Bab 33

23.9K 1.2K 76
                                        

Seperti luka lama yang kembali dirobek paksa, ingatan akan masa lalu ketiganya muncul begitu saja di benak Nikolai.

Bertahun-tahun lalu, jauh sebelum Nikolai bertemu dengan Pavlena, perempuan itu memang telah memiliki pujaan hati yang bersemayam di dalam hatinya. Pria itu adalah Leo.

Keduanya begitu dekat, hingga siapa pun yang melihat akan bergidik ngeri dan mengira bahwa mereka sepasang kekasih. Meski nyatanya, keduanya tidak memiliki status apa pun. Ya, keduanya memang saling menyukai tapi tak pernah terikat dalam status yang resmi.

Nikolai mengetahui segalanya. Ia mengetahui bahwa Leo mencintai Pavlena, begitu juga sebaliknya. Tetapi, ia tidak terlalu memikirkannya. Bahkan, ketika perjodohan yang mengikat dirinya juga Pavlena masuk, ia tidak peduli.

Saat itu, Pavlena juga menyetujui perjodohan tersebut dan memberi tahu Nikolai bahwa ia siap untuk meninggalkan Leo, entah apa alasannya.

Jadi, seharusnya itu bukan masalah, benar?

Oh, betapa Nikolai berharap dirinya yang dulu lebih waspada dan berhati-hati dalam melabuhkan perasaan.

Pada awalnya, Nikolai memang tidak mencintai Pavlena. Tetapi, seiring berjalannya waktu, ia mulai terbiasa dengan kehadiran Pavlena. Perlahan tapi pasti, mereka membentuk sebuah rutinitas yang tenang dan tenteram, layaknya pasangan suami-istri muda yang normal.

Kemudian, sedikit demi sedikit Nikolai mulai mencintai Pavlena. Mungkin tidak sedalam perasaan yang dimiliki Leo, dan jelas hubungannya tidak mengendap begitu lama seperti yang dimiliki Leo dan Pavlena. Tetapi, Nikolai bisa dengan lantang, yakin, dan jujur mengatakan bahwa perasaannya kepada sang istri tulus.

Waktu berlalu begitu saja dengan Pavlena di sisinya. Perempuan itu pun lama kelamaan menerima kehadiran Nikolai. Dia tidak pernah menolak sentuhan dan afeksi sang suami. Tawa dan senyumnya hampir sama bahagia dengan yang ditunjukkan saat dia masih bersama Leo.

Keduanya tidak pernah lagi berinteraksi dengan Leo sejak menikah. Pavlena pun tidak pernah mengungkit nama pria itu di hadapan Nikolai. Dan Nikolai tidak pernah berusaha mengorek atau menginterogasi. Baginya, masa lalu adalah masa lalu, tak perlu diusik lagi.

Semua interaksi yang ada antara mereka membuat Nikolai percaya bahwa kisah di antara Leo dan Pavlena telah berakhir. Karena itulah ia tidak pernah membayangkan kemungkinan bahwa keduanya tengah bersandiwara dan mengkhianatinya.

Hubungan Leo dan Pavlena tidak berakhir, meski mereka telah menikah. Justru sebaliknya, keduanya makin menggila, membuat Nikolai terlihat seperti badut dungu yang tidak mengetahui apa pun.

Fokus Nikolai kembali ke masa sekarang saat tawa ironis menyeruak keluar dari tenggorokannya. Makin lama makin keras. Memantul berkali-kali di dinding columbarium hingga memekakkan telinga.

Leo mundur beberapa langkah. Tak dimungkiri dia merasa sedikit takut dan waswas Nikolai akan menghajarnya lagi. Jantungnya berdegup sangat kencang. Pandangannya pun bertemu dengan Pavlena yang juga terlihat ketakutan setengah mati.

Tawa gila Nikolai berangsur-angsur mereda. Pria itu menegakkan tubuh dan menatap mantan istri dan sepupunya bergantian, sebelum kemudian berhenti cukup lama di wajah Pavlena yang kian memucat.

"Oh, moya dusha ...," bisik Nikolai. Seringai mengerikan terulas di wajah tampannya. "Betapa pintar dirimu bersandiwara dan membodohi para lelaki di sekitarmu."

Sekujur tubuh Pavlena gemetar hebat sekarang. Lututnya sangat lemas, tapi juga tak bisa digerakkan. Dia terpaksa berdiri merapat ke etalase berisi abu-abu orang mati sambil memanjatkan doa-doa memohon pengampunan kepada Yang Maha Kuasa.

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang