Bab 26

23.5K 1.2K 84
                                        

Setelah percakapannya dengan Romeo berakhir, Nikolai menjadi sangat terusik. Pria itu bahkan nyaris tidak mengingat bagaimana dirinya bisa masuk ke dalam mobil.

Pikirannya terlalu penuh dengan satu kalimat yang terus terngiang tanpa henti di kepalanya.

She's still alive.

Omong kosong ..., itu pasti omong kosong.

Namun, sialnya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nikolai mulai takut kalau itu bukan kebohongan.

Maka, tanpa berpikir panjang, ia pergi ke pinggiran Saint Petersburg, mengunjungi sebuah columbarium tua bergaya kekaisaran Rusia, yang berdiri megah di tengah kawasan pemakaman elite.

Columbarium itu begitu sepi, dan musim dingin membuatnya makin lengang. Padahal, tempat itu adalah rumah bagi ratusan, bahkan ribuan jiwa. Ada beberapa pekerja yang setiap hari memastikan tempat itu selalu bersih dan terawat, walau tidak selalu ada pengunjung.

Saat kaki Nikolai menapak pada anak tangga pertama, ia tak bisa menahan kerinduan. Selama bertahun-tahun, tempat itu menjadi satu-satunya lokasi yang rutin ia kunjungi selain kelab malam. Seorang pria tua petugas kebersihan langsung menunduk hormat saat melihat kemunculan Nikolai. Ia sama sekali tidak tersinggung saat pria paling berkuasa di Rusia itu berjalan melewatinya tanpa menyapa.

Langkah Nikolai akhirnya berhenti di depan salah satu etalase kaca yang berada sedikit terpisah dari deretan lainnya. Etalase itu jauh lebih terawat dibanding sekelilingnya. Tidak ada debu, atau bunga layu. Kaca marmer putih di sekitarnya tampak begitu bersih mengilap seolah baru dipasang.

Terdapat sebuah nama terukir pada plat kecil berwarna emas di bagian bawahnya.

Pavla Annelise Rohlstein, atau Pavlena.

Di dalam etalase tersebut tersimpan sebuah guci putih gading dengan ukiran salib kecil khas gereja Ortodoks Rusia. Di sampingnya terdapat bingkai foto perempuan berambut pirang pendek dengan senyum lembut.

Wajah perempuan itu sangat berbeda dari dunia Nikolai, begitu lembut; membuat siapa pun akan tersihir dengan kecantikannya. Perempuan itu layaknya seorang malaikat.

Di sisi lain etalase, terdapat beberapa benda kecil yang terus berada di sana selama bertahun-tahun, sebuah rosario tua yang terbuat dari emas asli. Tepat di depan bingkai foto tersebut, terdapat vas kristal berisi mawar putih segar. Selalu mawar putih—Nikolai tidak pernah menggantinya dengan bunga lain.

Bunga itu seperti Pavlena, begitu indah, terlihat lembut, membuat siapa pun ingin memiliki dan melindunginya.

Namun, di saat yang bersamaan, mawar putih juga menyedihkan. Karena, secantik apa pun bunga itu mekar, warnanya selalu mengingatkan Nikolai pada sesuatu yang terlalu suci untuk dunia kotornya, seperti Pavlena.

Perempuan itu tidak pernah cocok berada di sisinya sejak awal, terlalu suci untuk seorang pria seperti Nikolai Rohlstein.

Pria itu berdiri cukup lama di depan etalase tersebut tanpa mengatakan apa-apa. Matanya sedikit berkaca, menyorot kerinduan mendalam. Tatapannya perlahan turun pada bunga mawar lama yang mulai mengering di dalam vas.

Dua hari.

Sudah dua hari ia tidak datang.

Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Karena Nikolai selalu datang setiap hari untuk sekadar mengganti bunga.

Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah absen. Tetapi, kali ini, ia absen karena harus menghabiskan waktu bersama Eleanore.

Perlahan Nikolai mengambil buket lama tersebut lalu membuangnya ke tempat sampah, sebelum menggantinya dengan mawar baru yang ia bawa malam ini.

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang