27. Service and Secrets

9.6K 356 6
                                        

Ethan sedari tari terus berkutat pada penampilannya di depan cermin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ethan sedari tari terus berkutat pada penampilannya di depan cermin. Pagi ini dirinya bangun lebih awal dan semangat seolah tidak sabar untuk pergi ke tempat yang akan didatanginya bersama sang ayah. Bahkan, semalam dirinya sulit tidur karena terus memikirkan Olivia yang sebentar lagi akan ditemuinya. Ia juga memikirkan bagaimana dirinya harus bersikap karena sejujurnya ia masih ingin berinteraksi secara normal dengan perempuan itu walau mereka saling menghindar akhir-akhir ini.

Tok tok tok!

Sebuah ketukan pintu kembali terdengar disusul dengan suara pelayan untuk kedua kalinya yang mengingatkannya untuk sarapan karena sedari tadi dirinya terlalu sibuk dengan penampilan seolah ingin terlihat tampan di hadapan Olivia nanti.

"Aku akan segera turun," balasnya kemudian tak lama keluar dari kamar.

Ketika sudah sampai di ruang makan, ia sudah menemukan keluarganya berkumpul menunggu dirinya untuk bergabung. "Ekhem! Selamat pagi. Maaf, kalian menunggu lama."

"Pagi juga, Ethan. Jangan dibiasakan kau terlambat untuk sarapan," tegur Allen yang hanya dibalas Ethan dengan gumaman tak sopan. Ia segera menghampiri kursinya, dan mulai memakan sarapannya ketika sang ayah sudah memulai suapan pertama.

Hanya terdengar dentingan alat makan di meja itu, suasananya begitu sunyi sehingga suara senandung tanda bahagia darinya bisa terdengar oleh seseorang yang duduk di dekatnya—yaitu Allen dan Erick.

"Ada apa dengannya?" tanya Erick entah pada siapa, namun sang ayah yang paham pun menjawab hingga membuat Erick tersedak makanan.

"Ingin bertemu dengan Olivia."

Uhuk! Uhuk!

Sambil batuk karena tersedak, Erick terlihat menunjuk-nunjuk ayahnya sambil bergumam tidak jelas.

"Benar! Yang itu!"

Erick baru mengingat nama perempuan yang pernah ditemuinya di pusat perbelanjaan.

"Erick," tegur Ethan agar adiknya itu tidak berbicara kelewat batas.

"Ada apa, Erick?" tanya Emma dengan binar di matanya.

"Tidak baik makan sambil berbicara," tegur Ethan lagi. Ia melirik ibunya untuk meminta bantuan menghentikan tingkah adik-adiknya.

"Benar. Lihat, kau juga tersedak, 'kan?" Zoya memberikan segelas air pada Erick yang masih terbatuk-batuk.

"Ethan, kau akan menemani ayah bermain tenis?" tanya Emma karena kakak dan ayahnya itu menggunakan seragam tenis.

"Tumben. Biasanya kau tidak mau bertemu dengan teman-teman Ayah. Apa sekarang kau merasa sudah tua?" celetuk Erick membuat Ethan berdecak kesal.

"Kami akan bermain tenis bersama Olivia," celetuk Allen membuat Ethan hanya mampu tepuk jidat. Padahal ini adalah acara ayahnya dan teman-temannya.

ScandalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang