Tubuh Eleanore terimpit antara pintu dan tubuh Nikolai ketika ia didorong ke permukaan pintu kaca balkon.
"You came all this way ...." Suaranya sedikit bergetar karena dingin dari sela pintu balkon menggigitnya. "To prove you weren't guilty, just for this? Just to take off my clothes and do this?"
Eleanore berusaha mendorong pria itu ketika Nikolai tak menanggapi ucapannya. Tetapi, pria itu justru membuka pintu balkon dan mendorong tubuh Eleanore keluar.
"Kau gila?" Eleanore mendelik, wajahnya memerah menahan malu ketika Nikolai membuatnya membungkuk di birai balkon dan menyingkap gaunnya. "Semua orang bisa melihat kita dari atas sini. Aku tidak mau menjadi tontonan."
"Aku suka menjadi tontonan, biarkan mereka melihat."
"You—" Napas Eleanore tersendat, jemarinya mencengkeram pegangan balkon yang dingin. "You damn—"
Umpatannya terputus kala Nikolai tiba-tiba menarik wajah perempuan itu ke belakang dengan satu tangan yang mencengkeram rahangnya, memaksanya menengadah. Perut Eleanore makin menekan tepian balkon, gaunnya terangkat berantakan tertiup angin malam.
Dan sebelum Eleanore sempat menyelesaikan makiannya, Nikolai membungkamnya dengan sebuah ciuman yang nyaris brutal membuat protes Eleanore lenyap menjadi desahan tertahan.
Posisi tubuhnya saat ini membuat ciuman itu terasa makin tidak seimbang. Lehernya tertarik ke belakang sementara Nikolai tetap berdiri di belakangnya, mendominasi seluruh ruang geraknya.
"This position is uncomfortable," Eleanore akhirnya mendesis pelan. Jemarinya makin kuat mencengkeram pegangan balkon ketika dinginnya angin malam menerpa kulit.
Nikolai hanya menunduk sedikit di belakangnya, seolah menikmati cara perempuan itu gemetar, antara marah dan malu.
"Instead of using that mouth to argue with me, save it for moaning instead. Kau tahu berdebat denganku sia-sia, jadi buka kakimu selebar mungkin dan membungkuklah. Let's finish this once out here, then I'll take you back inside."
Nikolai menggeser salah satu kakinya ke sela kaki Eleanore, memaksa perempuan itu membuka pijakan lebih lebar di depan pagar balkon. Sepatu kulit pria itu menahan pergelangan kaki Eleanore agar tetap di tempatnya, sementara satu tangannya menekan pelan pinggang perempuan itu supaya makin membungkuk ke depan.
Eleanore menggigit bibirnya kuat-kuat, posisi itu membuat wajahnya memanas karena malu, terlebih ketika Nikolai sama sekali tidak tampak tergesa. Pria itu justru menunduk perlahan ke lehernya. Bibir Nikolai mengecup sisi leher Eleanore berkali-kali, berusaha merangsangnya. Sesekali giginya menyentuh kulit perempuan itu, kemudian lidahnya ikut membelai bekas gigitan tersebut.
Tubuh Eleanore mulai melemah sedikit demi sedikit. "Nik ...." Suaranya mengecil, nyaris seperti lenguhan.
Pria itu hanya tersenyum samar di belakangnya sebelum bergerak membuka ritsleting celananya perlahan. Lalu Eleanore bisa merasakan sesuatu yang hangat dan keras menyentuh pahanya. Seketika ia menegang.
Nikolai menggesekkan dirinya perlahan, membuat napas Eleanore tak keruan. Perempuan itu memejamkan mata rapat ketika pria itu tertawa pelan di dekat telinganya.
"Sudah basah seperti ini? Padahal aku belum melakukan apa pun padamu."
Wajah Eleanore makin merah.
Nikolai memegang pinggangnya lebih erat saat mulai mengarahkan dirinya perlahan. Eleanore spontan menahan napas begitu merasakan tekanan itu, tubuhnya refleks melemah hingga hampir kehilangan keseimbangan, namun Nikolai langsung menahannya. Satu tangan pria itu mencengkeram pinggangnya kuat, menarik tubuh Eleanore kembali menempel ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romansa[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
