Bab 3

39.7K 2.2K 42
                                        

Eleanore tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di taman itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Eleanore tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di taman itu. Kakinya berjalan sendiri, menjauh dari rumah yang sejak tadi terasa makin sempit untuknya.

Udara malam lebih dingin dari yang ia ingat, tapi justru itu yang ia butuhkan, sesuatu yang bisa meredam kepalanya yang penuh.
Ia berhenti di tengah jalan setapak, menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang belum sepenuhnya stabil sejak percakapan tadi. Kata-kata ayahnya masih terngiang, berulang, seolah tidak mau berhenti.

Tanpa sadar, ia tertawa kecil—menertawakan dirinya sendiri, sebelum kembali melanjutkan langkah.

Selama ini, hubungannya dengan Romeo baik-baik saja. Mereka memang menyembunyikan segalanya dari publik. Itulah mengapa Eleanore tidak bisa terlalu bebas mengumbar kehadirannya di sisi Romeo.

Mereka pun sebenarnya tahu bahwa sesekali mata-mata Lyubov atau keluarga kerajaan menguntit—tidak ada yang bisa mencegah hal itu. Tetapi, sejauh ini, mereka tidak mendapatkan tekanan atau ancaman. Jadi, wajar bila Eleanore dan Romeo mengira bahwa segalanya berjalan dengan sangat baik. Ataukah itu hanya perasaan Eleanore?

Pasalnya, akhir-akhir ini Romeo memang bersikap sedikit aneh. Mereka sudah jarang bertemu, apalagi berkencan. Berhubungan melalui telepon atau pesan pun hampir tidak pernah. Eleanore tidak merasa aneh awalnya. Mereka adalah dua orang dewasa dengan kesibukan masing-masing. Sangat tidak masuk akal bila mereka marah hanya karena lupa mengirimkan pesan selamat malam.

Akan tetapi, tiba-tiba Romeo mengirimkan undangan untuk menghadiri acara lelang beberapa hari yang lalu. Sesuatu yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya.

Awalnya, Eleanore berusaha berpikir positif. Ia menerima undangan tersebut dengan senang hati. Ini akan menjadi penampilan perdana mereka di mata publik sebagai pasangan.

Eleanore tidak berharap Romeo secara tiba-tiba melamarnya dengan cincin berlian indah dan pidato mengharukan. Ia bahkan tidak berharap pria itu akan memberinya sebuket bunga. Tetapi, yang terjadi adalah Romeo yang terasa sangat jauh.

Tangannya tetap menggandeng Eleanore, tapi tatapannya hampir tidak pernah tertuju padanya. Ia sibuk berbincang-bincang dengan para tamu lain, tapi tidak pernah sekali pun memberi Eleanore kesempatan untuk terlibat. Ia memang memperkenalkannya sebagai teman dekat atau teman kencan di malam lelang kali itu, tapi tidak ada senyum lembut nan menawan yang biasa ia berikan pada Eleanore.

Dengan gusar, perempuan itu mulai berjalan lagi. Otaknya terasa sakit karena terus mengingat-ngingat momen tersebut, berusaha menganalisis dan mencari benang merah antara semuanya dan perjanjian Lyubov-Rohlstein.

Mungkinkah Romeo mulai didesak keluarganya untuk segera mengambil istri dan melahirkan penerus? Tetapi, bukankah hal seperti itu memang selalu terjadi?

Eleanore tertegun sejenak. Mungkinkah... Romeo mulai benar-benar mempertimbangkan hal tersebut? Selama ini, ia memang bersikap membangkang dengan mengencani Eleanore secara diam-diam. Lalu, mungkinkah sekarang ia merasa bahwa sudah saatnya untuk berhenti main-main?

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang