'Tunggu, apa maksudnya? Syarat apa yang sudah kupenuhi?'
Berhasil memenuhi syarat pertama adalah perkara lain, tapi kali ini juga membingungkan saat aku mendengar kalau syarat kedua pun telah kupenuhi.
'Apa syarat tahap kedua?' Tanyaku pada suara itu.
Suara yang seperti rekaman mesin itu menjawab, [Syarat pengecualian tahap kedua: Menolak Ajakan Killian Ludwig sebanyak sepuluh kali.]
'Apa?'
Syarat itu konyol sekali. Masih lebih masuk akal kekejaman pada syarat tahap pertama.
Faktanya, apabila aku tidak bertekad meluruskan kesalahpahaman Killian dan membuktikan bahwa aku bukan wanita mesum yang suka menempel padanya, aku tidak mungkin mampu memenuhi syarat pengecualian tahap kedua.
'Aku betulan jadi sapi yang menangkap tikus sambil berjalan mundur.'
Aku yakin dewa dunia ini sama terkejutnya dengan diriku sekarang.
Memikirkannya aku jadi geram. Aku menyeringai, tidak kuasa menahan senyum sarkastikku.
Usai mimpi yang hampa itu aku hanya melihat kegelapan, lalu perlahan kesadaranku terkumpul dan aku bisa merasakan kakiku.
Aku lemas, tubuhku terasa seperti jelly, tapi ada seseorang yang memelukku erat sehingga aku tetap utuh.
"Kau mimpi apa sampai tersenyum dalam tidurmu?" Terdengar suara yang rendah nan lirih.
Itu suara Killian, terdengar erotis sampai-sampai gendang telingaku bergetar.
Pasti aku berpindah dari mimpi di mana ada suara seperti penyiar berita ke mimpi yang normal. Suara Killian pun tadi berbisik padaku...
"Hmm... aku suka ini..." Aku sedikit membuka mata dan samar-samar melihat dada telanjang seorang pria. Mengingat tadi aku mendengar suara Killian, ini pasti dadanya.
Masih setengah mengantuk, aku menggesekkan wajahku ke dadanya. Walaupun ini mimpi, aku bisa merasakan panas tubuh serta otot-ototnya yang keras. Ini sungguh luar biasa.
'Ah... kalau begini, aku tidak akan menyesal meski mati sekarang... huh?'
Setelah beberapa saat membenamkan wajahku di dada Killian sembari menghirup aroma tubuhnya serta bertindak semauku, aku menyadari sesuatu yang ganjil.
'Aneh, mimpi seperti ini kok berlangsung lama ya...'
Merasa ada yang tidak beres, aku pun membuka mata dan berkedip keras, berusaha bangun.
Di hadapanku berbaring seorang pria, tulang dadanya terpampang jelas.
'Yah, di situlah tadi aku menggosokkan wajahku.'
Lima detik kemudian setelah kesadaran menghantamku, aku terlonjak duduk.
"Ah, Ki- Killian! Maaf!"
Gila! Itu bukan mimpi! Barusan aku benar-benar membenamkan wajah di dada telanjangnya.
Aku meminta maaf, tapi wajah tersenyum Killian mengeras.
"Kau menggesekkan wajahmu padaku tanpa tahu kalau itu aku?"
"Oh, bukan, bukan, bukan begitu, tadi kukira itu mimpi!"
"Mimpi? Apa kau yakin itu aku yang ada dalam mimpimu?"
"Iya. Kukira itu mimpi karena... kalau itu nyata, kau tidak mungkin diam saja."
Baru setelah aku berkata begitu alisnya berhenti mengernyit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Isekai Yang Berbeda
RomanceSeorang pekerja kantoran biasa meninggal dibunuh kakaknya yang gila judi. Setelah meninggal dia bangun di dunia novel yang dibacanya kemarin, yaitu novel "Menolak Obsesimu". Awalnya dia senang karena dia mengira itu kompensasi yang sepadan atas kema...
