Pukul 06.45 pagi Anna Harley mulai memasuki Taman Kanak-kanak Dream White, tempat Anna mengais rejeki 2 tahun terakhir. Sekolah ini berada di wilayah Nepean, sedangkan tempat tinggalnya berada di Dunrobin sehingga membuat gadis berambut hitam panjang itu harus berangkat kerja dipagi buta karena jaraknya yang cukup jauh dan juga untuk menghindari terjebak kemacetan.
Ingin pindah ke Nepean pun hatinya terasa berat karena Anna sendiri telah menghabiskan waktu yang cukup lama di rumah tersebut. Sebenarnya yayasan tempatnya bekerja menawarkan mess bagi guru yang direkrut dari luar wilayah Ottawa namun karena Anna bukan perantau sehingga ia tidak bisa mengajukan permohonan ijin pakai mess.
Sempat dicoba oleh Sandra sang sahabat namun justru Sandra terkena teguran karena mencoba melobi pihak yayasan yang terkenal dengan aturan ketatnya.
Sepintas tentang Yayasan Pendidikan Dream White
Yayasan ini menaungi beberapa sekolah yang terdiri dari 1 Taman Kanak-kanak, 1 Sekolah Dasar, 1 Sekolah Menengah Pertama dan 1 Sekolah Menengah Atas serta 1 Sekolah Khusus.
Yayasan ini juga sedang dalam proses pembangunan sebuah universitas. Pendiri dan penyokong dana utama adalah perusahaan Montana Group. Yayasan ini dibangun dengan tujuan agar lulusannya nanti bisa terserap ke seluruh anak perusahaan Montana Group, sekaligus perusahaan juga nantinya tidak kesulitan mencari calon-calon karyawan.
Program ini tentunya mendapat dukungan penuh dari pihak pemerintah dalam hal ini Pemerintah Kota Ottawa karena dapat mengurangi angka pengangguran di kota tersebut. Ini juga salah satu alasan perusahaan yang berada dibawah pimpinan Alvares Montana sangat kokoh dan sulit dijatuhkan oleh pihak pesaingnya.
Sekolah – sekolah ini juga merupakan sekolah favorit karena dilengkapi dengan fasilitas yang sangat memadai, sehingga setiap tahun ajaran baru mereka sedikit kelimpungan karena calon peserta didik yang mendaftar selalu melebihi target yang diinginkan.
Jarum jam menunjuk angka 09.20 saat seorang pegawai di TK Dream White memasuki kelas Mawar 1 tempat Anna sedang mengajar saat ini.
"Permisi ibu Anna. Ibu kepala sedang mencari ibu di ruangannya." Interupsi tersebut membuat Anna kebingungan, "Ada perlu apa ya Pak kira-kira?" Anna sedikit berat meninggalkan anak didiknya sendiri di kelas. "Kalau itu saya kurang tahu bu. Dimohon secepatnya ya bu Anna."
Setelah berpamitan pada muridnya untuk keluar sebentar, Anna mulai mengayunkan langkahnya menuju ruangan pimpinan yang sedang mencarinya.
Tok!Tok!Tok!
'Ceklek'
"Selamat pagi bu Vanessa."
Ibu Vanessa langsung beranjak dari sofa kemudian menghampiri Anna yang masih berdiri didekat ambang pintu.
"Pagi Nak. Maaf ganggu kamu lagi mengajar. Ada yang ingin bertemu denganmu, ayo temuilah." Wanita paruh baya itu perlahan membawa Anna menuju sofa yang ia tempati tadi lalu segera keluar dari ruangannya sendiri dengan menutup pintu dengan perlahan. Hal itu tidak luput dari pandangan Anna. Raut wajahnya sekarang benar-benar terlihat kebingungan. Kenapa ibu kepala justru keluar ruangan? Siapa orang ini? Ada urusan apa?
Berbagai macam pertanyaan mulai memenuhi kepalanya, terlebih saat bola matanya memandang punggung seorang pria tinggi yang kini tengah membelakanginya untuk melihat beberapa foto yang dipajang di ruangan tersebut. Seketika dia teringat akan panggilan telepon aneh tadi malam. Apa yang menghubunginya semalam adalah pria ini?
"Selamat pagi Pak, ada perlu apa dengan saya yah Pak?" Setelah kurang lebih 5 menit dalam keheningan, Anna mencoba untuk berbicara.
Biar bagaimanapun dia tidak boleh membuang waktu terlalu lama karena saat ini kelas tempat dia mengajar sedang kosong. Dia tidak boleh lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik.
KAMU SEDANG MEMBACA
THAT GUY
AksiKesalahan informasi yang diterima Ares membuat ia melakukan kesalahan besar yang tidak akan pernah ia sesali seumur hidupnya. Alvares Montana, pria dengan perangai tenang yang tidak suka mengusik orang lain. Namun jika ada yang mengusik hidupnya mak...
