Nikolai membenci pesta, terlebih jika ada Romeo di dalamnya. Namun, malam ini, ia justru menantikannya. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Romeo saat menyadari bahwa ia datang bersama Eleanore, mantan kekasihnya.
Seluruh dunia, atau tepatnya Romeo Romanoff, harus melihat bahwa perempuan yang dulu berada di sisinya, kini berdiri di samping orang lain, di sampingnya.
Sudut bibir Nikolai terangkat tipis dengan hanya membayangkan bagaimana harga diri pria itu akan merasa terluka karena melihat keduanya bersama.
Malam ini, Eleanore hadir dengan sepotong gaun hitam yang membalut tubuhnya dengan sempurna, berpadu dengan stilettos berwarna senada. Potongan gaunnya menegaskan setiap lekuk tubuh perempuan itu. Rambutnya tertata rapi, memperlihatkan garis leher yang pernah dipenuhi dengan jejak Nikolai.
Nikolai memperhatikannya lebih lama ketika perempuan itu berada tepat di hadapannya. "Apa aku perlu memuji penampilanmu?" sambut Nikolai, pria itu bersandar pada mobilnya yang terparkir di depan apartemen Eleanore.
"Satu-satunya hal yang harus kau lakukan hanya diam."
Alis Nikolai terangkat tipis, nyaris geli.
"Kau yang mengemudi," ujarnya kemudian, menahan tangan Eleanore yang hendak membuka pintu penumpang.
Dengan tanpa bersalah Nikolai masuk ke dalam bagian penumpang depan, meninggalkan kunci mobil di tangan Eleanore.
"What are you waiting for? Get in."
Eleanore menatapnya tak percaya. "Setidaknya Romeo tidak pernah menyuruhku mengemudi." Ia mengembuskan napas kasar sebelum akhirnya mengalah dan masuk ke kursi pengemudi.
"Well, good for him, tapi aku bukan Romanoff." Ia menarik sabuk pengaman Eleanore dan memasangkannya. "Selalu ada kelebihan dan kekurangan, bukan? At least, I'm not hiding you."
"Such a fucking bastard," gumam Eleanore pelan, masih bisa didengar oleh Nikolai.
Mendengar itu, justru membuat Nikolai terkekeh rendah, merasa terhibur. "Apa umpatan itu untukku?" tanya Nikolai sembari memperhatikan Eleanore yang dipenuhi dengan kerutan kekesalan pada wajahnya.
"Bukankah sudah jelas? Apa tidak ada yang pernah memberitahumu bahwa kau bajingan sialan?"
"Biasanya mereka memanggilku bajingan tampan, kau orang pertama yang memanggilku bajingan sialan."
"Dan kau bangga dengan itu?"
"Setidaknya aku tampan."
"Kepercayaan dirimu benar-benar membuatku terkesan."
***
"Berhenti menatapku," peringat Eleanore, merasa terganggu oleh tatapan intens Nikolai.
Peringatan itu diindahkan oleh Nikolai, namun tangannya justru bergerak nakal, berusaha menyentuh paha Eleanore.
"Jangan menyentuhku," peringat Eleanore untuk kesekian kalinya, seraya menepis tangan pria itu.
"Tidak boleh menatap, tidak boleh menyentuh," Nikolai bergumam ringan. "Lalu apa yang boleh?"
"Enyahlah."
"Menggemaskan," gumam Nikolai, mencubit wajah Eleanore gemas, hingga perempuan itu refleks mendelik, jijik.
Melihat itu, Nikolai justru sengaja mendekatkan diri ke arah Eleanore sembari menopang dagunya, memperhatikan Eleanore yang berusaha fokus dengan jalanan.
"Aku selalu penasaran, perempuan seperti apa yang bisa menaklukkan seorang Romeo Romanoff." Ia tersenyum tipis. "Ternyata seleranya tidak buruk."
Eleanore tidak menanggapi. Ia tetap fokus ke jalan, seolah pria di sampingnya tidak ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romantik[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
