Setelah semuanya berakhir, kamar itu dipenuhi keheningan panjang yang hanya berisi suara napas mereka yang perlahan mulai tenang.
Eleanore tengkurap di atas ranjang tanpa tenaga sedikit pun tersisa, seprai kusut menutupi sebagian tubuhnya yang polos. Rambutnya berantakan di atas bantal sementara matanya nyaris tertutup karena lelah.
Di sampingnya, Nikolai berbaring dengan kemeja setengah terbuka. Ia memandang Eleanore beberapa detik sebelum akhirnya menarik pinggang perempuan itu pelan agar lebih mendekat. Tubuh Eleanore bergeser lemah hingga setengah badannya berada di atas tubuh Nikolai, ia sudah terlalu lelah untuk protes.
Nikolai lalu meraih sebuah kotak perhiasan hitam kecil di atas nakas di samping ranjang. Ia membukanya perlahan, memperlihatkan kalung berlian dengan permata merah besar di bagian tengahnya. Batu itu berkilau terkena cahaya lampu kamar. Warnanya menjadi sangat pekat, hampir menyerupai darah.
Diam-diam, Nikolai mengangkat kalung itu lalu meletakkannya di atas punggung Eleanore. Ketika permata dingin tersebut langsung menyentuh kulitnya, sang perempuan menggeliat kecil sambil mengerutkan wajah lelahnya.
"Hm ...," gumamnya lirih. "Kau taruh apa di atas tubuhku?"
"Permata Rusia," jawab Nikolai sambil membiarkan batu merah itu tetap berada di punggung perempuan tersebut. Tatapannya tidak lepas dari kilau permata yang kontras dengan kulit pucat Eleanore. "You know ...," gumamnya, menyentuh batu merah itu perlahan. "Since the first time I saw this gem, it reminded me of you."
Eleanore tidak menjawab, bahkan tidak membuka mata. Ia benar-benar lelah. Tetapi, kesadarannya belum menghilang sepenuhnya.
"Maybe because the first time we met ... you were wearing those red stilettos." Jemarinya bergerak pelan menyusuri rantai berlian itu. "The color looked exactly like this."
"Kenapa kau membawa permata itu kemari?" gumam Eleanore pelan tanpa benar-benar mengangkat kepala dari dada Nikolai. Suaranya masih berat karena lelah.
"Aku penasaran."
"Penasaran?"
Pria itu menunduk sedikit, membiarkan permata tersebut bergeser pelan di punggung Eleanore. "Setiap kali aku melihat permata ini, aku selalu teringat padamu," gumamnya rendah. "Jadi, aku ingin melihat bagaimana jadinya kalau benda ini benar-benar ada di tubuhmu."
"Kau ingin memberikannya padaku?" tanyanya malas. "Ini bayaran karena aku sudah melayanimu?"
Nikolai langsung tertawa pelan mendengar itu. "Meminjamkan," koreksinya santai.
Eleanore akhirnya mengangkat wajah sedikit untuk menatap pria itu datar. "Aku tidak tahu seorang Rohlstein bisa sepelit ini."
"Permata ini tak ternilai," katanya pelan sambil mengusap batu merah tersebut dengan ibu jarinya. "Aku mendapatkannya dengan susah payah. Romanoff mengincarnya selama bertahun-tahun dan tetap gagal mendapatkannya." Nikolai menatap Eleanore sekilas. "Tapi aku berhasil. Jadi, berapa pun harganya, aku tidak akan melepasnya."
Eleanore terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bergumam pelan, "I know."
Tentu saja ia tahu.
Dulu, ia sendiri yang menemani Romeo menghadiri berbagai pelelangan dan pertemuan pribadi demi mendapatkan permata itu. Romeo pernah begitu terobsesi memilikinya, dan tetap pulang dengan tangan kosong.
Nikolai lalu menunduk mendekati telinga Eleanore. "Ada acara minggu depan," bisiknya rendah. "Come with me, and wear this necklace for me."
Eleanore mengerutkan kening kecil. "Acara apa lagi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
