Biasanya aku tidak membiarkan diriku larut dalam depresi.
Ini kebiasaan yang kumiliki sejak kelas dua SMP, saat itu aku sadar apabila aku sampai depresi, tidak akan ada siapa pun yang merawatku.
Aku masih ingat betul hari di mana aku menyadari hal ini.
Emosi anak remaja cenderung meledak-ledak. Sedikit pemicu saja bisa membuat sangat senang atau sangat sedih. Namun, pada saat itu aku tidak ada dalam posisi untuk terpengaruh oleh hal-hal sepele.
"Oh, leukemia, Pak Hai. Keluargaku kekurangan uang, dan anak perempuanku malah terkena penyakit aneh."
Hari saat aku pulang ke rumah setelah didiagnosis dengan leukemia, ayahku secara menyebalkan mengobrol dengan seseorang di telepon, tepat di depanku.
Aku sering berkunang-kunang dan kepalaku didera rasa sakit yang tidak diketahui penyebabnya, jadi aku pergi ke klinik dan dokter merujukku ke rumah sakit, di sanalah aku tahu kalau aku menderita leukemia.
Sekujur tubuhku terasa sakit, sementara ayah dan ibu hanya menghela napas dengan wajah muram yang tidak meringankan ketakutan serta kecemasanku.
Merasa berdosa, aku depresi dan sedih selama rawat inap di rumah sakit, menjalani pengobatan, dan menerima transplantasi sumsum tulang dari kakakku.
Jujur saja, aku tidak bisa menghitung berapa kali aku ingin mati. Bahkan saat aku mengetahui kalau sumsum tulang kakak cocok denganku, aku tidak merasa senang.
"Ah, tidak mau, itu pasti sakit sekali!"
"Tapi dia adikmu, kau harus melakukannya."
"Oh, suruh dia mati saja!"
"Haa, Suchan, jika kau mau melakukannya, aku akan membelikanmu laptop atau apa pun yang kau inginkan..."
"...Benarkah? Yang benar?"
"Iya."
Suara kakak yang menyuruhku untuk mati saja meski aku ada tepat di sebelahnya, akan terus terngiang di kepalaku setiap kali aku melihatnya.
Usai operasi transplantasi sumsum tulang yang ditukar dengan laptop gaming, aku kelelahan karena berbagai prosedur dan tidak ada seorang pun yang menemaniku.
Kedua orangtuaku berada di samping kakak yang barusan mendonasikan sumsum tulangnya untukku, mereka memujinya karena telah berbuat baik, sementara aku berbaring sendirian menatap langit-langit.
Aku merasa sangat sedih dan depresi sehingga air mata membasahi wajahku, dan aku sadar bahwa aku menangis supaya mendapat perhatian mereka.
'Ini percuma, jadi untuk apa aku menangis?'
Aku menangis, tapi mereka bahkan tidak melirikku. Aku cukup beruntung, setidaknya mereka tidak mengataiku cengeng.
Begitu aku menyadari hal tersebut, aku bisa keluar dari suasana depresi dengan cepat karena aku tahu bahwa itu tidak ada gunanya.
Kesadaran dari kehidupanku sebelumnya ternyata berguna di kehidupan sekarang.
'Sekarang bukan waktunya merasa depresi. Bahaya jika aku hanya mengandalkan Killian, apalagi aku belum tahu apakah dia akan memberikan hatinya padaku atau tidak."
Aku sudah berusaha keras menyapa para pemeran tambahan, dan aku berhasil membuat beberapa pelayan mengenaliku, tapi aku perlu melakukan sesuatu yang lebih berguna.
'Uang! Aku perlu mengumpulkan lebih banyak uang!'
Aku masih hanya memiliki sembilan juta senna dalam tabunganku di bank sentral Marlen. Itu jumlah yang cukup besar bagi rakyat biasa di dunia ini, tapi itu masih jauh dari cukup untuk mempersiapkan masa depan yang tidak pasti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Isekai Yang Berbeda
RomanceSeorang pekerja kantoran biasa meninggal dibunuh kakaknya yang gila judi. Setelah meninggal dia bangun di dunia novel yang dibacanya kemarin, yaitu novel "Menolak Obsesimu". Awalnya dia senang karena dia mengira itu kompensasi yang sepadan atas kema...
