Do'a Ibu

5 3 0
                                    

Tidak terasa mobil yang di kendarai oleh Pak Zain telah tiba di tempat yang dimana banyak sekali angkutan umum berbaris. Tapi tempat itu bukanlah sebuah terminal melainkan, sebuah pasar di salah satu daerah Jakarta yang sekarang kita kenal dengan nama Block A, daerah Tanah Abang. Pak Zein pun mencari tempat yang setidaknya bisa memberhentikan mobilnya sebentar untuk menurunkanku.

Setelah melihat tempat yang setikdanya bisa untuk menurunkanku tanpa menganggu pengguna jalan lain atau membuat macet, Pak Zein pun memberhentikan mobilnya.

Aku pun sempat terheran-heran mengapa Pak Zain sampai memperhentikan dan mematikan mesin mobilnya. Padahal Pak Zain hanya cukup berhenti dan Aku pun langsung turun dari mobil tersebut. Tidak sampai 1 menit untuk Aku turun dari mobil tersebut pada saat itu. Aku pun tidak bertanya karena Aku menerima saja apapun yang pak Zain lakukan.

Saat Aku turun, dan pak Zain pun ternyata juga ikut turun dan menghampiriku yang turun dari mobil dari arah samping mobil.

"Nak Gibran..."panggil namaku oleh pak Zain sembari mendekatiku di arah samping mobil.

"Iyaa pak ada apa?"sahutku atas panggilan pak Zain.

"Tunggu sebentar."(pak Zain pun merogoh saku celananya).

"Ini ada sedikit uang, hitung-hitung karena kamu telah membantu bapak mengangkat barang di pelabuhan tadi."Sembari mengulurkan tangannya yang memegang uang.

"Tidak usah pak. Saya Masih ada sisa Uang...,Dan rasanya masih cukup untuk saya menuju Alamat yang ingin saya tuju. Bapak juga sudah menghantar-kan saya sampai sini, saya sudah merasa terbantu sekali oleh bapak."Menolak dengan kedua tanganku yang sedikit mempunyai rasa apakah pantas untuk menolak pemberian orang lain yang mempunyai niat baik pada kita.

"Tidak apa nak Gibran, saya ikhlas. Saya suka dengan semangat anak muda seperti nak Gibran. Hayoo..., Ambil ini. Tidak baik lho menola pemberian orang lain."Sembari memegangi pundakku.

"Aduhh saya merasa merepotkan bapak sekali ini sepertinya."Menggaruk-garukan kepalaku sendiri.

"Sudahhh ambil saja."menaruh dengan paksa uang tersebut di tanganku dan menutupi uang tersebut dengan lipatan jariku.

Aku pun tidak bisa berkata-kata selain mengucapkan terimakasih yang sangat tulus dengan kepalaku yang tertunduk di hadapan pak Zain.

Pak Zain pun langsung memasuki mobilnya kembali dan berkata dari dalam mobil yang terlihat olehku dari kaca mobil yang terbuka.

"Hati-hati nak.... Semoga kamu jadi orang sukses."Teriak Pak Gibran dari dalam mobil.

"Terimakasih banyak pak...!!!. Semoga kita bertemu lagi pak!!!"Teriakku kembali di tengah kerama-an pasar agar Pak Zain mendengar perkataanku juga.

Aku tidak tahu dan Aku tidak mengingat perbuatan baik apa yang pernah Aku perbuat sebelumnya kepada orang lain. Perbuatan baik yang membuat Aku sampai di pertemukan oleh Allah dengan orang sebaik Pak Zain. Tidak bisa Aku bayangkan apabila Aku tidak bertemu dengan Pak Zain.

Tapi Aku mulai berfikir, selalu ada rencana tuhan di balik kepingan kejadian-kejadian kecil. Aku teringat mengapa Aku tidak membeli makanan saat Aku berada di atas kapal. Yang padahal, Aku mampu untuk membelinya dan Aku pun juga sangat lapar. Tapi mungkin Allah membuat Aku untuk berfikir bahwa Aku harus mengirit uangku, menahan rasa laparku untuk sampai makan di pelabuhan. Dan pada akhirnya Aku bertemu dengan seorang bapak yang sangat baik hati.

Seorang bapak yang Aku tidak mengenal siapa dia dan dari mana asalnya. Tapi saat Aku berbincang dengannya, Aku merasa mendapatkan kenyaman sama seperti Aku berbincang dengan orang tuaku sendiri. Kebaikan yang juga seperti saudaraku. Dan rasa kagum seperti teman-temanku. Aku tidak pernah melupakan sosok Pak Zain.

Dan tentunya, perasaan bersyukur yang semakin bertambah kepada Allah sang maha penolong dan maha pemberi jalan keluar bagi setiap masalah yang di hadapi oleh hambanya yang sedang dalam kesulitan.

Setelah tidak lama Pak Zain pergi, Aku pun langsung mengeluarkan kertas yang bertulis-kan alamat teman Ibuku yang mungkin saja bisa membantuku selama perantauan. Aku pun lupa menanyakan lebih jelasnya hal tersebut kepada Pak Zain saat di mobil. Karena pasti Pak Zain mengetahui alamat tersebut, walaupun benar-benar tepat. Tapi setidaknya, sudah memasuki daerah dari Alamat tersebut.

Aku pun menanyakannya kepada tukang Ojek pangkalan yang ada di sekitar pasar. Mungkin saja tukang Ojek mengetahui alamat yang ini Aku tuju. Karena, Pak Zain berkata akan menghantarkanku yang jaraknya tidak perlu manaiki bus dan membuang ongkos mahal untuk ke alamat yang ingin Aku tuju itu.

"Mas.... maaf menggangu, saya mau tanya sesuatu boleh?." tanyaku pada salah seorang tukang Ojek yang sedang duduk santai di tempat yang sepertinya untuk menunggu penumpang.

"Iyaa boleh mas, mau tanya apa?"Jawab tukang Ojek dengan baik.

"Kalau alamat ini mas tahu dimana?"Sembari Aku menunjukan kertas yang di tuliskan oleh Ibuku.

Tukang Ojek tersebut pun membaca alamat yang Aku tunjukan padanya."Oalah.... kalau ini saya tau mas. Tidak terlalu jauh dari sini. Kalau mas mau saya bisa antar mas, tapi bayar ya mas."

Aku pun senang karena tukang Ojek tersebut mengetahui alamat tersebut dan bisa menghantar-kan Aku pada alamat yang Aku tunjukan padanya. Tapi Aku sedikit berfikir atas perkataan Tukang Ojek tersebut. Mengapa dia sampai menegaskanku untuk membayar apabila Aku ingin di antar olehnya.

Karena Aku rasa tidak perlu tukang Ojek tersebut memberitahukannya, Aku pasti akan membayar ongkos apabila ia menghantarkanku menuju alamat tersebut. Tapi sepertinya Aku mulai mengerti betapa sulitnya mencari dan bergunanya Uang. Sampai-sampai tukang Ojek tersebut mengingatkanku untuk membayar jasanya. Padahal, Aku seniripun yakin bahwa apabila ia menghantarkanku, maka Aku akan membayar ongkos sesuai tarifnya. Entahlah, Aku acuhkan saja perkataan tukang Ojek tersebut.

"Kalau gitu antar saya ya mas ke alamat ini, Nanti saya pasti bayar ongkosnya."Dengan penegasan pula bahwa Aku akan membayar jasanya.

Tukang Ojek tersebut memberikan Aku helm sebelum Aku menaiki motornya.

Aku pun berjalan menuju tujuan utamaku dengan lancar walaupun sebelumnya Aku mengalami pikiran cemas tentang apakah kaki ini dapat melangkah lebih jauh lagi atau tidak. Tapi Aku selalu yakin bahwa Do'a Ibu, Usahaku, dan pertolongan Allah selalu meliputi tiap langkah kaki dan pergerakan raga ini, kemanapun, dan dimanapun selagi itu mempunyai niat kebaikan.

Hikayat si PerantauTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang