bunga di atas air biru itu.

Kenapa ini harus terjadi pada Arana?

Arana masih berharap jika ini hanyalah mimpi buruk. Namun sekuat apapun Arana menyangkal keadaan ini tidak bisa berubah.

Orangtuanya telah tiada

Bahkan Arana tidak bisa melihat mereka untuk yang terakhir kalinya.

Miris sekali

"Tenanglah" Hades berbisik di telinga Arana. Tangannya selalu mengusap bahu Arana berniat menyalurkan kekuatan.

"Hades, apa nggak bisa lo bantu cari orangtua gue beserta yang lainnya sampai ketemu semua?"

Beberapa detik Hades diam. Matanya menyorot depan lalu menatap Arana di sampingnya. Keadaan Arana tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

"Maaf" akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut pemuda itu.
.
.
.
"Buka mulut Arana"

Arana hanya menurut ketika Hades menyuapi dirinya, setelah pelarungan bunga, mereka kembali ke rumah. Sebenarnya Arana tidak ingin makan, tapi melihat tatapan tajam Hades membuat dirinya tak berani melawan.

"Ahhh gue lupa bilang, mulai pembelajaran baru nanti, lo bakal home schooling." Ucap Hades. Dirinya kembali menyodorkan sendok berisi nasi kepada sang tunangan.

Arana terdiam kaget. Gadis itu langsung menatap Hades meminta penjelasan.

"Apa?" Tanya Arana. Mungkin saja gadis itu salah dengar.

"Lo bakal home schooling." Hades kembali mengulangi perkataanya.

"Tapi kenapa?" Tanya Arana tak terima dengan keputusan sepihak Hades.

Hades menggendikan bahu cuek.
"Gak ada alasan khusus. Hanya....ingin menjaga apa yang udah jadi milik gue."

Arana menatap Hades tak percaya. Apa maksud pemuda ini? Apa pemuda ini ingin mengurungnya?

"Maksud lo apasih?!"

"Cukup diam dan jangan membantah.

"Tap---

"Diam Arana." Hades menekan ucapanya membuat Arana tak berani membuka suara kembali

"Satu lagi"

"Mulai hari ini dan seterusnya, lo tinggal sama gue"

Arana merasa Hades ingin mengekang hidupnya. Sebenarnya apa rencana tunangannya ini? Jujur saja, setelah insiden malam Hades menyiksanya, dirinya...sedikit mewaspadai pemuda itu.

"Hades, gue gakpapa kalo harus tinggal sendiri di rumah peninggalan orangtua gue. Lagian kalo gue tinggal disini, siapa yang bakal jaga rumah itu?" Terang Arana. Berharap Hades akan mengerti dan tidak akan mengekangnya terlalu erat.

Hades tersenyum miring. Tangan kekarnya mengusak rambut Arana gemas.

"Jangan khawatir, gue udah ngirim orang buat jaga rumah orangtua lo"

"Tapi---

"Nurut Arana. Lo gak mau kejadian malam itu terulang lagi kan?"

Lagi-lagi Arana dibuat terdiam oleh perkataan Hades. Arana tidak mungkin lupa dimana Hades hilang kendali dan menyakitinya. Dan Arana tidak ingin itu terjadi lagi.

Tunangan Antagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang