Bab 1

64.8K 2.5K 118
                                        

Nikolai Rohlstein merupakan putra sulung dari keluarga Rohlstein—salah satu keluarga paling berpengaruh di Rusia, kedudukannya setara dengan para bangsawan Rusia.

Sebagai penerus takhta Rohlstein, Nikolai memiliki ambisi yang besar ketika itu berhubungan dengan sesuatu yang harus ia capai. Kepribadiannya yang perfeksionis dan keras membuat beberapa orang kesulitan ketika harus berhadapan dengannya.

Seperti adonis dalam dunia nyata, Nikolai memiliki paras yang sangat tampan dan sempurna. Semua bayangan kesempurnaan seorang pria ada padanya.

Tuhan barangkali mencurahkan terlalu banyak kesempurnaan pada raga Nikolai, lalu menyeimbangkannya dengan satu kekurangan yang menjengkelkan, yaitu sikap arogan yang ia kenakan dengan begitu percaya diri.

Beberapa orang yang sudah pernah berhadapan dengan Nikolai pasti tahu bagaimana pria itu selalu memandang rendah orang lain, dan terkadang melupakan sopan santun, terutama ketika berhadapan dengan orang yang tidak ia sukai.

Jangan pernah berharap Nikolai akan melirik jika ia sudah tidak menyukai seseorang. Pria itu tidak akan segan menyingkirkan siapa saja yang mengusik atau berani menghalangi jalannya. Dan hal itu terjadi pada Romeo Romanoff, Pangeran Agung Rusia, yang menjadi musuh terbesar Nikolai. Bahkan ia tak segan untuk memusuhi pria yang akan menjadi pemimpin negaranya sendiri.

Mereka bilang, seseorang pasti memiliki setidaknya satu kelemahan dalam hidupnya. Tetapi, nahas, hal itu tak berlaku untuk Nikolai; ia tidak memiliki kelemahan. Karena tidak ada yang ia takuti di dunia ini. Satu-satunya kelemahan terbesar Nikolai sudah dilenyapkan oleh Romeo. Sejak saat itu, nama Romeo Romanoff menjadi nama yang akan hidup dalam kebenciannya.

"Auction hari ini berhasil kita menangkan lagi," ujar Yuriko, pria muda yang berdiri sedikit di belakangnya—tangan kanan yang entah bagaimana masih bertahan hingga sekarang.

"Seharusnya aku melihat wajah Romanoff saat gagal mendapatkan mimpinya selama ini."

"Pihaknya sudah mengalami kerugian besar sebelumnya, kemudian kalah telak dalam pelelangan permata kali ini."

Yuriko menyerahkan tablet yang menunjukkan foto sebuah permata merah yang baru saja mereka menangkan.

"Permata Rusia," gumam Nikolai penuh kemenangan. Di layar, permata tersebut berkilau dalam bidikan kamera, warnanya merah tua, nyaris seperti darah. Permata itu merupakan artefak lama milik kekaisaran Rusia yang pernah hilang tanpa jejak, berpindah tangan selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya muncul kembali di pelelangan eksklusif malam ini. Dan kini, permata itu jatuh ke tangan Nikolai.

"Romanoff sangat menginginkan permata ini sejak lama, ia sudah menghabiskan banyak uang untuk mendapatkannya. Namun, pada akhirnya, akulah yang mendapatkannya."

Layar tablet itu masih menampilkan kilau merah permata tersebut, namun minat Nikolai sudah pudar bahkan sebelum ia menyentuh permata itu langsung.

Nikolai menurunkan layarnya perlahan. Baginya, ini hanyalah kemenangan kecil yang tidak berarti. Tidak ada yang benar-benar bertahan cukup lama untuk menarik perhatiannya.

Keheningan menggantung sesaat, pria itu tampak mulai bosan ketika matanya justru menangkap sesuatu yang jauh lebih hidup daripada kilau permata di layar tadi—sepasang kaki jenjang yang berdiri tak jauh darinya, dibalut stiletto merah.

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang