Pada tahun 1992, Aku pun menikah dengan seorang perempuan yang bisa mengerti dengan jalan hidup yang telah Aku pilih. Perempuan itu menerimaku apa adanya dengan kelembutan hatinya. seorang perempuan kelahiran dari Tanah Jawa Barat, Cirebon. Pertemuan singkat yang hanya beberapa kali saja Aku mengajaknya makan malam. Dan karena memang umurku yang tidak lagi muda, dan karena kelembutan hati dan perlakuannya padaku di tengah keras nya kota Jakarta, Aku pun melanjutkan ke jenjang hubungan yang lebih serius dengannya.
Karena memang, tidak ada lagi yang Aku butuhkan di Jakarta dengan kehidupan keras, dan kejam di dalamnya. Siapa yang kuat, ialah yang menang adalah suatu prinsip tepat dan pantas untuk di tegakkan bagi setiap orang yang menapakkan kakinya di kota Jakarta. Apalagi yang kucari kala itu?, Uang?, martabat? Aku sudah memenangi hal itu dan berhasil mencapai puncak kejayaan dalam hidupku dan menjadi ancaman untuk orang lain.
Dan kebutuhan yang tersisa adalah kelembutan hati untuk melunakkan hatiku yang keras ini. Selayaknya air yang mengikis batu dengan kelembutan tanpa merusak bentuk alamnya.
Aku menikah dengan Hilda dan di tahun pertama setelah itu, lagi-lagi takdir Tuhan memihak kepadaku. Aku langsung di karuniai anak perempuan yang mewarisi kecantikan dan kelembutan Ibunya. Seperti sifatnya, anak adalah pembawa rezeki pada keluarga kecilku kala itu. Selain karena kerja kerasku yang mungkin baik mengatur usaha, Aku yakin karena kelahiran anak pertamaku juga, yang membuat Aku bisa menambah satu lagi usaha konveksiku."Hilda juga di ibaratkan air mengalir, yang membuat pohon rezekiku semakin tinggi, besar, dan banyak buahnya."Kesuksesanku semakin memuncak semakin tahun.
Dan rumah tanggaku pun semakin ramai dengan di ikuti anak-anakku yang semakin bertambah. Bertambahnya anakku, selain membuar rezekiku lebih banyak, mereka juga membuat suasana rumah semakin sepi. Karena hal itu, Aku pun sampai meminta Ayah, Ibu, Kakak, dan Adik-adikku untuk datang ke Jakarta dan tinggal dirumahku. Karena, terlalu besar rumahku untuk hanya di isi oleh Aku, Istriku, 5 orang anak-anakku.dan 3 orang assisten rumah tangga.
Tapi, Ayah dan Ibu tidak mau lantaran mereka sudah sangat nyaman dan tenang dengan suasana desa. Dan karena hal itulah, Aku merenovasi rumahku yang sudah banyak retakan di dindingnya. Aku juga meminta Ibu untuk tidak lagi berdagang kepasar, karena akan Aku tanggung semua kebutuhan hidup keluargaku di desa. Bukan karena Aku sombong atau tidak tapi, mengingat kondisi Ibu yang semakin hari menua dan staminanya pun tidak sekuat dulu. Karena untuk siapa Aku sukses jikalau bukan untuk keluargaku. Seperti apa yang dipandang oleh orang-orang di desaku dulu, dan sekarang, mereka tidak bisa lagi mengejek keluargaku, terutama Ayah dan Ibu.
Aku sudah sangat kaya dan jaya sekali kehidupanku kala itu. Tapi, karena Aku melupakan semua nasehat Ibu padaku. Aku menjadi salah arah semakin hari di tiap hembusan nafasku. Jikalau dulu di masa mudaku dulu Aku hanya bekerja keras pagi siang malam, maka di masa setelah menikah Aku ingin merasakan kesenangan yang dulu telah banyak kulewati.
Aku mulai berkenalan dengan teman-temanku di Jakarta yang memakai dan menjual narkoba. Aku terjun kedunia perjudian yang membuatku semakin sangat salah arah. Dan tentu saja perlakuanku itu semua, tanpa sepengetahuan istri dan anak-anakku. Aku melupakan bagaimana caranya bersyukur sampai-sampai Aku pun juga turut menjual narkoba dalam partai besar.
"Untuk apa Aku berjualan narkoba? Padahal uangku sudah banyak dari hasil tiga konveksiku kala itu. Tapi, kalau Aku berjualan narkoba, Aku tidak perlu repot-repot membelinya, karena Aku yang mempunyai gerbong. Lagi pula, orang-orang pun tidak akan ada yang mencurigai apabila Aku semakin kaya dengan berjualan narkoba. Pasti orang-orang berfikir wajar karena, Aku mempunyai bisnis konveksi yang besar dan banyak."Fikirku dengan sangat sempit kala itu.
Namun, walaupun dengan begitu, Aku tidak pernah ada terfikir untuk bermain perempuan.
"Karena menurutku, Bunga indah yang tumbuh itu untuk dipetik, dimiliki, dan di jaga seutuhnya. Dan bukan untuk dipermainkan."
Ditambah lagi Aku pun juga mempunyai dua orang anak perempuan."Bagaimana kalau saat itu Aku memainkan perempuan, dan karma dari Tuhan akan jatuh menimpa anakku?."pungkas fikirku kala itu.
Bisnis konveksi dan bisnis gelap narkobaku pun aman terkendali, dan berjalan dengan lancar. Mempunyai pemasukan uang yang sangat banyak sampai-sampai, bisa untuk membuatku mandi uang. Bahkan jika dibandingkan, tiga bisnis konveksiku dengan bisnis gelap yang Aku jalani, maka lebih banyak uang yang Aku dapatkan dari bisnis gelapku. Dan karena hal itu, Aku semakin nyaman dan semakin memperluas jaringan bisnis gelapku.
Jika sebelumnya Aku hanya bermain dalam ruang lingkus kota Jakarta, karena sukses juga di ranah bisnis gelap itu, Aku memberanikan diri menggaungkan nama sampai keluar kota atau bahkan sampai luar pulau Jawa kala itu. Dan benar saja, karena keberanianku itu, semakin uang yang ku punya tidak lagi memiliki nomor seri uang. Memang benar,
"Dunia sangat mudah untuk orang-orang pemberani, dalam hal apapun itu."
Dan karena bisnis gelap yang ku jalani itu berjalan dengan baik dan penghasilannya bagai menggunakan mesin pencetak uang, Aku sampai kurang memberikan perhatian pada bisnis konveksiku yang sebenarnya itulah, bisnis yang halal untuk di jalankan. Baru saja 3 tahun Aku menambahkan konveksiku dengan total menjadi 3 konveksi yang kumiliki, Aku pun kembali dengan terpaksa harus menjualnya. Itu bisa terjadi karena perhatianku yang hampir tidak mengurusi bisnis konveksiku.
Sebenarnya bisa saja tidak perlu Aku menjual konveksiku, karena Aku bisa menambahkan pasokan bahan baku dengan uang hasil dari bisnis gelapku. Tapi Aku berfikir,
"kalau Aku tidak menjual konveksiku salah satu, namun pasokan bahan baku tetap bisa dibeli, maka pasti terutama istriku pasti akan merasa curiga."Masih dengan fikiran sempitku.
Karena pemikiran seperti itu, Akhirnya kurelakan untuk menjual koveksiku, tanpa harus memaksakan otakku untuk berfikir rumit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hikayat si Perantau
No FicciónBerkisahkan seorang pemuda desa yang bertanya-bertanya tentang apa itu arti dari menjalani kehidupan. Seorang pemuda yang sedari dulu memiliki kehidupan dari keluarga yang sederhana dan keluarga yang selalu diremeh-temehkan. Karena hal tersebut, ter...
