Tentu saja Nikolai tidak akan membiarkan malam itu berakhir begitu saja setelah pertengkaran mereka. Awalnya, Nikolai memang hanya memeluk Eleanore, membiarkannya tidur di atas ranjang. Namun, makin malam, pria itu mulai mengganggu ketenangan Eleanore dengan kecupan-kecupan kecil di pelipis, lalu turun ke wajah, juga tengkuk. Hingga akhirnya jemari pria itu mulai menyentuh, bahkan dengan berani melucuti pakaiannya.
Layaknya pasangan setelah pertengkaran, malam mereka berubah menjadi sangat panjang dan menggairahkan. Pria itu tak membiarkannya beristirahat dengan tenang, entah berapa kali mereka terus melakukannya—atau tepatnya Nikolai yang terus menarik lalu mengajak Eleanore untuk berhubungan, lagi dan lagi. Bahkan ketika sang wanita sudah lemas, dan ia sudah mendapatkan puncak, Nikolai justru kembali mencium.
Menjelang dini hari, Eleanore sudah terlalu lemas untuk benar-benar protes pada Nikolai. Sialnya, pria itu tampak sangat menikmati keadaan tersebut. Karena, pagi harinya, hal pertama yang Eleanore rasakan saat membuka mata bukanlah segar atau tenang, melainkan lelah. Tubuhnya terasa berat, pinggangnya pegal, sementara matanya masih sulit terbuka sempurna akibat kurang tidur.
Jelas saja, Nikolai nyaris tidak memberinya kesempatan tidur semalaman. Sementara, pria itu sendiri justru tampak jauh lebih segar sekarang.
Nikolai sudah bangun lebih dulu. Pria itu berbaring setengah telentang di atas ranjang sambil menatap perempuan yang masih tertidur di atas dadanya.
Rambut Eleanore berantakan menutupi sebagian kulitnya, sementara jemari kecil perempuan itu masih menggenggam samar sisi tubuh Nikolai.
Sudut bibir pria itu terangkat kecil tanpa disadari, mendapati Eleanore yang begitu menggemaskan dalam tidurnya. Siapa sangka bahwa perempuan bertubuh kecil itu nyaris membunuhnya dengan lampu tidur. Sekarang, ia justru tertidur di atas tubuh Nikolai seperti tidak ingin berjauhan sama sekali.
Eleanore mengerang pelan saat akhirnya membuka mata. Kepalanya masih berat sementara tubuhnya terasa terlalu lemas untuk digerakkan. Pria sialan itu benar-benar tidak memberinya tidur yang layak semalam.
Perempuan itu mengangkat wajah sedikit dari dada Nikolai lalu menatap pria itu dengan mata setengah terbuka dan rambut berantakan.
"You know ...," gumamnya serak sambil memejam lagi matanya beberapa detik. "I really should've kicked you out last night."
Nikolai langsung terkekeh rendah mendengar itu. "Tapi kau tidak melakukannya.Which means a part of you wanted me here too. Jika tidak, tidak mungkin kau membukakan pintu untukku semalam."
"Big mistake."
"Mm." Jemarinya naik menyibak rambut dari wajah Eleanore pelan. "Lihat siapa yang berbicara? Perempuan yang sama, yang berbaring di atas tubuhku, bahkan memelukku dengan erat."
Eleanore berdecak malas sambil mencoba bangkit. Namun, baru sedikit bergerak, tubuhnya langsung menegang samar akibat rasa pegal di pinggang.
Sial.
Terkutuklah stamina pria Rusia itu.
Nikolai jelas menyadari perubahan ekspresinya karena pria itu langsung menahan tawa kecil di tenggorokan. Eleanore langsung menatap tajam.
"Don't."
"Aku bahkan belum mengatakan apa-apa."
"Wajahmu sudah sangat menyebalkan."
Nikolai akhirnya bangkit perlahan dari ranjang. Eleanore langsung menggulung tubuh dan meringkuk lemas di pinggir kasur dengan wajah kusut.
"Does it really hurt that much?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
