Selama bertahun-tahun, Nikolai meyakini bahwa membenci Romeo jauh lebih mudah daripada menerima kenyataan bahwa hidupnya telah direnggut oleh begitu banyak kebohongan sekaligus. Hingga akhirnya kebenaran itu terungkap. Dan kenyataan yang menantinya jauh lebih menyakitkan daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.
Romeo memang bersalah, namun pria itu bukan satu-satunya pelaku. Ada sosok lain yang selama ini bersembunyi di balik seluruh tragedi tersebut. Seseorang yang berdiri begitu dekat hingga Nikolai tidak pernah benar-benar melihatnya.
Leo.
Fakta bahwa orang terdekatnya juga selama ini memegang pisau dan menusuknya dari belakang, sangat menghancurkan Nikolai.
Selama ini ia mengarahkan seluruh kebenciannya pada Romeo, sementara Leo berdiri di sisi, menyaksikan kehancurannya sedikit demi sedikit. Leo mendengar setiap amarah yang ia lontarkan, melihat bagaimana dirinya perlahan kehilangan akal sehat, namun tetap membiarkannya hidup di dalam kebohongan tercipta akibat pria itu.
Karena itulah, ketika mengetahui peran Leo dalam semua ini, kemarahannya justru kian menggerogotinya.
Leo berselingkuh dengan Pavlena, istrinya.
Pria itu selama ini bermain gila dengan istrinya, dan Nikolai layaknya keledai dungu yang tidak mengetahui apa pun.
Sungguh, begitu bodoh dan naif, Nikolai.
Sama seperti yang telah Leo lakukan, Nikolai ingin pria itu merasakan rasa sakit yang sama seperti yang Nikolai rasakan.
Untuk sesaat, ia akan mengesampingkan Romeo. Semata-mata karena hanya ingin semua orang yang terlibat mendapatkan ganjaran yang setimpal.
Maka dari itu, Nikolai secara khusus memanggil Arona untuk kembali ke kelab malamnya. Dan tentu saja, perempuan itu akan dengan sukarela merangkak kembali ke atas pangkuan Nikolai.
Nikolai tahu, tak peduli seberapa jauh ia membuang Arona, perempuan itu akan terus kembali padanya. Meski kini Leo telah memungut dan menampungnya, namun cinta yang pria itu tawarkan tak akan pernah cukup bagi dahaga Arona yang menginginkan Nikolai.
"I knew you'd always come back to me, Arona."
Nikolai mengusap puncak kepala perempuan yang kini duduk di atas pangkuannya, perut perempuan itu kini mulai membesar, tak lagi bisa disembunyikan oleh pakaian yang dikenakannya. Meski demikian, Arona tetap datang saat Nikolai memintanya.
"Tuan ...." Suara Arona lirih, setengah berbisik. "Aku merindukanmu, lebih dari apa pun." Perempuan itu menunduk sesaat, menempelkan wajah pada dada Nikolai. "Every night, I'd fall asleep thinking about you, and every morning I'd wake up wishing it was your arms around me."
"Apakah si payah itu tidak bisa memuaskanmu?" Nikolai menarik dagu Arona agar menatapnya. "Hingga kau terus memikirkanku?"
Mata Arona tampak berkaca, ia memang seorang pelacur dan tahu mungkin Nikolai hanya mempermainkannya. Tetapi sungguh, Arona tidak peduli. Bagaimanapun ia memiliki hati, dan hati itu ada pada Nikolai.
Arona tak peduli bagaimana Nikolai memperlakukannya, yang terpenting ia bisa berada dekat dengan Nikolai, hanya itu.
Meski tengah mengandung anak pria lain, meski pria lain memperlakukannya dengan sangat baik juga tulus, sungguh Arona tidak peduli. Jika Nikolai memanggilnya, maka ia akan kembali pada pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
