.
.
.
🍁🍁🍁🍁
Sudah tiga hari Arana berada di jerman dan hubungannya dengan Hades juga berkembang dengan signifikan.
Seperti saat ini, pasangan itu sedang menikmati street food khas Jerman yang dibeli dari car food di taman kota. Hari minggu membuat banyak orang berlalu lalang di taman yang mayoritas ditumbuhi bunga Tulip Jerman itu. Banyak orang jogging ataupun bersepeda, tak sedikit pula yang sekadar mampir untuk sarapan sambil menikmati udara pagi seperti Arana dan Hades.
"Roti ini enak banget!!" Seru Arana setelah menelan makanannya.
"Namanya Sauerkraut Ara..." Ucap Hades membenarkan.
Arana mengibaskan tangannya di udara sambil menatap Hades acuh
"Terserah namanya apa, intinya ini roti isi terenak yang pernah aku makan..!!" Arana kembali menggigit jajanan khas Jerman itu. Sangat menikmati sampai-sampai matanya terpejam menikmati.
"Ahhh iya, kapan kita pulang ke Jakarta?" Tanya Arana setelah menelan makanannya.
Sejenak Hades memandang Arana.
"Besok pagi" jawabnya singkat.
Arana manggut-manggut menanggapi lalu kembali fokus pada makanannya.
Ketika sudah tidak ada perbincangan diantara keduanya, salah satu ponsel di meja yang mereka tempati berdering membuat fokus mereka teralihkan.
Dengan segera Hades mengambil ponsel tersebut. Menatap sejenak layarnya, Hades berdehem.
"Gue angkat panggilan dulu." Pamitnya
"Ahhh i-iyaaa"
Setelah mendapatkan jawaban dari Arana, Hades berlalu sedikit jauh dari Arana. Arana sendiri sebenarnya penasaran. Siapa yang menelfon sampai Hades harus pergi dari peraduanya? Seprivat itukah?
Menyadari pikiran konyolnya Arana menggeleng ribut. Tidak. Dia tidak boleh berprasangka buruk. Arana percaya sama Hades. Dan akan selalu percaya.
Masih dengan Arana. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya. Seorang laki-laki bertubuh jangkung dengan masker hitam yang melekat di sekitar mulutnya.
"Permisi" ucap orang itu menggunakan bahasa Inggris
Arana menoleh, menatap orang itu bingung.
"Ya?"
"Ada seseorang yang menitip ini untuk anda." Ucap orang itu menaruh sebuah amplop surat di meja Arana.
"Ini apa?" Bingung Arana.
"Anda bisa membukanya dan ya jangan sampai ada yang tahu siapapun itu."
"Tap--
"Jika begitu saya permisi"
Orang itu langsung bergegas pergi seakan tidak ingin mendengarkan apapun ucapan Arana.
"Siapa?" Dengan reflek, Arana yang masih ngeblank, langsung mengambil amplop itu lalu menyembunyikanya ketika Hades kembali.
"Ga-gak tahu. Orang iseng kayaknya" balas Arana mencoba untuk tidak gugup.
"Lain kali jangan pernah bicara sama orang asing" tegur Hades yang kembali duduk pada kursi di depan Arana dengan meja sebagai pembatas.
"Kenapa?"
"Bahaya Arana. Siapa tahu mereka punya niat buruk.
Hati kecil Arana membenarkan ucapan sang tunangan. Siapa tahu dia adalah salah satu musuh Hades yang sedang menargetkan dirinya.
Jadi, haruskah dia memberi tahu Hades?
"Ohh iya, tadi siapa yang telpon?"
Hades menatap Arana dalam
"Mama"
Mama?
Benarkah itu?
Lalu kenapa harus menghindar dari Arana jika itu tante Daisy?
🍁🍁🍁🍁
Langit sudah berganti menjadi gelap namun kendaraan masih berlalu lalang di jalan raya. Banyak orang yang ternyata belum selesai dengan kegiatan sehari-harinya. Berbeda dengan Arana yang kini sendirian di kamar yang sejak kedatangannya di Jerman menjadi tempat istirahatnya.
Terhitung sudah seperempat jam sejak kepergian Hades dan gadis itu tidak berhenti menggerutu. Dirinya kesepian. Tante Daisy dan Om Kevan? Sudah pasti mereka hanya ingin menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan apapun. Arana saja sampai heran. Umur sudah kepala empat tapi kelakuan seperti pengantin yang baru menikah. Ahhh bahkan mungkin lebih parah.
Dan Hades dengan teganya meninggalkanya sendiri tanpa siapapun yang menemani.
"Huffttt jadi kangen Lia, Sasti, sama Puput. Kira-kira mereka lagi ngapain ya?"
"Mana hp ilang. Udah berapa hari gue gak pegang hp?"
"Hades kemana ya? Jadi kangen Hades juga"
Ohh sudahlah. Biar Arana meratapi nasib dengan tatap-tatapan dengan cicak yang sedang nemplok di langit-langit kamar.
"Cicak bisakah aku jadi penyihir? Aku ingin sekali menyihir Hades menjadi saudaramu"
Chik chik chik chik
Kira-kira cicak itu menjawab apa ya?
🍁🍁🍁🍁🍁
Hades tengah berada di sebuah bar. Tangan kanan pemuda itu memegang gelas berisi vodka dan tangan kirinya terselip sebatang nikotin dengan ujungnya mengeluarkan asap.
Pemuda itu menaikan kaki kirinya dengan tumpuan kaki kanan. Punggungnya ia sandarkan pada sandaran sofa. Matanya menatap gelas di genggamanya tajam. Sekali-kali ia akan memutar gelas dengan jari-jarinya.
"Bagaimana persiapanya?" Tanya Hades tanpa mengalihkan pandangannya.
Orang yang duduk di kursi di depannya duduk dengan tegak.
"Semua sudah siap. Tinggal menunggu rencana selanjutnya."
Mendengar jawaban yang memuaskan dari anak buahnya membuat Hades terkekeh puas. Lalu dengan sekali tenggak dia menghabiskan vodka di gelasnya.
Sebentar lagi
Sebentar lagi balas dendamnya akan segera tertuntaskan
Baik balas dendam untuk penderitaan Mama-nya ataupun balas dendam untuk dirinya sendiri
semuanya akan segera berakhir
Sebentar lagi
"Kerja bagus. Gajimu aku naikan bulan ini." Puas Hades lalu tangannya merampas botol di meja yang seakan-akan tengah menggodanya.
"Tuan, sepertinya anda sudah banyak minum"
Hades menatap tajam anak buahnya yang sudah berani menegurnya
"Kerjamu hanya menjalankan perintah dariku. Sisanya kau tidak memiliki wewenang apapun."
🍁🍁🍁🍁🍁
KAMU SEDANG MEMBACA
Tunangan Antagonis
De TodoMenurut Rena terperangkap dalam tubuh seorang tokoh novel hanyalah dongeng dari sebuah cerita. lalu bagaimana jika ia mengalami kejadian yang menurutnya hanya sebuah dongeng tak nyata itu? ***** Arana Wilson, tunangan dari Hades Giovandrick, dalam n...
