Bab 9

28.8K 1.5K 29
                                        

Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat.

Eleanore telah menghabiskan tiga tahun waktunya yang berharga untuk menemani seorang pria, menjadikannya sempurna hanya agar pria itu berakhir menjadi tunangan perempuan lain.

Tak jarang juga hubungan mereka selalu ditutup dengan pertikaian karena ketidakjelasan arah hubungan mereka. Dan bagian paling menyakitkan adalah keduanya saling mencintai. Barangkali akan lebih mudah jika semuanya tidak memiliki perasaan, mungkin Eleanore tidak akan sehancur ini.

Hubungan mereka seperti luka yang tak pernah mengering, perlahan membusuk dan menyakitkan. Karena terus menyebar, menggerogoti banyak hal. Berkali-kali mereka mencoba untuk mengakhirinya, namun berkali-kali pula keduanya kembali seolah tidak pernah siap untuk saling melepaskan.

Bukankah hubungan mereka begitu menyakitkan? Kekasihnya itu adalah pewaris takhta Rusia, dan usianya tak lagi muda. Kekasihnya itu harus segera menikah dan mengemban tanggung jawabnya sebagai seorang penerus. Tetapi, Eleanore tidak akan pernah bisa menjadi pendampingnya, restu kedua orang tua Romeo maupun Eleanore tidak berpihak pada mereka.

Jika tetap memaksakan hubungan ini, maka Romeo harus mengorbankan banyak hal untuk Eleanore, seperti takhtanya.

"Elea, mari kita berbicara."

Udara di halaman belakang apartemen terasa lebih dingin dari biasanya, lampu yang ada cukup untuk menerangi jalur setapak yang jauh dari keramaian.

"Jadi, sekarang kau punya waktu untuk berbicara dengan simpananmu?" tanya perempuan itu dengan nada sarkastis. Tatapannya jatuh pada kilau yang menyesakkan di jari pria itu.

Sebuah cincin.

Seketika ucapan ayahnya saat itu kembali terlintas dalam benak Eleanore. Dia tidak pernah memberikanmu cincin, atau menjanjikan masa depan.

"Selamat," lanjutnya pelan tanpa mengalihkan tatapannya pada jari pria itu. "Untuk pertunanganmu."

Sontak Romeo menarik tangannya mundur, berusaha menyembunyikan benda berkilau itu.

"Tak perlu disembunyikan seperti itu, jika ada hal yang harus kau sembunyikan itu aku, dan hubungan kita."

"Eleanore ...."

"Jadi, kapan kalian akan mengumumkannya ke publik?"

Romeo menatapnya dengan ragu untuk beberapa detik. "Minggu depan." Ia tertunduk. "Aku datang untuk memberitahumu, aku ingin kau menjadi orang pertama yang tahu."

Kalimat itu sukses membuat Eleanore hampir tertawa.

Orang pertama? Ia menjadi orang pertama yang tahu bahwa kekasihnya telah bertunangan dengan perempuan lain.

Sangat menggelikan.

"Betapa terhormatnya aku," gumam Eleanore.

Ia menghela napas, lalu mengalihkan pandangan sejenak, seolah sedang mengumpulkan sesuatu di dalam dirinya sebelum kembali menatap Romeo.

"Aku sudah memikirkan ini," katanya akhirnya. "Kita tidak bisa melanjutkan ini. Sebaiknya semua berakhir di sini."

Romeo tahu hal ini akan terjadi. For God's sake, he was the one who caused all of this mess. Ia pun tahu bahwa tidak ada secuil pun hak dalam dirinya untuk menahan Eleanore. Tetapi, dengan bodohnya ia bergerak, seolah tindakannya itu bisa menghentikan ucapan Eleanore. Tangannya terangkat, berusaha meraih Eleanore tetapi perempuan itu justru mundur, menghindarinya.

"Berani sekali kau ingin menyentuhku." Tatapannya masih tertuju pada cincin yang ada pada jemari Romeo, benda berkilau yang melukai hatinya. "Dengan cincin yang melingkari jarimu."

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang