Tatapan sayu yang tak bisa melihat sekeliling dengan jelas, nafas berat yang seolah bisa berhenti kapan saja, dan wajah pucat yang menambah kekhawatiran dari ketiga pria yang menemaninya membuat mereka panik bukan main.
"(Name)... (Name), kumohon jangan berbicara dulu." Suara lemah yang tak biasa terdengar dari laki-laki bersurai merah mudah samar-samar memasuki pendengaran sang gadis yang masih terbaring lemah diatas tempat tidur rumah sakit.
Di genggamnya tangan kanan sang gadis yang terasa dingin dan mengusapnya pelan, mencoba menenangkan pikiran sang empunya.
Sekuat tenaga, (Name) mencoba melirik ke sekitarnya hanya untuk menemukan dirinya berada di rumah sakit dan tak bisa melakukan apa-apa. Efek tak sadarkan diri selama tiga bulan membuat otot-otot tubuhnya terasa kaku dan seolah tak memiliki tenaga sama sekali.
Sedangkan satu-satunya laki-laki berkacamata diruangan itu masih terdiam membeku ditempat berkat perkataan (Name) beberapa menit yang lalu. Pertanyaan singkat yang terus-terusan berputar di dalam kepalanya. Dan mampu membuat seorang Kim Jungoo mematung ditempat.
"Hey... Kau bercanda kan, (Name)?" Tanya Jungoo balik yang sayangnya tak bisa terdengar oleh (Name).
Jonggun yang berdiri tak jauh dari tempat tidur (Name) memutuskan untuk tetap diam dan menatap (Name) tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Akhirnya, beberapa jam terlewat dengan keheningan yang menyelimuti ruangan tempat (Name) dirawat. Hanya suara detik jarum jam yang bisa terdengar. Sampai akhirnya suara serak sang gadis memecah keheningan.
"Aku siapa?"
Tak ada yang menjawab pertanyaan singkat nan jelas dari (Name). Mereka bertiga memiliki pikiran negatif masing-masing, namun satu hal yang pasti. Ini bukanlah hal yang mereka ingin dengar.
"(Name), kau... Kau (Full Name)." Jawab DG, menatap (Name) dengan tatapan yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain.
Si pemilik nama terdiam sebentar, seolah sedang memikirkan dan mengingat sesuatu.
"Oh... Ya... Aku (Name), ya...?"
Menghela nafas berat, Jonggun melangkah mendekati (Name) dan kini berdiri tepat di sebelah ranjangnya.
"Sepertinya karena pukulan di kepala, ingatan mu jadi terganggu. Jangan paksakan dirimu, kau baru sadar." Ujar Jonggun, lalu tangan kanannya terulur mengusap kening (Name) dengan lembut.
Jungoo ikut berdiri di sebelah ranjang (Name) dan menatap sang gadis dengan raut wajah sedih.
"Kau mengingat ku, kan? Ini aku, Kim Jungoo. Teman rahasia pertama mu."
Perlahan, (Name) melirik Jungoo yang berdiri di sebelah kanannya.
"H-huh...? Siapa...?"
Jungoo menunjuk dirinya sendiri sebelum dia berbicara lagi.
"Jungoo, aku Jungoo."
Terdiam lagi sebentar, (Name) mengangguk singkat.
"Ah... Ya... Jungoo..."
Harapan Jungoo mulai bangkit lagi ketika mendengar (Name) menyebut namanya dan dia terlihat sudah mengenalnya kembali. Namun harapan itu mendadak hilang ketika (Name) melanjutkan perkataannya.
"...Siapa ya...?"
Jungoo mundur menjauh dari ranjang (Name) untuk memberi gadis itu ruang sebelum dia menoleh kearah lain.
"Si mesum itu benar, kau baru sadar."
Lalu akhirnya pandangan (Name) tertuju pada orang yang berada paling dekat dengannya. Dan menyadari perhatian (Name) kini tertuju padanya, pemuda bersurai merah muda itu tersenyum lembut.
"Kau pula... Siapa...?"
DG terdiam menatap (Name). Jantungnya berdegup kencang mendengar pertanyaan yang tak pernah dia duga kini keluar dari mulut (Name). Padahal pertanyaannya singkat dan mudah untuk dijawab, tapi kenapa rasanya sakit sekali?
"Aku Lee Jihoon." Masih dengan senyum yang sama, akhirnya DG menjawab pertanyaan (Name).
Tanpa mengatakan apapun lagi, pandangan (Name) kembali lurus kearah langit-langit rumah sakit. Nafasnya masih terasa berat.
"Kenapa ya... Rasanya ada hal penting yang menghilang..."
Sorot mata yang berbeda tersebut kini rasanya tak ingin terlihat oleh siapapun. Iris mata keunguan yang sekarang terlihat lebih... Kosong dibanding sebelum ia tak sadarkan diri, sukses membuat perasaan sang legenda generasi pertama kacau tak karuan.
She's changed. You can see it in her eyes, hear it in her tone, feel it in her touch. She's not the same.
Tangan kekarnya perlahan bergerak menggenggam tangan kecil (Name) lagi.
"Ku mohon, (Name)... Tolong, tolong jangan seperti ini." Pintanya dengan suara pelan pada sang gadis.
Pandangan (Name) masih menatap langit-langit ketika dia membalas perkataan DG.
"(Name)? Oh iya, itu namaku..." Tertawa lemah, (Name) terdiam lagi. Isi kepalanya terasa kosong, namun juga ramai disaat yang bersamaan. Kini ingatan murni miliknya dan seluruh ingatan milik si pemilik tubuh bercampur menjadi satu.
Tanpa sadar dan tak mengatakan apa-apa, tiba-tiba air mata mengalir di mata kiri (Name). Tentu hal itu membuat ketiga laki-laki yang ada disana terkejut.
"(Name)? (Name), kau... Kau kenapa? Ada yang sakit?" Tanya DG, kekhawatiran nya meningkat.
Meringis pelan, perlahan tangisan (Name) mulai terdengar. Dia memang sakit, tapi bukan tubuhnya yang merasa sakit.
"Kalian jangan jahat-jahat padaku dong, aku kan... Cuman mau ngerasain kasih sayang ayahku di kalian."
Iris mata ketiga laki-laki disana melebar, terkejut pada apa yang mereka dengar. Kalimat polos yang keluar dari mulut (Name) berhasil membuat suasana semakin terasa berat. Bahkan Jungoo sekalipun sampai terdiam lagi. Perasaan bersalah yang sudah lama hilang itu, perlahan kembali.
"Ternyata kalian sama saja."
Gadis sederhana yang mencari tempat berteduh dari kerasnya hantaman di dunia ini. Lebih mirisnya, di dunia yang sekarang pun dia tidak bisa menemukan apa yang dia cari. Dari awal, dia tidak pernah memiliki tempat untuk pulang.
Jiwanya sudah terlalu lelah, raganya sakit, isi pikirannya berisik. Dan yang lebih parahnya, hanya ada satu orang yang membantunya ketika berada di titik terendah. Itu pun sang kakak tak sedarah yang kini tidak lagi berada di sampingnya. Lantas, sekarang dia harus bersandar pada siapa?
Dia anak perempuan yang sudah terbiasa berdiri sendiri. Meski begitu, bukan berarti dia tidak membutuhkan seseorang atau tempat untuk pulang. Pundak kecilnya sudah tak kuat lagi menahan masalah yang hadir di hidupnya. Lama kelamaan, luka di hatinya berubah menjadi trauma. Padahal ia juga ingin menjadi anak perempuan yang dikasihani.
Dan dia sangat tau, bagaimana sakitnya saat keberadaan mu tidak dianggap meski sudah berusaha.
"Apa kalian tau seberapa besar usaha ku untuk bisa dicintai?" Suaranya yang masih lemah, kini terdengar serak karena menangis.
Cukup sudah. Tanpa berkata apa-apa, DG bangun dari kursi di sebelah ranjang (Name) dan memeluk gadis itu erat. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu mungil sang gadis.
Sekarang hanya kata "maaf" Yang bisa terucap. Karena DG tau, tidak ada lagi yang bisa ia ucapkan pada (Name). Dia sudah terlanjur membuatnya terluka.
Iris ungunya perlahan melirik DG yang masih memeluk tubuhnya erat.
"Kenapa sekarang kau berpura-pura perduli? Kata maaf mu tidak akan memperbaiki apapun."
(Name) melirik dua orang lain yang masih berada di ruangan yang sama. Mereka masih diam tak berkutik.
"Aku tidak butuh tatapan penyesalan kalian." Lalu, pandangannya kembali kearah DG.
"Toh, kehilangan ku bukan masalah besar bagi kalian. Seperti yang sudah pernah kalian lakukan dahulu, kan?"
Tbc
❣️Buabye
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐢𝐫𝐢𝐝𝐞𝐬𝐜𝐞𝐧𝐭 || ʟᴏᴏᴋɪꜱᴍ
Roman pour Adolescents"(Name) dimari, ada (Name) jangan lari" Kisah singkat tentang si gadis brutal yang hidup hanya dengan modal doa dan tekad Ketika diberi kesempatan baru untuk merubah alur hidupnya menjadi lebih baik, apakah dia sanggup melakukannya? Atau malah menje...
