Bab 19

24.3K 1.3K 119
                                        

Sejak kembali dari gereja tua itu, Nikolai berubah aneh. Pria itu menjadi sangat pendiam. Dan itu bukan hal yang biasa. Bahkan, selama perjalanan meninggalkan gereja tua tersebut, pria itu nyaris tidak berbicara sama sekali. Ia hanya duduk di dekat jendela mobil dengan tatapan kosong mengarah ke luar, seolah pikirannya tertinggal di tempat itu.

Eleanore beberapa kali meliriknya bingung. Namun, Nikolai tidak menjelaskan apa pun. Jadi ia mengurungkan niat untuk bertanya atau mencari tahu lebih lanjut.

Yang lebih aneh lagi, pria itu menolak kembali ke ibu kota malam itu. Namun, tidak ada hotel layak di kota kecil tersebut. Pada akhirnya, mereka berhenti di sebuah kediaman tua milik kenalan keluarga Rohlstein di pinggiran hutan bersalju.

Rumah itu besar dan hangat, jauh lebih mewah dibanding bangunan lain di kota tersebut, meski tetap terasa sederhana dan asing. Lampu kuning redup memenuhi lorong-lorong kayunya, sementara perapian besar menyala di ruang utama sejak mereka datang.

Nikolai langsung mengurung diri di kamar. Pria itu bahkan tidak mengganti pakaian dengan benar. Ia hanya melepas mantel dan berbaring di ranjang dalam kamar gelap tanpa mengatakan apa pun pada Eleanore.

Selama berjam-jam pria itu tidak keluar dari kamarnya, membuat Eleanore mulai kesal. Perutnya sudah berbunyi pelan karena lapar, tapi tidak ada tanda-tanda sama sekali bahwa sang pria akan makan bersamanya.

Perempuan itu berdecak kecil. Tidak bisa begini terus.
Ia segera membuka pintu kamar Nikolai tanpa mengetuk. Begitu masuk, ruang itu gelap, hanya diterangi cahaya samar dari jendela luar yang dipenuhi salju. Nikolai tampak berbaring di atas ranjang dengan satu tangan menutupi mata, masih mengenakan kemeja hitam yang sedikit kusut.

Eleanore tahu, pria itu tidak tidur. Jelas ada sesuatu yang mengusik pria itu sejak dari gereja tadi. Entah apa pun itu, tetapi jelas hal yang besar.

Tanpa banyak bicara, Eleanore berjalan mendekat lalu naik ke atas tubuh Nikolai begitu saja, duduk di atas pria itu.

Nikolai akhirnya membuka mata sedikit. "I'm not in the mood for sex," gumamnya serak sambil kembali memejamkan mata.
Eleanore langsung mengerut kesal. "Aku lapar."

"Hm." Nikolai masih tidak bergerak dari tidurnya. "Aku akan menyuruh Yuriko membelikanmu makanan."

"I want to eat with you."

"Aku lelah, Eleanore, aku ingin tidur."

Eleanore langsung menarik kerah kemeja pria itu kesal sampai tubuh Nikolai sedikit terangkat dari bantal. "Kau sudah membawaku ke tempat asing aneh seperti ini," omelnya dengan wajah kesal. "Lalu sekarang kau mengabaikanku begitu saja? Dasar berengsek."

Nikolai akhirnya membuka mata sepenuhnya. Tatapannya tampak cukup lelah, berbeda dari biasanya.

Namun, Eleanore tak peduli. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, dan aku tidak peduli seberapa kacau isi kepalamu sekarang." Jemarinya masih mencengkeram kerah Nikolai. "Tapi jangan diam seperti orang mati dan meninggalkanku sendirian begini."

Hening beberapa detik, lalu Nikolai menghela napas pendek pelan. "What do you want?" tanyanya akhirnya.

Eleanore menatapnya beberapa saat sebelum menjawab singkat, "Temani aku merokok."

Nikolai mengalah. Meski dengan wajah lelah dan langkah malas, pria itu tetap menemani Eleanore keluar ke balkon kecil kediaman tersebut.

Udara malam di utara Rusia terasa jauh lebih dingin dibanding Moskow. Salju turun menutupi pagar balkon dan atap-atap rumah kecil di kejauhan.

Eleanore duduk di halaman balkon sambil merokok.

Satu batang.

Dua batang.

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang