Eleanore masih mengira bahwa semua adalah mimpi—setidaknya sampai ia merasakan sebuah lengan besar melingkari perutnya dari belakang, begitu erat dan posesif. Juga napas hangat yang menyapu tengkuknya. Hal itu membuat Eleanore sepenuhnya sadar bahwa semua ini bukan mimpi.
Ingatan akan apa yang telah ia lakukan semalam membuatnya tertunduk untuk memastikan bahwa tidak ada sehelai benang pun yang membungkus dirinya, juga Nikolai. Matanya juga menangkap beberapa bungkus pengaman yang berserakan di atas lantai, menjadi saksi atas apa yang terjadi semalam, ternyata memang bukan mimpi.
Ia menghabiskan malam gilanya bersama Nikolai Rohlstein, pria asing yang baru saja ia temui beberapa kali.
Entah siapa yang gila di sini, Nikolai atau dirinya.
Eleanore mencoba untuk menggerakkan tubuh, berusaha melepaskan diri dari pelukan Nikolai yang masih terlelap. Namun, sebelum ia berhasil, lengan di perutnya justru mengerat.
"Give me a second. Just stay with me a little longer."
Eleanore terdiam, menyadari bahwa pria yang ada di sisinya tidak tidur, ia merasa sedikit canggung.
"Kau sudah bangun?" tanyanya, nyaris berbisik.
"Mhm ...."
"Aku gerah dan ingin mandi, tubuhku lengket."
"Kamarnya dingin, kenapa tubuhmu gerah?" Tangan pria itu bergerak meremas perut Eleanore, lalu makin turun membuat Eleanore menepisnya dan segera bangkit.
Sungguh, Eleanore merasa canggung. Ia bahkan menghabiskan waktu yang sangat lama di kamar mandi, membasuh dirinya sendiri berkali-kali, mencari alasan agar tidak perlu keluar dan menghadapi Nikolai.
Mungkin sekitar satu jam berada di kamar mandi, barulah perempuan itu berani keluar. Pada awalnya ia tak mendapati sosok Nikolai di kamar, membuatnya berpikir bahwa pria itu sudah pergi. Tetapi, kegaduhan di luar membuat Eleanore menyadari bahwa pria itu masih ada di dalam apartemennya.
Dan benar saja. Ketika keluar ia mendapati sosok Nikolai berada di tengah dapur, hanya mengenakan celana panjang miliknya, dengan rambut sedikit berantakan.
"Kau tidak pulang?" tanya Eleanore, mendekati pria itu. "Tampaknya kau sudah sangat nyaman berada di sini."
"I'll be wherever my woman is."
Seketika wajah Eleanore memerah. Ia merasa canggung bukan tersipu. Bahkan Romeo sekalipun tidak pernah mengatakan hal semacam itu saat keduanya berkencan.
Eleanore memilih tidak mengatakan apa-apa. Ia mengurungkan niat untuk mengambil roti yang Nikolai panggung dan malah meraih sebungkus rokok di meja. Namun, belum sempat ia membukanya, benda itu direbut oleh Nikolai begitu saja.
"Seriously?" Eleanore mendelik kesal.
Nikolai tidak menjawab, ia meletakkan rokok itu kembali ke meja, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah pil kecil.
Pria itu juga menyodorkan segelas air pada Eleanore, membuat perempuan itu mempertanyakan maksud Nikolai.
"Minum."
Eleanore menatap gelas itu dengan curiga, alisnya terangkat. "Apa ini? Kau mau meracuniku?"
"Morning-after pill, agar kau tidak hamil."
Eleanore menatap pil itu, lalu kembali ke wajah Nikolai. Tak menyangka bahwa Nikolai akan menyiapkan hal semacam ini.
"Tidak mau minum?" tanya Nikolai. "What is it, Eleanore? Are you ready to carry my child already? I'm perfectly fine with you becoming the mother of my child—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
