Setelah percakapan canggung bersama Romeo dan Sydney berakhir, Nikolai membawa Eleanore menjauh dari kerumunan wartawan menuju sisi venue yang lebih sepi. Namun, rupanya ketenangan itu tidak bertahan lama. Beberapa pria langsung menyambut Nikolai begitu mereka mendekat ke area lounge khusus itu.
"Well." Salah satu dari mereka berdecak sambil tertawa kecil. "Sulit dipercaya kau benar-benar datang kemari."
Eleanore mengenali beberapa wajah dari cerita Nikolai sebelumnya—ya, Nikolai memang bercerita sedikit tentang teman-temannya.
Ada Mace yang duduk santai di salah satu kursi malas sambil memainkan gelas whiskey. Sementara, di sebelahnya ada Emric, pria tinggi berambut pirang yang langsung membeku begitu melihat Eleanore berdiri di sisi Nikolai.
Perlahan, wajahnya memerah.
Eleanore sendiri sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil tidak percaya.
"Emric?"
Pria itu berdiri terlalu cepat sampai hampir menabrak meja kecil di depannya. "Kau mengenalku?"
Nikolai langsung melirik keduanya bergantian. Tatapannya berubah sedikit sinis, terutama kepada Emric yang tampak antusias mendekati Eleanore.
"Wait," gumam Eleanore. "Kau Emric Komarov, bukan? Kita pernah menjadi teman sekelompok untuk sebuah projek dulu saat kuliah. Am I right?"
Pria tersebut akhirnya tertawa gugup. "Aku pikir kau sudah melupakanku."
"There's no way I could forget you. Kau sering memberikanku catatanmu. Berkat semua itu, aku bisa menyelesaikan projekku tepat waktu."
Eleanore mulai mengobrol bersama Emric, layaknya teman lama yang tidak bertemu bertahun-tahun. Keduanya tidak terlihat canggung, kecuali wajah Emric yang makin lama makin merah setiap kali Eleanore tertawa. Keduanya bahkan tak menghiraukan tatapan tajam Nikolai.
Mace yang sedari tadi memperhatikan langsung menyeringai lebar. "Oh shit. Don't tell me ...." Pria itu memandang Eleanore lalu kembali ke Emric. "The girl you used to talk about all the time your so-called first love, was her?"
Dalam sekejap, Nikolai tersedak minumannya sendiri. Ia benar-benar terkejut mendengar ucapan Mace, karena tidak pernah tahu bahwa seseorang seperti Emric pernah menyukai seorang perempuan.
"Mace—" Emric menggeram sambil menatap sahabatnya penuh peringatan.
"No, seriously," lanjut Mace, ia tertawa puas. "Deskripsinya sama semua dengan yang selalu kau ceritakan. Dark hair, pretty eyes—"
"Mace, shut up."
Namun, wajah Emric yang memerah telah menjelaskan segalanya.
Eleanore sendiri malah tertawa geli melihat kepanikan pria itu. "Kau pernah menyukaiku dulu?" tanyanya sengaja menggoda.
Emric langsung mengusap tengkuknya canggung.
"I did." Tanpa disangka, pria itu langsung mengakuinya. Tatapannya turun sesaat sebelum kembali pada Eleanore. "But you were always around Romeo back then." Ia terkekeh hambar. "Aku kira kalian sudah berkencan saat itu."
Eleanore langsung menggeleng kecil. "Kami belum berkencan saat itu."
Dan entah kenapa, jawaban sederhana itu justru membuat ekspresi Emric makin sedih. "So I actually missed my chance," gumamnya, menertawakan diri sendiri.
Nikolai baru menyadari bagaimana cara Emric memandang Eleanore. Jelas tidak terlihat seperti seseorang yang sudah benar-benar melupakan perasaannya. Emric melewatkan kesempatannya di masa lalu, tetapi mungkin akan kembali mencoba di masa kini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
