6. MENGHILANG

157 20 0
                                        

"Permisi!" N membuka rumah yang terlihat tak berpenghuni.

Kami sudah membuka lebih dari tiga rumah tapi tak ada sama sekali yang bisa kami temui atau dapatkan. Ini mirip kota mati tak berpenghuni. Aku melirik N yang keluar dengan tangan kosong lagi. Jelas saja, sepertinya tempat ini telah ditinggalkan. Apa karena sebuah penyerangan? Tidak ada jejak manusia atau monster yang menyerang tempat ini. Semuanya masih sangat bagus hanya saja tempat ini sangat sepi dan sunyi.

"Kita cari desa lain saja. Kemungkinan mereka pergi tidak lama ini."

"Kita tak mencari sesuatu?"

"Mereka membawa barang berharga. Aku tidak menemukan uang atau benda yang bisa dijual. Ayo! Perasaanku tidak enak lama-lama disini." N naik ke atas kudanya.

Kenapa dengan desa ini?

Aku naik dan mengikuti N lagi. Kenapa mereka pergi?

🌼🌼🌼

"Ivy! Sepertinya itu desa!"

Kami masuk ke dalam gerbang yang penuh dengan anak kecil yang bermain. Mereka tertawa pada petugas yang berjaga di depan gerbang. Sepertinya ini adalah desa biasa. Aku tersenyum pada anak-anak yang mengelilingi kami. Apa kami telihat sebagai seorang ksatria? Aku turun dan menuntun kudaku. Desa ini lebih baik daripada desa sebelumnya.

"Permisi! Apa kami bisa mendapatkan tempat untuk beristirahat malam ini?" N bertanya pada salah satu warga.

"Tentu saja! Apa kalian ksatria?"

"Iya! Kami sedang dalam perjalanan menuju sarang naga!" N mengucapkannya dengan sangat bersemangat.

"Sarang naga? Pasti kalian kuat, akan saya tunjukkan penginapan untuk kalian."

Malam ini kami bisa tidur di tempat yang aman dan nyaman. Aku mengikat kuda di luar dan memberinya makanan. Besok mereka harus berjalan lebih jauh lagi dari ini. Aku mengusap kepala mereka sembari memperhatikan masyarakat di desa ini. Apa mereka mengetahui sesuatu tentang desa itu?

"Nona! Apa anda seorang ksatria?" Seorang anak kecil menarik bajuku.

"Aku hanya pengembara."

"Tapi ada pedang!"

"Ini untuk keselamatanku, ada apa?"

Dia memperlihatkan giginya yang berlubang. Kenapa dia justru tersenyum?

"Apa anda tahu ada desa mati sebelum ini?"

"Hmm, aku melewatinya!"

"Katanya disana ada Undead!"

Undead? Di desa itu? Lalu kenapa mereka malah berada disini? Tempatnya sangat dekat dengan desa Undead tadi. Dia menarikku lagi. Aku menunduk dan mendengarkan dirinya.

"Setiap malam hari mereka akan bangun. Mereka akan hidup layaknya manusia normal lainnya. Kata ayahku, jiwa mereka masih berada di tubuh mereka. Kadang mereka akan datang kemari dan menjual sayuran busuk."

"Terima kasih informasinya!"

"Hmm! Apa anda ingin membunuh mereka?"

"Apa mereka jahat?"

"Tidak, mereka hanya berjalan-jalan saja. Tapi, ayahku melarang semua orang keluar pada malam hari."

Kemungkinan mereka berbahaya! Tapi kenapa mereka tetap hidup layaknya manusia normal? Apa benar jiwa mereka tetap berada di tubuh mereka?

"Ini permen untukmu!" Aku memberikan permen karamel pada anak ini.

Dia tersenyum dan pergi dengan bernyanyi lagu aneh. Itu bukan urusanku, jika desa ini sudah tahu keadaan para Undead, mereka pasti bertahan dengan sangat baik. Aku mengambil permen karamel dan memakannya.

Aku ingin tidur.

🌼🌼🌼

Tokkk... Tokkk...

"Hmm...?"

Tokkk... Tokkk...

Siapa yang mengetuk pintu? N masih tertidur pulas dengan dengkurannya. Aku membuka pintu dan melihat seseorang terlihat ketakutan. Apa yang terjadi?

"Ada apa?"

"Bisakah anda memeriksa keluar rumah. Kuda anda terus bersuara."

Kuda? Kuda kami? Aku segera mengambil pedang dan berlari keluar. Apa yang terjadi pada kuda-kuda ini? Apa mereka ketakutan?

Brakk...

Pintu tertutup dengan sangat kencang. Apa dia menutup pintunya? Aku masih berada di luar.

"Tuan? Tuan?"

"To-long...!!! Jang-an ma-suk!"

Aku menatap pintu ini. Aku bisa menjebolnya kapan saja. Apa yang tuan pemilik rumah ini inginkan padaku? Permasalahannya pada kuda-kuda ini. Mereka terus bersuara tanpa henti. Aku mengusap kepala mereka bergantian.

Apa mereka merasakan sesuatu? Para hewan biasanya lebih peka pada lingkungan.

"Aghhh... Aghhh..."

Suara apa ini?

Aku mengintip dari balik kuda dan melihat beberapa kaki pucat berjalan. Benar kata anak itu, mereka para Undead membawa sayuran yang sangat busuk. Bahkan lalat-lalat hinggap di sayuran dan tubuh mereka. Baunya sangatlah menyengat!

Apa yang harus aku lakukan? Kuda-kuda ini masih ketakutan. Aku menunggu di depan para kuda. Jika ada yang mendekati kami, aku harus membunuhnya.

"Aghhh... Aghhh..."

"Aghhh... Aghhh..."

Mereka terus berjalan, ada lebih dari 10 Undead. Mereka berjalan dari satu rumah ke rumah lain. Seperti ingin menawarkan sayuran mereka. Apa jiwa mereka tidak tahu bahwa mereka telah mati? Tubuh mereka membusuk dan rusak, percuma untuk memurnikan mereka. Lebih baik mereka tahu bahwa hidup mereka tidak tertolong lagi. Kecuali, seseorang membuat para Undead ini terus berjalan dan menyebar teror. Ketakutan dan jiwa manusia adalah makanan yang lezat untuk iblis.

"Aghhh... Aghhh..."

Mereka berjalan melewatiku dan mengetuk pintu rumah. Bahkan tak ada satu pun Undead yang mencoba menyerangku.

Bukankah ini aneh? Aku melompat ke atas atap. Apa masih ada Undead lainnya? Aku melompati rumah-rumah menuju gerbang. Aku harus tahu kenapa desa ini tidak menutup pagar mereka saja.

"Aghhh... Aghhh..."

Ini mengerikan!

Lebih banyak Undead berkeliaran di luar gerbang. Mereka bahkan melupakan aktivitas seperti manusia. Membawa gerobak yang penuh dengan belatung. Membawa cangkul dan mencoba menebang pohon. Aku melompat dan berlari ke desa para Undead berada.

Ini bukan sebuah hal yang benar. Harusnya para Undead tidak memiliki jiwa manusia. Aku merangkak ke atas atap dan melihat apa yang terjadi disini.

Mereka memang masih berperilaku layaknya manusia. Bekerja dan hidup.   Membersihkan rumah, makan, berbicara satu sama lain meski terdengar hanya erangan, menjual barang busuk dan barang usang, dan banyak hal membuat ku berpikir mereka adalah manusia normal. Aku melepaskan topengku.

Ini jauh lebih jelas.

Mereka benar-benar hidup dimataku.

Tersenyum dengan wajah mereka dan berbicara seperti biasa. Orang-orang ini sudah hidup seperti ini sangat lama. Lebih lama dari para manusia di desa yang kami datangi. Mereka bukannya jiwa yang terjebak, mereka hanya hidup seperti waktu mereka hidup dulu. Siapa yang menghidupkan mereka? Aku menatap ke atas langit.

Hanya iblis yang bisa melakukannya!

🌼🌼🌼

Salam ThunderCalp!🤗

Jangan lupa like, komen, dan share!

See you...

Ksatria & Tuan Putri ( END )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang