Ketika Nikolai terbangun untuk kedua kalinya, ia merasa jauh lebih baik. Setidaknya, kepalanya sudah tidak terlalu pusing dan rasa mual yang menekan ulu hati sudah lenyap.
Dia menoleh, menatap sekeliling ruangan. Jika ingatannya tidak salah, seharusnya Eleanore berada di sampingnya saat ini. Tetapi, perempuan itu tidak terlihat di mana pun.
Nikolai mendesah. Ia tidak tahu apakah harus merasa lega atau kecewa. Sebagian dirinya—yang sudah sangat terbiasa dengan kehadiran Eleanore—ingin segera menghubungi perempuan tersebut. Tetapi, sebagian dirinya yang lain—yang masih saja mengingat-ingat percakapan terakhir Eleanore dan Romeo—enggan untuk melakukannya.
Tidak ada kesempatan untuk berpikir lebih jauh, karena pintu terbuka. Seorang dokter dan dua orang perawat melangkah masuk. Mereka mencatat seluruh perkembangan kondisi Nikolai dan melakukan serangkaian tes untuk memastikan tidak ada luka susulan.
Setelah itu, mereka berlalu dan keadaan menjadi sangat hening kembali. Nikolai sudah bersiap hendak memejamkan mata saat pintu terbuka kembali. Matanya bergerak malas, memperhatikan siapa yang muncul dan berani mengganggunya.
"Maaf .... A-aku—"
Nikolai tidak bereaksi, kecuali matanya yang menyorot dengan tajam, mendapati sosok Pavlena menyelinap masuk ke dalam ruang rawat inap Nikolai saat ini, perempuan itu bergerak gelisah di dekat pintu. Sesaat kemudian, ia tampak gugup sebelum memberanikan diri mendekati tempat tidur Nikolai.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Pavlena.
Tidak ada jawaban. Nikolai masih menatapnya lekat-lekat, tapi bibirnya terkunci rapat.
Pavlena menunduk, memainkan jemarinya dengan gugup.
"Maaf kalau aku lancang," bisiknya dengan suara gemetar. "Aku ... aku hanya merasa perlu minta maaf ...." Saat tidak ada tanggapan, dia buru-buru menambahkan, "Aku tidak mengharapkan pengampunanmu, Nikolai. Aku sadar bahwa apa yang telah kulakukan sangat buruk. Tapi ... aku tetap harus meminta maaf padamu."
Hening untuk waktu yang terasa sangat lama, sungguh sejujurnya pria itu enggan untuk menanggapi, ia malas.
"Kau pikir, semua pengkhianatan dan kebohonganmu dapat hilang begitu saja dengan kata maaf?"
"Aku tidak—"
"Kau benar-benar perempuan yang sangat egois!" Sekarang, nada suara Nikolai mulai meninggi. "Kau menerima lamaranku meski kau mencintai Leo. Setelah itu, kau berselingkuh dengannya layaknya jalang. Bahkan para penghibur di kelab malamku lebih baik darimu, Pavlena! Mereka tidak bersetubuh dengan pria lain ketika masih melayaniku."
Tawa sinis Nikolai terlontar. "Kau bersikap seolah-olah merasa sangat berdosa atas perselingkuhanmu. Tapi kemudian menebusnya dengan membohongiku lagi, bahkan memalsukan kematianmu. Kau bersembunyi di gereja demi ... apa katamu sebelumnya? Menebus dosa?"
Pavlena menundukkan kepala, tak berani menatap mata penuh amarah milik mantan suaminya, atau belum—pria itu masih suaminya.
Pada akhirnya, Nikolai membuang wajah. Sungguh, ia tidak bisa memaafkan perempuan itu.
"Pergilah dan jangan pernah lagi menunjukkan wajahmu di hadapanku. Carilah gereja lain yang lebih jauh dari kota dan terpencil. Aku tidak peduli apakah kau masih hidup atau sudah mati."
Pavlena mengangguk kecil, walau Nikolai tidak bisa melihatnya. Perempuan itu bangkit dari duduknya hendak pergi.
"Tapi kau harus ingat satu hal, moya dusha." Suara Nikolai kembali menghentikan langkahnya.
Moya dusha. Pria itu bahkan masih memanggilnya seperti itu.
"Sampai kapan pun kau tidak akan bisa melupakan dosa-dosa yang telah kau perbuat. Setiap hari aku akan berdoa agar kau tidak akan pernah lagi menemukan cinta yang tulus. Bahkan tidak di kehidupan selanjutnya. Live with what you've done, that's all you can do now."
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
