Lampu dalam kelab itu berkelip redup, membiaskan cahaya yang menyelimuti setiap sudut ruangan. Dentuman musik menghantam seisi kelab malam itu tanpa henti, bercampur dengan tawa, desahan, dan bisikan-bisikan. Di tempat penuh maksiat seperti ini, Nikolai sendiri menjadi pusatnya.
Segala sesuatu di dalam kelab itu bergerak atas keinginan dan kendalinya. Pria itulah sumber kekacauan layaknya raja iblis dalam sebuah neraka.
Di tengah hiruk pikuk itu, Nikolai tengah memandang deretan perempuan muda yang berdiri di hadapannya, masing-masing berusaha menarik perhatian dengan cara yang menurut Nikolai sangat membosankan.
Tidak ada lagi yang benar-benar menarik perhatiannya. Barangkali karena Nikolai sudah terlalu sering melihat wajah-wajah cantik dan tubuh-tubuh muda, sampai semuanya terasa sama saja, tak ada yang baru atau istimewa.
"Bagaimana dengan yang satu ini, Tuan?" Madam Gi menarik seorang wanita dengan surai gelap ke hadapan Nikolai seolah paham betul dengan apa yang tengah dicari oleh pria itu.
Untuk beberapa saat Nikolai memandangi perempuan yang dimaksud oleh Madam Gi.
Tubuh yang ramping juga tinggi, kaki jenjang perempuan itu tampak sempurna, ditambah postur wajahnya yang tegas menjadi nilai tambah.
"Siapa namamu?" tanya Nikolai mengangkat naik dagu perempuan itu untuk menatapnya.
"Ugelia, Tuan."
Untuk sesaat perempuan itu terlihat cukup mirip dengan Eleanore, bahkan suara mereka terdengar mirip.
"Persiapkan dia, dan sisanya bisa kembali ke kamar."
Mendengar itu, beberapa perempuan yang sudah berdiri di sana tampak cukup kecewa. Sedangkan perempuan yang dipilih oleh Nikolai terlihat cukup bangga akan hal itu. Di antara banyaknya perempuan, dirinyalah yang dipilih oleh Nikolai Rohlstein, sebuah kehormatan untuknya.
Seperti yang diperintahkan oleh Nikolai, Madam Gi segera mempersiapkan Ugelia, perempuan yang dipilih Nikolai untuk menghabiskan malam bersama pria itu.
Sementara itu, Nikolai tetap duduk selama beberapa detik, pandangannya kembali menyapu ruangan kelab yang riuh. Baik itu lampu hingga suara dentuman musik, semua kenikmatan duniawi ini entah mengapa mulai terasa hambar untuknya.
Tidak ada yang benar-benar menarik, meski Nikolai mencoba untuk menyukainya, segala terasa begitu membosankan.
Nikolai menghela napas pelan, lalu berdiri. Beberapa mata langsung tertuju padanya saat ia melangkah. Bahkan beberapa perempuan terang-terangan mencoba menarik perhatian Nikolai. Namun pria itu tidak melempar tatapnya barang untuk sedetik pun.
Langkahnya meninggalkan area utama kelab, melewati koridor yang lebih tenang dan gelap, entah sudah berapa kali Nikolai melewati koridor ini—mungkin bisa dihitung dari seberapa kali ia tidur bersama perempuan.
Langkahnya mantap menuju kamar di ujung lorong seperti biasanya, hingga akhirnya sebuah suara terdengar, menghentikan langkahnya.
"Nikolai, wait!"
Seketika langkah Nikolai terhenti, ia tidak langsung menoleh karena mengenali suaranya.
Leo.
Ia sudah menghabiskan waktu selama bertahun-tahun, mungkin sejak mereka masih sangat kecil, untuk mengenali suara pria itu.
"Siapa yang memberimu izin untuk masuk ke area ini?" tanya Nikolai, ia menghela napas pendek sebelum berbalik. Walau berstatus sebagai 'sahabat', tetap saja pria itu tidak membiarkan sembarang orang untuk masih ke bagian-bagian tertentu di dalam kelabnya. Semua harus mendapatkan izin langsung darinya—bahkan Madam Gi pun tidak punya wewenang untuk menentukan siapa yang berhak atau tidak untuk menginjakkan kaki di area tertutup tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romantik[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
