"Iv? Apa nama desa mu?"
Desa?
"Hmm? Kami tidak memiliki nama."
"Ya aku bisa tahu kenapa? Kau tidak tinggal di surga kan?"
"Bukan."
Jika di surga aku pasti sudah mati. Tapi jika mendengar cerita yang mereka cerita kan tentang tempat tinggal ku itu bisa di bilang sebagai sebuah surga dunia. Mereka tidak akan menjumpai monster mengerikan yang berada di tempat ini. Hanya ada monster yang sangat lucu dan mengemaskan seperti Aldwin.
"Aku takut kau malaikat yang jatuh dari surga dan tidak bisa kembali pulang. Aku tidak bisa mengantar mu ke sana, aku belum ingin mati tapi aku sangat penasaran surga itu seperti apa."
Aku bisa mengerti!
"Gukkk... Gukkk..."
Aldwin berhenti berjalan di dua jalan berbeda. Dia menengok kesana-kemari dan berbalik. Aldwin sangat lucu ketika kebingungan.
"Setelah ini kita memilih jalan apa?"
"Kanan!"
"Kanan? Jika kita ke kanan kita akan menjumpai lautan. Kau tidak benar-benar tinggal di dataran lain kan?"
"Sebenarnya aku ingin melewati lautan dengan kapal. Tapi jarak tempat ini dan tempat itu tidak bisa dijangkau oleh kapal. Kita hanya bisa ke daratan lain yang lebih dekat. Apa kau tidak apa-apa pergi ke dataran lain?"
Wajah Corliss nampak sangat pucat. Jika dia tak bisa pergi dari dataran ini, aku dan Aldwin akan meneruskan perjalanan. Aku tidak akan memaksanya untuk ikut denganku. Sebelum kami terlalu jauh, aku harus memberitahu Corliss. Kami akan sangat jauh dari tempat ini.
Apakah Corliss bisa melakukannya?
"Aku belum pernah melintasi lautan. Tapi jika rumahmu ada disana, aku akan ikut bersamamu!"
"Apa kau yakin?"
"Iya! Aku sudah memutuskannya, Iv!"
"Baiklah, jika kau tetap ingin bersama ku."
"Hmm... Aku tidak akan membiarkan para bajingan itu menyentuhmu!"
Apa itu laki-laki?
🌼🌼🌼
"Permisi! Kami ingin menginap ditempat ini. Apakah anda mengizinkan kami?"
"Tidak!"
Pintu tertutup dengan sangat keras. Ini sudah ke sepuluh rumah yang kami kunjungi. Tak ada yang mau menampung kami bermalam di sini. Air hujan mulai turun dari atas, kami belum juga menemukan tempat untuk berteduh. Aku mengetuk pintu lainnya.
"Permisi! Apakah kami bisa menginap disini? Kami akan membayar 50 Pin!"
"Pergi!" Teriak orang dari dalam.
"150 Pin!"
"PERGI!!!"
Aku menatap pintu ini dengan marah. Kenapa tak ada yang mau? Aku ingin mendobrak pintu ini!
"Kita berteduh disana saja!"
Corliss menunjuk rumah yang sebagian besar sudah termakan usia. Kayunya lapuk, jendelanya telah rusak, dan atapnya berlubang dimana-mana. Aldwin lebih dulu masuk dan menggonggong di dalam rumah. Apakah dia menemukan sesuatu?
Desa ini sangat aneh. Apa mereka tidak percaya pada orang asing?
Harusnya aku mendobrak paksa salah satu rumah dan membuat kami tidak mengalami kehujanan dan kedinginan seperti ini.
"Iv? Tempatnya lebih luas untuk berteduh. Ayo, masuk! Aku akan melindungimu!"
Corliss membuka pintu yang cukup kuat. Setidaknya kami memiliki tempat untuk menginap malam ini. Aldwin mengendus-endus lantai dan berputar-putar disana.
"Gukkk... Gukkk..."
"Boy? Ada apa?"
"Gukkk... Gukkk..."
Brakkk...
Apa itu perlu dilakukan? Corliss memukul lantai sampai Aldwin terdiam melihat ke bawah lantai. Apa ada ruang bawah tanah rumah ini? Baunya sangat menyengat sampai aku pernah menciumnya di suatu tempat. Corliss mengeluarkan pedangnya dan mencoba melihat apa yang Aldwin lihat.
Jika itu bukan hal bagus. Aku lebih baik menutup rumah ini sekarang juga.
"Iv, apa kau ingin lihat?"
"Ada apa?"
"Ada sekumpulan mayat di bawah sini. Bukan satuan tapi puluhan mayat. Dari tubuhnya, ini mayat baru terbunuh beberapa hari ini."
Mayat? Sebanyak itu di bawah sini? Tempat apa ini?
Jika itu mayat baru, artinya ada monster yang berkeliaran di tempat ini. Aku mengambil pedang ku dan turun ke bawah. Aku merasakan kakiku menginjak-injak sesuatu yang sangat lembab.
Aku melepaskan topengku dan melihat jiwa-jiwa yang terjebak di tempat ini. Mereka menatapku dengan wajah sangat sedih. Menangis dan meraung-raung meminta tolong.
"Cahaya biru pengantar kehidupan! Cahaya biru pengantar kematian!
Pedang suci yang memurnikan, tolong pinjamkan aku kekuatan."
Cahaya putih keluar dari pedangku, menyinari tempat ini dengan sangat terang. Para jiwa berubah menjadi cahaya kecil dan bersinar. Mereka pergi melewati lubang yang dibuat Corliss ke atas sana. Tubuh mereka perlahan menghilang menjadi butiran debu. Monster apa yang membuang mayat di tempat ini?
"Corliss! Aldwin, turunlah!"
"Iv? Apa itu tadi?"
"Gukkk... Gukkk..."
"Hanya membuang mereka. Ayo, cari monsternya dan mengambil batu Mananya."
Tubuhku hampir berada di ambang batas. Meski Mana dari batu naga sangat besar, tubuhku masih belum cukup menggunakan pedang suci. Jika aku mendapat batu lainnya, aku harus segera menyerapnya menggantikan Mana ku yang sudah terkuras untuk memurnikan tempat ini. Aku harus mengambil ganti ruginya.
"Ta-pi cahaya itu?"
"Pemurnian."
"Apa! Kau juga bisa memurnikan tempat ini?"
Aku mengangguk, aku hanya meminjam kekuatan pedang suci. Bukan aku yang memurnikannya secara langsung.
"Gukkk... Gukkk..."
Aldwin menggonggong pada apa di depan kami. Tinggi, besar, dan terlihat sangat marah. Untuk apa Cyclop menyimpan mayat-mayat di tempat ini? Apa dia ingin membuat gunung mayat? Apa mau monster ini? Aku berlari dan mengeluarkan pedang biruku.
"Gukkk... Gukkk..."
"Groammm..."
Cyclop berlari dan mengejar Aldwin, apa dia menyukai anjing? Corliss mengejar Aldwin dan membawanya pergi dengan cepat. Aku harus menusuk satu mata nya itu. Tubuhku melompat dan berjalan disisi dinding.
Jelbb...
"Groammm..."
Ini belum cukup! Aku mencabut pedangku dan turun ke bawah. Cahaya biru menerangi seluruh pedang dan mengeluarkan api biru. Ini mirip api N saat aku meminjamnya. Aku menusuk tepat di jantung Cyclop.
"Groammm..."
Batu ungu yang sangat cantik bersinar dari matanya. Aku mendapatkan batu Mana miliknya. Mana ini cukup untuk mengganti Mana yang telah terkuras tadi.
"Ivy? Sepertinya kau tidak membutuhkan N selama ini. Kau bisa mengalahkan monster sendirian." Corliss mendekatiku.
"Gukkk... Gukkk..."
"Kami partner!"
Ya, kami hanya seorang rekan dalam pertarungan.
🌼🌼🌼
Salam ThunderCalp!🤗
Jangan lupa like, komen, dan share!
See you...
KAMU SEDANG MEMBACA
Ksatria & Tuan Putri ( END )
AventuraBagaimana rasanya sebuah pengkhianat dari seseorang yang kalian percayai? Sakit? Marah? Kecewa? Sedih? Itulah yang dirasakan Ivy, setelah apa yang dia lakukan selama ini untuk N. Justru sebuah pengkhianat dan dia terima. Dikhianati oleh seseorang di...
