"(Name) dimari, ada (Name) jangan lari"
Kisah singkat tentang si gadis brutal yang hidup hanya dengan modal doa dan tekad
Ketika diberi kesempatan baru untuk merubah alur hidupnya menjadi lebih baik, apakah dia sanggup melakukannya? Atau malah menje...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Capek-capek nyari meme, ternyata yg lucu Park Hyungseok"
**•̩̩͙✩•̩̩͙*˚ ˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚*
"Sudah berapa kali ku bilang jangan muncul lagi di hadapan ku!"
Suara tamparan keras terdengar di ruang tamu. Seorang gadis kecil yang mendapat pukulan dari pria paruh baya di depannya hanya bisa meringis kesakitan ketika merasakan nyeri yang teramat sangat di pipi kanannya
Tak seharusnya tatapan kosong, sekujur tubuh yang penuh luka lecet dan memar, serta kantung mata yang tebal ada pada gadis berumur 6 tahun. Mereka seharusnya menghabiskan waktu dengan bermain bersama teman diluar sana
Sayangnya, hal seperti itu tidak berlaku untuk (Name). Dia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Bahkan saking seringnya dia mendapat kekerasan, semua pukulan yang terarah padanya sudah tak terasa sakit lagi
Menghela nafas panjang, pria paruh baya yang selama ini berperan sebagai sosok 'ayah' dalam kehidupan (Name) mendudukkan diri di kursi sebelum memijit keningnya lelah
"Dasar anak tak tahu di untung, sudah kuberi kesempatan untuk hidup tapi masih saja menyusahkan. Lebih baik kau mati saja"
Telinganya sudah muak mendengar kalimat "mati saja sana". Kalau (Name) mau dia bisa saja mati hari ini juga. Sayangnya masih ada janji yang harus ia tepati pada seseorang
Jika kalian penasaran kenapa (Name) hanya memiliki sosok ayah, dan bertanya-tanya kemana ibunya? Kemana keluarganya yang lain?
Selamat, kalian akan menemukan semua jawabannya disini
🌸🌸🌸
"Kak, aku lelah. Bisakah kau biarkan aku bunuh diri sekarang?" Pertanyaan yang keluar dari mulut anak kecil itu langsung mengalihkan perhatian pemuda yang sedang memasak makan malam
Mematikan kompor, pemuda bersurai hitam panjang ini menangkup kedua pipi sang gadis. Memaksanya agar berhenti tertunduk
"Mimpi mu belum terwujud, sayang. Ku mohon jangan katakan hal itu lagi. Masih banyak hal yang harus kau lakukan disini, dan aku akan menemani mu sampai kau benar-benar merasa bahagia" Di peluknya tubuh ringkih sang gadis
Hatinya menangis membayangkan anak sekecil ini harus dihadapkan oleh makhluk kejam yang selalu ia panggil "ayah". Setiap kali dia berkunjung menemui (Name), selalu ada luka baru di tubuh anak ini. Entah itu sundutan bekas roko, memar biru, ataupun luka goresan benda tumpul
Nam Hajoon, nama pemuda yang menjadi sosok kakak di kehidupan (Name). Meski dia hanya anak angkat di keluarga (Surname), itu tak menghalanginya untuk memperlakukan (Name) seperti adiknya sendiri