Happy Reading
***
Seorang pria duduk di ranjangnya dengan memegang sebuah foto di tangannya, dia mengusap foto di tangannya dengan perasaan campur aduk.
Foto seorang perempuan sedang memeluk seorang gadis kecil, namun wajah keduanya tidak terlihat dengan jelas. "Reya.."
BRUK....
Tireya terbangun karena terjatuh dari tempat tidur.
"Ughh, sakit banget" Tireya mengusap jidatnya yang terkena langsung dengan lantai dingin, membuat dahinya memerah seketika.
" Apes banget sih gue anjir" gumam Tireya saat dirinya bangun dari jatuhnya, baru kali ini dirinya ceroboh seperti ini. Jangan tanya mengapa dirinya bisa terjatuh dari ranjangnya, dia bermimpi dikejar badak dan terus berlari tanpa arah tujuan.
Belakangan ini dirinya sering mendapat mimpi-mimpi aneh. Mulai dikejar angsa berkaki kura-kura, terbang dengan sayap unta, sekarang dikejar badak pula.
"Apa gue lagi kena sial ya, jangan-jangan ini pertandanya!" seketika itu juga Tireya merasakan dingin dingin di area pangkal lehernya, dengan merinding disko dia segera berdiri dari duduknya.
"Merah uga ya. Aduh dahi santikku!" ucap Tireya saat menatap kaca yang memperlihatkan pantulan dirinya
Tireya mengusap-usap dahinya yang memerah dengan lembut, dan seperti magic merah itu langsung menghilang.
"Wow! Apakah ini sihir icha??"
"Tentu tidak tapasya, ini adalah kekuatan sang dewa!"
"Ah, gadis miskin ini menghayal lagi"
"Kau tidak tau tapasya? Sebenarnya kalian semua di prank! Aku adalah konten creatornya disini, kalian kalah kalo ngadu ide sama aku!"
"idieh, si najis!"
"Pemimpin aku ingin resign, bolehkah? Aku sungguh capek menghadapi Tuan seperti ini. Tidak apa-apa pesangon ku 2 miliar Dinar, setidaknya mentalku terselamatkan ಥ_ಥ"
"Yum, apa schedule kita hari ini?" Tanya Tireya yang sudah lelah beradu kebolehan acting dengan angin.
"Hari ini seperti yang terjadwal akan ada pertemuan keluarga sekaligus hari ke-5 dari sisa waktu tugas anda"
ahh, dia melupakan tugas itu, memang saat itu harusnya tugasnya sudah selesai. Namun...
Flashback...
Dinda yang melihat Mila kabur menjadi panik, ia menatap Tireya dengan wajah bersalah.
"Kak maafkan aku, aku hanya mendengar ucapan Nn. Mila karena dia terlihat begitu sedih. Kau tau kan hatiku tidak mampu jika melihat hal seperti itu? Bahkan saat kau kesakitan saat melahirkan Tio saat berumur 12 tahun, aku sangat sedih saat itu-ups a-aku lupa itu adalah rahasia. Maafkan aku kak, Tn. Anthony jangan marah kepada kakakku. Ini bukan kesalahannya, dia sendiri tidak mengetahui siapa ayah dari bayi itu hiks" Dinda mulai mengeluarkan air mata buayanya, dan memohon kepada Mario.
Namun bukan jawaban ataupun bantuan yang didapatkannya, sebaliknya Mario malah menatap Tireya dengan khawatir.
"Ini memerah" tangan Mario dengan lembut mengusap pipi Tireya yang barusan ditampar oleh Mila.
Tireya hanya mengangguk dan tidak mengucapkan apa-apa, sebaliknya ia menatap ke arah Dinda dan tersenyum kecil. Senyum yang hanya dapat dilihat oleh Dinda.
Dinda merasa geram, Kenapa wanita ini yang mendapat perhatian, seharusnya Tn. Anthony marah padanya! Tapi kenapa..
"Anthony, kamu malu aku mempunyai anak?" tanya Tireya memulai dramanya, seketika orang-orang disana mulai berbisik sehingga menimbulkan keributan. Tidak ada yang tau apa yang membuat Tireya seberani ini mengungkap aibnya.
Mario melihat arah tujuan Tireya pun dengan santai membalas "What's wrong with that? I have one too" Mario dengan santainya membalas pertanyaan Tireya, namun matanya masih sarat akan kekhawatiran. Sial, perempuan itu terlalu berani.
"You not deaf, right? Kecewa yaa" Tireya dengan wajah menyesal menatap Dinda yang masih berdiri dengan kokoh di depan mereka, semua orang tau jika Tireya sedang mencela Dinda, tatapan sinis dan merendahkannya dapat dilihat dengan jelas.
"Wah, bagus deh kak. Aku jadi lega, karena tau kalo Tn. Anthony tidak masalah dengan anak kakak. Namun kak, merebut milik seseorang juga ada batasannya. Tidak semua harus kita miliki" Dinda menormalkan ekspresinya, dan ber-acting menjadi adik yang baik.
"Ahh, kau......sungguh tidak bisa melihat situasi ya" Tireya mendekat ke arah Dinda dengan Mario yang masih setia berada di sebelahnya.
"M-maksud kakak?" tiba-tiba saja Dinda merasakan aura dingin yang datang begitu saja, saat Tireya mendekat. Membuat dirinya refleks memundurkan langkahnya.
Tireya mendekatkan wajahnya dan berkata "Ku pikir kau hanya tidak tau malu, ternyata kau juga bodoh!" senyum meremehkan muncul di wajah Tireya.
"K-kau!!"
"Cukup!"
Hanya dengan satu suara semua menatap ke arah datangnya asal suara itu.
Suara berat dan langkah kaki yang tegas muncul dari arah lain pesta.
"Ada apa ini ribut-ribut di pesta-ku?"
Semua orang yang melihat itu serempak menundukkan kepalanya dan bergegas pergi dari sana.
Lukman Anthony.
Seorang lansia berusia 66 tahun, lelaki stengah abad yang masih memiliki badan tegap tanpa tongkat dan wajah khas orang kaya hadir di tengah-tengah mereka.
Pesta malam ini sebenarnya khusus dibuat untuk merayakan Ulang tahun perusahaan, dan Ulang Tahun pemilik perusahaan Anthony Group.
Kedatangan pesohor sepuh itu diantara perdebatan mereka, membuat tempat yang tadinya ramai langsung sepi tersisa mereka ber-6 (dengan 2 pengawal). Pria lansia itu melihat sekeliling dan menemukan apa yang dia cari sedari tadi.
"Mario ada apa ini, kenapa kau berada disini?" tannya Tuan Tua Anthony kepada Mario dengan tatapan intens.
Mario menundukkan kepalanya dan tak lama kemudian mengangkatnya kembali, "ada masalah penting kek.."
"Maaf Tuan Besar Anthony, kakak saya bersalah dia telah mencoba mengganggu calon Nona Muda Anthony. Maafkan kakak saya, dia hanya ingin membantu anaknya karena dia adalah orang tua tunggal. Maaf karena telah melibatkan keluarga besar Anthony!" Dengan tiba-tiba Diana bersimpuh di depan Tuan Tua Anthony.
Tuan Tua menaikkan alisnya merasa bingung. "Ada apa Mario?" tanyanya dengan menatap Diana tidak mempedulikan Diana membuat Diana merasa sedikit kesal namun tetap menjaga posisinya dengan bersimpuh. Merasa bahwa sedikit lagi Perempuan yang ingin merebut haknya akan segera tersingkirkan.
"Biar saya jelaskan Mr. Anthony" tiba-tiba sebuah suara menjawab pertanyaan Tuan Tua Anthony.
"Ah Nn. Sujono, anda juga berada disini?" Tuan Tua Anthony sangat terkejut melihat keberadaan Nona yang sejak tadi menarik perhatiannya.
Seluruh orang disana langsung terkejut dengan perkataan Tuan Tua Anthony.
Dan jangan tanyakan keadaan Diana, wajahnya sudah pucat pasi seperti sudah tak dialiri darah lagi.
Satu hal yang tidak mereka ketahui, bahwa nasib mereka semua ada di tangan Tireya.
***
To be continue...
KAMU SEDANG MEMBACA
TIREYA
FantasíaJANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR SEBELUM MEMBACA. OK Leee~... Up tidak menentu, pantengin aja. Jangan lupa masukkan dalam perpustakaan mu agar dapat pemberitahuan ( ͡°⁄ ⁄ ͜⁄ ⁄ʖ⁄ ⁄ ͡°) HAPPY READING GUYS! "Jika aku bisa mengulang waktu, tidak akan aku mau...
