Eleanore sungguh tidak bisa memahami emosinya yang terus bergejolak dan terasa sangat sensitif. Benar kata Nikolai, ia seperti kehilangan dirinya sendiri. Seluruh kepercayaan diri dan keberaniannya seakan menguap begitu saja dalam dua hari terakhir.
Sejak kepala pelayan membantunya membersihkan diri dan meninggalkannya beberapa jam yang lalu, Eleanore tidak melakukan apa pun selain duduk bersandar di sisi ranjang, memeluk kedua lutut sambil memandangi pintu kamar yang tak kunjung terbuka.
Sesekali matanya melirik jam dinding lalu kembali ke pintu. Nikolai bilang ia akan kembali sebelum tengah malam, dan ini hampir tengah malam. Namun, pria itu tak kunjung kembali.
Perempuan itu mengembuskan napas panjang, berusaha meyakinkan diri bahwa Nikolai pasti baik-baik saja. Tetapi, entah mengapa, dadanya justru terasa makin sesak. Kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang terus bermunculan tanpa diminta. Bagaimana jika Nikolai terluka? Bagaimana jika pria itu sengaja mencari Romeo seorang diri? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?
Eleanore memejamkan mata rapat-rapat. Sejak kapan ia mulai mengkhawatirkan Nikolai sebesar ini? Biasanya ia tidak pernah peduli pria itu pulang atau tidak. Bahkan, jika Nikolai menghilang selama satu bulan penuh, Eleanore hanya akan mengedikkan bahu.
Namun, malam ini ia terus mendengarkan setiap suara langkah kaki yang terdengar dari luar kamar, berharap itu Nikolai. Setiap kali suara itu menjauh, hatinya ikut tenggelam dalam kesunyian.
Beberapa kali perutnya juga terasa tidak nyaman. Bukan karena lapar. Sebaliknya, perutnya begiu nyeri dan terasa aneh hingga membuatnya kehilangan selera makan sejak sore tadi.
Yana, sikepala pelayan, sempat mengantarkan makan malam langsung pada Eleanore. Tetapi, yang berhasil masuk ke perutnya hanyalah beberapa teguk air putih dan dua suap sup hangat sebelum rasa mual datang begitu saja.
Aneh.
Mungkin karena ia sedang tertekan. Biasanya orang yang mengalami tekanan berat memang bisa kehilangan nafsu makan, bukan?
Beberapa hari belakangan, karena segala permasalahan yang dihadapi, ia menjadi cepat lelah, kepalanya berat, emosinya naik-turun tanpa alasan yang jelas. Bahkan hal sesederhana menyadari Nikolai belum kunjung kembali membuatnya ingin menangis.
Ia mengusap wajahnya frustrasi.
Tanpa sadar, jemarinya meraih ponsel di atas nakas, menatap kontak Nikolai yang tertera di layar. Ibu jarinya menggantung beberapa detik di atas tombol panggil, lalu mengurungkan niat.
Tidak.
Pria itu pasti sedang mengurus sesuatu yang penting. Ia tidak ingin mengganggunya. Dan, lagi pula, Nikolai telah berjanji untuk kembali.
Meski jauh di dalam hatinya—sangat aneh, tapi nyata—Eleanore hanya ingin pria itu kembali secepat mungkin, saat ini ia hanya butuh pria itu di sisinya.
Nikolai ....
Melafalkan nama pria itu di dalam hati membuat Eleanore kembali teringat bagaimana pria itu melindunginya dari serangan telur busuk. Pria itu bahkan mengomel karena mengkhawatirkan Eleanore.
Momen itu juga menjadi yang terburuk di hidup Eleanore. Karena, kini bayangan akan telur busuk yang pecah di rambut dan pakaiannya belum benar-benar hilang. Ia masih bisa mengingat tatapan penuh kebencian orang-orang itu, umpatan yang diteriakkan tepat di depan wajahnya, dan boneka berlumuran merah yang dikirimkan seseorang.
Tanpa sadar, matanya mulai memanas. Sungguh ia takut. Bagaimanapun, ia juga perempuan yang bisa merasa takut.
Eleanore tak selalu kuat, meski terlihat begitu. Ia juga memiliki titik lemah dan rasa lelah jika sesuatu terus terjadi dan mengujinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
