Bau asap itu belum sepenuhnya hilang dari kepala Nikolai; ia masih mengingatnya dengan sangat jelas. Bahkan sekarang, ketika berada di rumah sakit, aroma obat tetap kalah dengan bau asap yang memenuhi indra penciumannya. Sungguh panas dan mencekik.
Nahasnya, kini, bau asap itu membuat Nikolai kembali mendengar suara ledakan di kepalanya. Semua potongan-potongan ingatan tentang gereja yang menewaskan istrinya kembali muncul. Semua bayangan yang selama ini menghantuinya, trauma yang lahir dari sebuah rekayasa, sekali lagi menghantui.
Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana dirinya berusaha masuk kembali ke dalam gereja yang hampir runtuh saat semua orang justru mencoba menahannya. Ia masih mengingat panas api yang membakar tangannya saat memukul pintu kayu gereja yang sudah roboh sebagian.
Namun, semuanya terlambat. Ledakan kedua menghancurkan sebagian bangunan tepat di depan matanya. Dan, setelah malam itu, Nikolai tidak pernah bisa melihat api dengan cara yang sama lagi.
Asap, alarm, percikan kecil dari kompor—semua yang ia lihat pagi ini cukup untuk membuat tubuhnya kembali mengingat malam itu meski pikirannya berusaha menyangkal.
Dan, sialnya, kini Nikolai harus memaksa diri menghadapi semua ketakutan itu. Karena kini ia tahu bahwa kejadian itu bukanlah tragedi, melainkan kebohongan yang dirancang untuk membodohinya.
Hari itu Pavlena tidak mati sebagai korban. Perempuan itu memilih berdiri di sisi Romeo Romanoff, bersekongkol dengannya untuk menutupi pengkhianatan yang selama ini disembunyikan dari Nikolai.
Ledakan gereja itu hanyalah cara paling sempurna untuk menghapus jejak, memalsukan kematian, dan meninggalkan Nikolai hidup bersama rasa bersalah yang perlahan menghancurkannya selama bertahun-tahun.
Nikolai perlahan membuka mata lagi. Kali ini ruang rumah sakit terlihat dengan jelas. Tatapannya jatuh pada sosok perempuan yang masih tertidur di atas ranjang.
Eleanore.
Wajah perempuan itu tampak lebih pucat dari biasanya, sementara salah satu tangannya diperban akibat luka bakar ringan. Mungkin luka itu ia dapatkan karena berusaha memegang panci tadi.
Nikolai menatap perban itu cukup lama. Tanpa sadar rahangnya mengeras mengingat kembali betapa bodohnya Eleanore saat kembali masuk ke dalam apartemen yang hampir terbakar hanya demi sebuah bingkai foto.
Perlahan Nikolai menyender di kursi. Lelah mulai terasa sekarang setelah adrenalin dalam tubuhnya menghilang sedikit demi sedikit. Pandangan pria itu bergerak ke meja kecil di samping ranjang, tepat di mana bingkai foto yang Eleanore selamatkan berada. Bingkai yang tadi dipeluk Eleanore mati-matian bahkan saat apartemennya hampir dipenuhi api.
Nikolai menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya meraih bingkai tersebut. Terdapat selembar foto lama di dalamnya, memperlihatkan seorang perempuan yang tengah tersenyum sembari memeluk anak kecil.
Dahi Nikolai berkerut tipis, berusaha mengenali sosok di dalamnya. perempuan itu terlihat mirip dengan Eleanore, tetapi gaya berpakaiannya cukup berbeda. Sedangkan anak kecil yang berada dalam pelukannya ... Nikolai yakin ia adalah Eleanore.
Ah, jadi ini foto Eleanore dan ibunya.
"Seberharga itukah foto ini?" gumam Nikolai, pandangannya tak lepas, mengamati foto itu dengan saksama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romansa[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
