Rapuh yang Basah

8 3 0
                                    

Tahun 1981 menjadi salah satu masa transisi dalam kehidupanku. Dengan begitu Akupun harus mengubah pola fikirku dan membuat masa depanku seperti apa yang telah Aku rencakan. Semoga saja dengan usaha semaksimal mungkin Aku dapat menambahkan sedikitnya satu warna kehidupan yang sedikit cerah untuk keluargaku.

Tahun tersebut adalah tahun Aku memasuki bangku sekolah tingkat SMP, yaitu Sekolah Menengah Pertama, Aku memasuki sekolah SMP 2 Tanjung Paku, Kota Madya Solok. Saat itu juga tidak terlupakan bagaimana kedua orang tuaku mencarikan uang untuk bagaimana Aku bisa malanjutkan sekolah. Terlebih juga Aku mempunyai 1 orang kaka dan 3 orang adik yang masih bersekolah juga.

Saat itu sekolah-sekolah masih swasta dan tidak seperti saat ini. beberapa sekolah di Indonesia mendapatkan bantuan dana yang membuat beberapa anak-anak beruntung bisa mengeyam pendidikan dengan gratis. Tapi tidak dengan dulu saat masa Aku bersekolah. Bahkan Aku hampir berfikir ingin cukup sekolah sampai lulus tingkatan SD saja. Bukan karena Aku tidak ingin bersekolah tinggi. Jika ada orang yang bertanya kepada tentang ingin sampai tingkat apa Aku mengenyam pendidikan. Tentu saja Aku akan menjawab setinggi langit sampai langit ke tujuh. Tapi apalah daya tangan tak sampai untuk menggapai langit.

Aku pun sempat berbincang kepada Ayah dan Ibuku perihal yang Aku fikirkan.

Kala itu di depan teras rumah dengan dengungan nyamuk malam, Ayah dan Ibuku dengan perasaan senangnya dan sekaligus di campur rasa cemas. Cemas karena takut mereka berdua tidak bisa membiayai sekolahku. Mereka memang tidak bertanya langsung akan hal itu kepadaku. Tapi dengan jelas Aku bisa melihat kerutan di wajah mereka.

Dengan kepala tertuntunduk Aku pun menghampiri mereka. "Ayah, bagaimana sekolahku?, apa Aku akan melanjutkan tingkatan sekolahku?."

Ayah pun menjawab dengan sedikit titian air mata di pipinya."kenapa kamu ngomong begitu?, tentu saja kamu akan melanjutkan sekolahmu. Dan pokoknya jangan sampai ada anak Ayah yang sekolahnya rendah, semua harus tinggi sampai S3, bahkan jikalau nanti di masa depan ada S4, lanjut S4, hahahaha~". Sembari Ayah mengusap dan memainkan rambutku yang kala itu Aku sembari tertunduk kaku.

Kala itu Aku langsung menuju kamar tidurku dan menangis. Aku tidak tau menangis atas dasar dan landasan apa. Sedih?, bagaimana Aku bisa sedih sedangkan Aku akan tetap sekolah. Senang?, bagaimana Aku bisa senang sepenuh melihat Ayah yang berpura-pura tertawa untuk menutupi beban berat yang di pikulnya.

Aku pun berfikir, jikalau memang Aku bisa memilih di keluarga dengan perekonomian seperti apa Aku di lahirkan. Maka Aku akan tetapi memilih terlahir di keluarga seperti saat itu dan tetap menjadi anak Ayahku saat itu. Suatu saat akan Aku balas titihan air mata yang membasahi pipi keriputmu Ayah, Aku berjanji. Dan tanpa sadar pun Aku tertidur karena terhanyut dalam tangisan yang entah tangisan Senang, atau Sedih.

Ke esokan harinya saat Aku terbangun, hari pun sangat cerah, seolah untuk menghibur dan menggantikan tangisanku semalam. Dan terdengar suara teriakan Ibu yang juga memanggilku untuk sarapan. Saat itu Aku pun langsung bergegas ke arah menuju meja makan yang bertempatkan di ruang tamu rumahku.

"Gibran, makan yang banyak yaa, biar kuat, biar bisa bantuin Ibu dagang terus". Ucapan Ibu dengan senyuman bidadarinya sembari mengambil sesendok nasi ke dalam piringku.

dengan keadaan masih belum mandi dan wajah yang masih lesuh karena saat itu Aku baru benar-benar baru bangun dan beranjak dari tempat tidurku. "baikkk bu, pasti Gibran bakal tumbuh besar, dan kuat untuk bantuin Ibu dagang di pasar dengan semangat!"

Dan Ibuku pun tidak banyak berbicara karena mendengar jawabanku. "emang anak laki ibu yang satu-satunya ini pinter banget. Nahh abis itu kamu bangunin tuh Kakak dan Adik-adik kamu, buat bantuin Ayah urusin tanaman di kebun rumah".

Aku pun hanya tersenyum lebar dan siap untuk melaksanakan apapun perintah dari Ibu. Karena memang hal itulah yang hanya bisa Aku lakukan sekarang dengan tubuh kecilku saat itu.

Hanya dalam beberapa menit pun Aku sudah menghabiskan makananku. Dan seperti apa yang telah Ibu perintahkan, setelah Aku selesai makan, Aku di perintahkan Ibu untuk membangunkan Kakak dan Adik-Adikku untuk sarapan dan segera membantu Ayah untuk mengurusi kebun. Dan Aku pun beranjak ke kamar Kakak dan Adik-adikku sembari membawa mangkuk berbahan besi dan setangkai sendok untuk membangunkan mereka dengan lebih mudah.

"Treng tengg teng, Treng teng teng!!, Banguuunnn, udah siaaaangg!!!, Ayah butuh bantuan untuk urus kebuuunnn, Banguuuuuunn!!". semakin kencang Aku memukulkan sendok ke mangkuk besi agar Kakak dan Adik-adikku cepat bangun pula.

"Ibuuuuuu.. Bang Gibran suruh diam, berisik banget!!!." ketiga Adik-adikku berteriak sembari menutupi kepalanya dengan bantal, karena Aku juga membuka hordeng jendela agar sinar matahari menyilakukan mereka.

Dan secara tiba-tiba dengan keadaan Aku tidak sadar,

"Tooookk,... bangunin orang bagus!, tapi pake cara yang wajar!". ternyata Kakaku yang sudah memegang sapu dari arah belakangku.

Ayah, Ibu, dan Adik-adikku pun tertawa karena kepalaku di pukul oleh Kakakku sebab ulahku yang membuatnya jengkel.

Dan mereka pun langsung bergegas sarapan lalu membantu Ayah berkebun.

Keluargaku memang bukanlah keluarga yang kaya raya. Keluargaku hanya keluarga sederhana. Tidak seperti keluarga lain yang bisa tertawa bahagia dengan harus terlebih dahulu mengeluarkan uang untuk liburan pergi ketempat wisata. Tapi tidak dengan keluargaku, yang mempunyai cara tersendiri untuk menggambarkan senyuman dan menyuarakan tawa kami.

Jika tidak ada Uang untuk membeli tawa, tapi setidaknya ada rasa syukur untuk membayar kehidupan.

Kenyang sudah dan cukup sakit kepalaku karena sarapan saja. Sang surya pun semakin tegak di atas kepala dan semakin gagah pula memancarkan sinarnya. Yaitu, menjadi sebuah petanda Aku dan Ibu untuk menuju pasar untuk berdagang. Ibu pun sudah siap dengan sebagian pekerjaan Rumah dan sisanya tinggalah bagian Ayah, Kakak, dan Adik-adikku. Yaitu menyapu halaman rumah depan teras dan membereskan tanaman dikebun Rumah.

Saat Aku dan Ibuku ingin berjalan menuju pasar pun, terlihat sedikit momen romantis yang sangat membuat hatiku bahagia sekaligus semakin semangat menjalani kehidupan yang fana ini. Terlihat momen dimana Ibuku berpamitan kepada Ayahku untuk berdagang di pasar.

"Ayahh... Ibu sama Gibran pergi ke pasar ya." Sembari mengangkat sisa keranjang yang tidak bisa Aku bawa, karena memang Aku sudah membawa dua kantung besar.

Saat itu Ibu mengira Ayah menanggapi pamitan Ibu hanya bersuara dari kebun Rumah. Tapi ternyata Ayah datang dan menghampiri Ibu. Saat itu Ibu pun mencium tangan Ayah dan Ayah pun mencium kening Ibu dengan sangat mesra. dan tanpa mereka berdua sadari, saat itu kelima anak-anaknya menyaksikan hal tersebut dan kami pun berkata, "Cieeeeee, kaya zaman pacaran dulu aja romantisnya".

Dengan muka yang tampak jelas sedikit kemerahan Ibu pun berkata, "Apasiiiii kalian, masih kecil-kecil udah ngerti hal-hal romantis.

Dengan kompak pun Aku, Kakak, dan Adik-adikku menjawab, "Biariiiinnn, tapi seneng liatnya". Sembari meledeki Ayah dan Ibuku.

"udah ahh, gajalan-jalan nih Ibu". Sembari tersisa sedikit senyuman merah dari wajah Bidadariku yang sangat cantik itu."

Aku dan Ibu pun bergegas pergi ke pasar untuk berdagang dan tidak terlupa juga mengucapkan "Assalamualaikum".

Hikayat si PerantauTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang