Kepala Eleanore berdenyut bukan main, membuatnya enggan untuk membuka mata. Sekujur tubuhnya terasa sakit seperti diremuk. Ia mengerang pelan, ketika saat itu mendapati aroma asing menelusup masuk melalui indra penciumannya. Ini bukan kamarnya.
Ia mengerjap, perlahan membuka mata. Langit-langit kamar yang asing menyambutnya, membuat Eleanore menahan napas sejenak, berusaha mengumpulkan kesadaran.
Eleanore bangkit ke posisi duduk, berusaha mengingat apa yang terjadi dengan kepala yang berdenyut.
Hingga akhirnya potongan-potongan ingatan kembali muncul dalam benaknya. Angin malam, suara ombak di tebing, hingga beberapa batang rokok. Ah, sekarang semua masuk akal. Entah bagaimana Eleanore bisa berakhir di kamar ini, tetapi jelas semalam ia tidur dengan Nikolai. Polos tubuhnya sudah menjelaskan segalanya.
Ketika kesadarannya sudah mulai kembali sepenuhnya, ia berusaha mencari apa pun yang bisa menutupi tubuh.
Pandangannya jatuh ke lantai, tempat di mana pakaiannya juga pakaian Nikolai tergeletak tak keruan, nyaris tak layak dikenakan kembali.
Ada jeda ragu saat Eleanore memandangi pakaian itu sebelum ia beranjak menuju walk in closet dan meraih asal kemeja milik Nikolai dari dalam lemari. Pakaian itu tampak begitu longgar di tubuh Eleanore, hampir seperti gaun yang menutupi hingga pertengahan paha. Aroma maskulin khas Nikolai kini menyelimuti tubuhnya.
Aroma Nikolai ... bagaimana Eleanore menjelaskannya? Aroma pria itu begitu asing, tapi di saat yang bersamaan juga mulai familier. Aromanya hangat, mendominasi indra penciumannya, dan saat Eleanore mengenakan pakaian pria itu seakan Nikolai tengah memeluknya melalui kemeja itu.
Eleanore menggenggam ujung kemeja itu, mencoba mengabaikan sensasi aneh yang menjalar di dadanya.
Ini salah.
Semuanya terasa salah.
Menepis semua itu, ia segera beranjak keluar dari kamar, berniat untuk mencari Nikolai—entah, apa tujuannya. Tapi tentu mereka harus berbicara, setidaknya membicarakan apa yang terjadi semalam atau apa yang akan terjadi ke depannya.
Namun, langkah Eleanore justru terhenti ketika ia mendengar sebuah suara. Tepatnya suara tangis seorang perempuan yang terdengar lirih; teredam dalam kesedihan mendalam, tapi cukup jelas untuk Eleanore tangkap.
Dahi Eleanore berkerut. Rasa penasaran membuat langkahnya mengikuti ke mana arah suara itu. Setiap langkahnya makin berat ketika suara tangis itu terdengar makin jelas, menandakan bahwa Eleanore makin dekat dengan tujuannya.
Eleanore mungkin tidak akan menyukai apa yang ia lihat.
Dan benar saja, langkahnya terhenti di ambang koridor, ia mendapati sosok Nikolai yang tengah duduk di atas sofa, membelakanginya. Pria itu bersandar malas, meski tidak melihat ekspresi Nikolai tetapi ia yakin pria itu tampak tidak tertarik dengan perempuan di hadapannya, atau lebih tepatnya malas meladeni.
Ya, perempuan.
Terdapat seorang perempuan tengah berlutut, di hadapan Nikolai. Tangisnya pecah dengan tubuh yang gemetar, tangannya bahkan mencengkeram lantai, sesekali berusaha menyentuh kaki Nikolai, nyaris seperti menyembah.
What happened?
"Don't do this to me .... I'm begging you ...." Suara perempuan itu parau, begitu putus asa.
Nikolai tidak bergerak. Tidak ada simpati atau reaksi. Eleanore yakin bahwa hatinya juga tidak tergerak melihat semua itu.
"Tuan, aku mohon ...." Perempuan itu menunduk lebih dalam, kepalanya bahkan menyentuh ujung kaki Nikolai. "Tuan adalah pemilikku, tolong jangan biarkan pria lain menyentuhku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romantik[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
