— April 02, 1824
Duchess mengirim Nona Edith untuk membantu pekerjaanku.
Aku tidak berekspektasi tinggi, tapi memang benar, aku agak kewalahan sejak kaburnya Si bodoh itu.
Aku cuma berharap Nona Edith cukup pintar sehingga tidak mencampur aduk tanggal, namun tidak kusangka, ternyata dia bisa menyusun kwintasi dengan rapi dan teliti.
Dia bahkan terkesan lihai, seolah sudah terbiasa melakukan pekerjaan itu.
Kupikir ke depannya tidak ada lagi yang bisa kuharapkan darinya, namun di sore hari, tuan muda Cliff memanggilku dan bertanya soal Nona Edith.
Aku menjawab dengan jujur, tapi kurasa jawabanku bukanlah jawaban yang ingin dia dengar.
— Mei 20, 1824
Nona Edith yang selalu tekun, entah mengapa akhir-akhir ini tampak gelisah dan gugup.
Aku bertanya ada masalah apa, dan dia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya seraya meminta pendapatku.
Awalnya, kukira benda itu semacam kain perca, tapi setelah kuperhatikan dengan lebih teliti, aku sadar rupanya itu sebuah saputangan bersulam.
Ternyata, saputangan itu hendak dijual di pameran Count Ermenia nanti.
Aku memberitahunya dengan jujur bahwa saputangan itu terlihat agak compang-camping dan sulamannya tidak rapi, namun desainnya masih bisa dikenali.
Menurutku ucapanku termasuk pujian, tetapi ekspresi Nona Edith seolah-olah melihat langit telah runtuh.
Aku tidak tahu harus berkomentar apa sehingga akan terdengar seperti pujian untuk sulaman perempuan.
— Juni 18, 1824
Kemarin lalu keluarga Rigelhoff mengirim seorang dayang untuk melayani Nona Edith, namun Nona tidak terlihat senang. Dia bahkan tampak agak sakit, dan hari ini tiba-tiba dia menikmati camilan, padahal biasanya dia tidak pernah begitu.
Dia menyisakan satu biskuit dan madeleine untukku, tapi dia terus memandanginya sembari meminum teh, aku pun jadi tidak tega dan menyuruhnya menghabiskan semuanya.
Dia terlihat seperti anak kecil ketika bertanya apa dia boleh memakannya.
Aku heran kenapa tiba-tiba dia menyukai camilan. Apa dia sedang mengandung?
— June 29, 1824
Aku kembali dari perjalanan bisnis dan suasana di mansion terasa aneh.
Sepertinya Nona Edith mencoba mencelakai Nona Lize, pertama-tama dengan meracuni diri sendiri lalu berusaha meracuni Nona Lize.
Menurutku cerita itu sulit dipercaya.
Orang tamak biasanya cukup kentara, dan di mataku Nona Edith tidak terlihat seperti itu.
Aku tidak ambil pusing dengan gosip yang tersebar di antara para pelayan sebab itu bukan urusanku.
Untuk sementara waktu Nona Edith dilarang keluar lagi, rasanya agak merepotkan saat bala bantuanku tidak datang.
— Juli 15, 1824
Larangan Nona Edith sudah berakhir.
Sepertinya insiden yang melibatkan dia sebagai tersangka sudah selesai dengan jelas, namun meski begitu para pelayan masih percaya kalau Nona Edith adalah pelakunya.
Aku tidak peduli jika memang dia yang melakukannya ataupun tidak.
Asalkan dia terus bekerja dengan baik, itu saja sudah cukup.
Tapi kemudian, seolah ada yang mengganggu hatinya, dia menangis.
Aku sedikit panik, tapi untunglah aku terpikir untuk memberikan saputangan. Dia pun segera menyeka air matanya dan kembali bekerja.
Sekali lagi, dia benar-benar ahli dalam melakukan perkerjaannya.
Andai saja dia putri dari rakyat biasa yang butuh uang, aku pasti akan memperkerjakannya sebagai karyawan tetap.
— Agustus 02, 1824
Hari ini, karena suatu alasan, Tuan muda Killian datang ke ruang kerjaku.
Ini pertama kalinya dia datang dan duduk di sini, tapi anehnya, dia mengaku pada Nona Edith kalau dia sudah sering kemari.
Aku hendak meluruskannya, mungkin dia salah ingat, tapi Tuan muda Killian menatapku dengan sangat tajam sehingga aku pun mengurungkan niatku.
Dengan maupun tanpa kehadiran Tuan muda Killian, Nona Edith tetap fokus dan cekatan. Dia adalah talenta yang kukagumi setiap kali aku melihatnya.
Tapi kemudian Tuan Killian melirik ke arah Nona Edith dan tiba-tiba bertanya apa aku ingin menambah karyawan.
Senang mendengarnya mengusulkan hal itu, tapi bukannya aku tidak pernah menambah karyawan sebelumnya, hanya saja belum sampai setengah tahun mereka sudah kabur.
Mengingat itu, Nona Edith sungguh sangat membantu.
Dia konsisten, cepat tanggap, cekatan, dan lebih pintar dibanding orang-orang yang pernah kutemui, kekurangannya hanya dia sering kali mendapat larangan keluar.
Jadi aku pun mengatakan kalau aku tidak butuh karyawan lagi karena bantuan Nona Edith sudah cukup, namun Tuan Killian malah memberiku tatapan sengit.
Mungkin Tuan Killian ingin menarik perhatian Nona Edith, tapi jika begitu, harusnya dia mengatakan sesuatu yang manis pada Nona Edith.
Kurasa Nona Edith tidak akan paham cara bicaranya yang berbelit-belit, apalagi ketika Nona Edith tengah fokus bekerja.
Kulihat masa depan mereka berdua tampak suram.
KAMU SEDANG MEMBACA
Isekai Yang Berbeda
RomanceSeorang pekerja kantoran biasa meninggal dibunuh kakaknya yang gila judi. Setelah meninggal dia bangun di dunia novel yang dibacanya kemarin, yaitu novel "Menolak Obsesimu". Awalnya dia senang karena dia mengira itu kompensasi yang sepadan atas kema...
