Bab 22

23K 1.2K 64
                                        

Pada kenyataannya, Nikolai pergi dari sisi Eleanore malam itu bukan tanpa alasan. Beberapa menit sebelumnya, salah satu pengawal mendekat dan mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu secara pribadi. Ketika sampai di koridor samping venue, sosok yang menunggunya adalah Sydney Anaraya, tunangan Romeo Romanoff. Perempuan itu berdiri sendirian, tampak sedikit gelisah, menunggu Nikolai.

"Aku tidak menyangka kau benar-benar datang," gumam Sydney sambil tersenyum tipis, menyambut kehadiran Nikolai.

"Kau bilang punya sesuatu yang penting."

"Aku butuh bantuanmu."

Kalimat itu langsung membuat Nikolai sedikit tertarik. Karena, rupanya selama beberapa minggu terakhir, Sydney memang beberapa kali menghubungi Nikolai diam-diam. Bukan karena mereka dekat, melainkan karena Sydney tahu Nikolai cukup lama mengenal Romeo dan lingkaran keluarganya, setidaknya itu yang Sydney pikirkan. Perempuan itu tidak tahu bahwa pria di hadapannya justru musuh terbesar tunangannya sendiri.

"You said you had something important to tell me," ulang Nikolai, ia tidak memiliki waktu jika itu bukan hal yang menarik.

"Aku rasa Romeo menyembunyikan sesuatu dariku."
Nikolai mengangkat alis tipis. "Kau datang padaku untuk membicarakan calon suamimu?"

"Aku hanya ingin tahu apakah aku terlihat bodoh." Sydney tertawa hambar. "Pada awalnya, aku curiga dia masih bersama Eleanore."

"Romeo dan Eleanore sudah tidak bersama," timpal Nikolai dengan keyakinan penuh. Jika memang keduanya masih bersama, tidak mungkin hari ini Eleanore datang bersamanya.

"Kalau begitu ... berarti memang ada perempuan lain selain Eleanore."

"Perempuan lain?" Nikolai mendengus tak percaya. "Eleanore bukan perempuan lain. Kaulah sosok perempuan lain di antara mereka."

Sydney terdiam sesaat mendengar itu. Namun, setelahnya perempuan itu malah tersenyum kecil. "Tampaknya kau benar-benar menyukai Eleanore."

"Of course I do," jawab Nikolai tenang tanpa sedikit pun ragu. "She's my woman, and unlike Romanoff, I'm not stupid enough to pretend otherwise."

Sydney terkekeh pelan. "She's still Romeo's ex, and Romeo was supposed to be your friend, wasn't he? Doesn't it bother you? Loving a woman who belonged to your friend first?"

"Bukankah kau terlalu lancang karena membicarakan perempuanku di depanku?" Nikolai melangkah mendekat dalam satu langkah pendek, cukup untuk membuat Sydney sadar bahwa pria itu benar-benar tidak menyukai kalimat tadi. "Eleanore bukan benda yang bisa dimiliki seorang pria lalu diwariskan ke pria lain. Dan dia bukan properti Romanoff. Kekasihmu itu cukup bodoh karena melepaskan perempuan seperti Eleanore."

Sydney terkekeh pelan mendengar nada suara Nikolai yang berubah tajam begitu menyangkut Eleanore. "You must be so in love with her. Kalau begitu kita mungkin punya masalah yang sama. Kita sama-sama mencintai seseorang yang masih belum bisa melupakan masa lalunya."

Kalimat itu sedikit—tidak, sangat—mengusik Nikolai. Karena, sialnya, Eleanore mungkin tidur bersamanya, tertawa bersamanya, bahkan datang ke gala ini sebagai pasangannya.

Namun, hati perempuan itu masih tertinggal pada Romeo Romanoff, dan Nikolai membenci fakta tersebut.

Sydney lalu mendekat perlahan, jarak mereka kini begitu dekat. "Kau tahu ...," gumam perempuan itu pelan sambil membenarkan dasi Nikolai, "aku penasaran bagaimana rasanya menjadi perempuan yang membuat dua pria seperti kalian kehilangan akal."

"Percayalah, Eleanore tidak akan merasa tersanjung mendengarnya."

Sydney tertawa kecil lagi, namun kali ini tangannya naik perlahan ke leher Nikolai. Saat itu, Nikolai tidak mendorongnya menjauh karena sebuah ide buruk muncul di kepala pria tersebut.

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang