Saat Eleanore kembali ke dalam kamar rawat inap, ia mendapati Nikolai yang tengah berjuang turun dari tempat tidur. Pria itu mendengus dan mengerang frustrasi, tampak menahan sakit. Satu tangannya mencengkeram pagar ranjang, sementara tangan lainnya berusaha menopang tubuh.
Nikolai membeku saat mendengar suara pintu terbuka dan tertutup. Wajahnya yang semula berkerut menahan sakit seketika berubah masam saat mendapati Eleanore berdiri di ambang pintu dengan mata terbelalak.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nikolai ketus.
"Apa yang sedang kau lakukan?!" pekik Eleanore. "Kau mau jahitanmu terbuka?! Mau tulang rusukmu makin parah?!"
"I'm fine," gerutu Nikolai.
"Lay back down!" perintah Eleanore, buru-buru mendekat berusaha membantu pria itu. Namun, Nikolai dengan cepat menepisnya.
"You're not my mom!"
"Damn right, I'm not. That's why I don't have enough patience to deal with your shits!"
Nikolai sedikit terkejut mendengar respon perempuan itu, tatapannya berubah menjadi sedikit geli, terhibur, dan tak percaya. Sungguh, kesabaran perempuan itu sangat tipis.
Tanpa sadar, tubuhnya bergerak kembali berbaring ke atas ranjang, mematuhi perintah perempuan tersebut.
"I was going to the toilet, you know?" gumam Nikolai.
Eleanore menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. Tanpa berkata apa-apa, ia makin merapatkan tubuh ke sisi ranjang. Tangannya meraih lengan Nikolai lalu melingkarkannya ke sekeliling pundaknya.
"What are you doing?" tanya Nikolai bingung.
"Helping an idiot. Kau mau ke toilet, bukan?" Wajah Eleanore tampak sangat datar dan polos saat mengatakan hal itu, seolah tak ada yang salah dengan ucapannya.
Untuk beberapa saat, Nikolai terdiam tak percaya, sebelum akhirnya berusaha melepaskan diri dari perempuan itu.
"I can go by myself!" bantah Nikolai setelah berkurang keterkejutannya. "Kau gila? Aku pria dan kau perempuan! Kau ingin melihat tubuhku?"
Eleanore mengangkat sebelah alis. "Lalu?"
"Lalu?" ulang Nikolai tak percaya. "I'm not your husband! Kau tidak bisa melakukan segala hal seenaknya!"
"Bagian mana yang membuatmu malu?" Eleanore memandangnya dari atas ke bawah sebelum mendengus pelan. "Aku sudah melihat semua bagian tubuhmu tanpa sehelai benang pun sebelumnya. Jadi, apa lagi yang kau permasalahkan? Kita sudah melebihi suami dan istri."
"Tidak—"
"Sudah kubilang kau bisa memperparah lukamu," geram Eleanore. "Dan tangan kananmu masih diperban sepenuhnya. Jahitannya masih basah semua. Bagaimana kau membersihkan diri nanti?"
Sekarang, Nikolai benar-benar terkejut dengan sikap dan omongan perempuan itu. Belum pernah ada yang memperlakukannya seperti ini. Bahkan Pavlena pun tidak pernah.
"I've seen everything," ucap Eleanore lagi dengan santai. "Aku juga masih mengingat semua bentuknya."
Nikolai bergidik. Ekspresinya berubah-ubah, antara tidak percaya, terkejut, bingung, geli, dan ... malu.
Pria itu berniat untuk menjauh ketika Eleanore kembali menarik lengannya dan melingkarkannya pada bahunya.
"Kau mau aku membantumu atau aku panggilkan istrimu?"
Nikolai langsung membeku, terkejut bukan main. Untuk sesaat wajahnya tampak begitu dungu seolah ada yang baru saja melemparkan batu ke kepalanya.
Bagaimana Eleanore bisa tahu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
