WARNINNG KONTEN +
MENGANDUNG ADEGAN DAN BAHASA DENGAN UNSUR 18+
YANG MERASA DI BAWAH UMUR JANGAN BACA.
BIJAK YA.
Aryana yang masuk dalam cerita buku yang baru saja dibacanya harus berperan sebagai Ariana Asteria Cronvess. Tokoh antogonis yang hidup...
Duke berlari dari ruangannya saat ia mendengar bahwa Ariana pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ariana yang segera dibaringkan dikasurnya membuat Duke bisa melihat lebih dekat, kini hanya menyisakan dirinya dan para dokter saja diruangan itu.
Ketakutan mulai menguasainya. Luka - luka dilengan dan bekas darah ditubuhnya, mengingatkannya pada saat Ariana jatuh ke sungai tempo hari. Entah mengapa ia terus membayangkan bahwa Ariana tidak akan membuka matanya lagi. Duke terus menyalahkan dirinya, ayah macam apa yang membiarkan anaknya selalu pulang dalam keadaan terluka seperti ini. Apa gunanya kekuasaan yang dimilikinya saat ini jika ia tidak bisa melindungi satu - satunya putrinya. Penyesalan dalam dirinya seakan meluap- meluap membuatnya semakin gelisah.
Dokter - dokter keluarganya langsung memeriksa kondisi vital Ariana. Memastikan bahwa nyawanya tidak dalam keadaan terancam. Setelah para dokter ini memastikan kondisi Ariana yang stabil, Duke Arnold baru bisa bernafas lega. Kecemasannya sudah sedikit mereda, ia juga masih ingin menunggu Ariana membuka matanya.
Tapi sesaat ia sadar, saat ini, ada hal yang lebih penting yang harus dilakukannya. Tak lama, duke melangkah keluar kamar dan menemukan para penjaga, pelayan pribadi Ariana dan keturunan Trafelion yang masih mengkhawatirkan kondisi Ariana.
Duke menghembuskan nafasnya berat. Kali ini kemarahan yang menyelimuti dirinya sedang susah payah ia tekan. Duke berusaha menjaga ketenangan dalam dirinya. Tapi wajah yang terlihat tegang memancarkan kemarahan yang tak terbendung.
"Lucas." Suara dingin Duke tepat saat pintu kama Ariana tertutup membuat seorang dengan pakaian keluarganya mendekat.
"Ya, Tuan Duke." Lucas adalah kepala pengawal yang duke perintahkan untuk mengawasi Ariana. Tapi Ariana yang menginginkan pengawalan hanya dilakukan saat ia keluar kastil yang dilakukan dengan tidak terlihat membuatnya harus sembunyi - sembunyi mengawal nona mudanya itu.
"Keruanganku sekarang! bawa juga dua keturunan Trafelion itu. Kali ini, tidak akan kulepaskan siapapun yang menyakiti anakku!" Suara penuh tekanan yang tertahan benar- benar menunjukkan bagaimana duke sangat murka saat ini.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BRAKK!
Duke menendang pintu besar Kekaisaran didahapannya. Tidak sulit baginya untuk datang dan membuat perhitungan dengannya. Kaisar Louis yang duduk di singgasananya itu terlihat terkejut dengan kedatangan duke yang tidak biasa.
"Apa yang membuatmu datang malam - malam begini tanpa ada kabar terlebih dulu duke?" Kaisar masih berbicara dengan wibawanya walaupun sebenarnya Kaisar cukup terkejut dengan kedatangan duke yang tiba - tiba. Apalagi ia mulai merasa terintimidasi dengan aura membunuh dan wajah duke yang sangat marah. Beberapa pengawalnya bahkan terlempar dengan mudah, membuat kaisar sedikit meringsut di singgasananya.
"Apakah aku harus mengingatkanmu siapa yang menempatkanmu di kursi itu?" Duke berjalan mendekat dengan langkah lebar dengan pedang yang ia genggam.
Sesekali pedang tajam itu ia gesekan dengan lantai dingin ruangan besar milik Kaisar ini, membuat suara nyaring seakan menggema. Sebelum berhenti tepat didahadapan singgasana kaisar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa maksudmu? Apa aku melakukan kesalahan?" Suaranya kaisar mulai gemetar. Kaisar tidak pernah melihatnya penuh kemarahan seperti ini kecuali dulu. Kemarahan duke adalah hal yang tidak pernah ia inginkan.
"Aku membuatmu duduk di kursi itu bukan untuk mengusik keluargaku. Atau kau sudah lupa jika kapan saja aku bisa menggantimu Louis!" duke mengarahkan pedangnya tepat pada wajah kaisar yang hanya berjarak beberapa centi dari wajah yang sekarang sudah berkeringat dingin itu.
"Ten-- tentu! Bagaimana mungkin aku lupa? Jika bukan bantuanmu, aku tidak akan bisa melawan kakakku bukan? Ja- jadi turunkan dulu pedangmu itu, kau harus memberitahuku dulu apa yang membuatmu berfikir aku sedang mengusikmu? Bukankah selama ini tidak pernah ada masalah diantara kita?" Kaisar mencoba untuk menenangkan duke, tapi sepertinya duke justru terlihat lebih marah padanya.
"Tanyakan pada anak perempuanmu! Apa yang dia lakukan pada putriku! Hey Louis--" Arnold melompat menuju kursi sambil menodongkan pisau dengan aura yang membuat kaisar merinding.
"Akulah yang membuatmu mendapat semua ini. Jadi, selesaikan semuanya malam ini sebelum aku yang melakukannya sendiri. Atau, kau ingin keluargamu berakhir seperti kaisar terdahulu?" Suara gemelatuk yang keluar dari mulut duke menunjukkan emosinya yang ingin menghabisi kaisar dihadapannya ini. Tapi ia menahannya, melompat, berbalik pergi dengan para kesatria keluarganya dan para kesatria kekaisaran yang menunduk saat Arnold melewati semuanya.
Kaisar masih tertegun karena semua perkataan dan tindakan duke yang menyeramkan. Udara seakan menghilang disekitarnya. Wajah piasnya menunjukkan ketakutan yang tidak bisa terbayangkan siapapun.
"Apa yang terjadi barusan??!" Kaisar menghirup banyak udara disekitarnya untuk mengisi paru - parunya yang kosong. Entah sejak kapan dia menahan napasnya. Keringat dingin masih terus dirasakannya padahal duke sudah tidak terlihat.
Kaisar seperti melihat iblis yang meminta nyawanya. Dewa kematian sudah pasti menjemputnya jika pedang itu mengenai wajahnya. Julukan ahli perang dengan sihir petarung yang luar biasa memang pantas dimilikinya. Saat pedang itu tepat dihadapan kaisar, ia bisa merasakan jiwanya terpisah dengan tubuhnya. Tubuhnya bergidik ngeri mengingat kejadian yang sepeti mimpi itu. Bagaimana bisa dia sangat menyeramkan.
Walaupun dia adalah kaisar tapi ia tidak memiliki kemampuan sihir apapun. Duke adalah orang yang membantunya menjadi raja belasan tahu lalu. Sejak saat itu juga duke adalah tangan kanan setianya. Sekarang siapa orang yang berani merusak hubungan kaisar dan duke setelah belasan tahun ini?.
"SIAPA YANG BERANI MENYENTUH KELUARGA DUKE?!" Kaisar berteriak sangat keras sehingga menggema di seluruh ruangan.
"Kaisar," Penasehat istana yang selalu berdiri disamping kaisar ini mulai bersuara.
"Sepertinya Tuan Puteri Cecilia siang tadi mengunjungi salon milik Lady Ariana dan Lady Elisabeth." Kaisar yang mendengar perkataan itu langsung mengerti dan menatap marah pada penasihat istana itu.
"DASAR ANAK BODOH ITU! BAGAIMANA BISA DIA KUBIARKAN KELUAR ISTANA SEKALI DAN LANGSUNG MENGUSIK ORANG LAIN? APALAGI PUTRI DUKE? PANGGIL ANAK ITU SEKARANG!!"
***
Bersambung...
Haiiii, makasih banget buat comment - commentnya di part kemarin. Terharu banget bacanya, sampe aku baca berulang - ulang. Iya kata - kata itu bantu banget buat aku. Makasih ya, semoga kalian juga menikmati karyaku sama kaya aku yang dapet banyak energi positif dari kalian.