Pavlena.
Entah siapa perempuan yang Nikolai panggil dalam tidurnya malam itu.
Sejak satu minggu yang lalu—ketika pria itu akhirnya sadar dan salah mengenali dirinya—Eleanore tidak pernah lagi terlihat di kediaman utama Rohlstein. Ia pulang ke apartemennya sendiri beberapa jam setelah dokter memastikan kondisi Nikolai sudah stabil dan pria itu benar-benar sadar sepenuhnya.
Lagi pula, Nikolai sudah tidak membutuhkannya lagi, bukan? Setidaknya itu yang terus Eleanore katakan pada dirinya sendiri. Bahwa kepulangannya sama sekali bukan karena pria itu salah mengenali dirinya, atau karena ia terganggu dengan nama asing itu.
Pavlena—cih.
Eleanore tidak mengenal perempuan itu. Namun, anehnya, nama tersebut terus terngiang di kepalanya dengan cara yang menjengkelkan.
Pria itu bahkan tidak pernah berbicara atau memanggil namanya dengan begitu lembut, seperti ia memanggil perempuan bernama Pavlena itu.
Dan, yang paling menyebalkan, Nikolai sama sekali tidak mencarinya setelah itu. Tidak ada telepon, pesan, bahkan ucapan terima kasih setelah Eleanore begadang semalaman merawatnya seperti orang gila.
Pria tidak tahu diri.
Padahal, Eleanore yang memaksa semua orang membawa Nikolai kembali ke ibu kota. Eleanore juga yang tetap tinggal di sisi ranjangnya selama berhari-hari sementara pria itu demam dan mengigau tidak jelas.
Namun, begitu sadar, Nikolai justru memanggil nama perempuan lain. Dan sekarang, pria itu bahkan tidak repot-repot mencarinya, setelah satu minggu berlalu.
That's good. Eleanore seharusnya senang karena akhirnya bisa menjauh dari Nikolai Rohlstein. Akan tetapi, tetap saja perasaannya sedikit terluka. Hal ini seolah menegaskan posisinya di dalam kehidupan Nikolai.
Sialan! umpat Eleanore dalam hati. Seharusnya, ia biarkan saja pria itu menderita dalam demamnya di tengah kota terpencil, terkurung dalam rumah bertumpuk salju. Seharusnya, ia tidak perlu repot-repot memaksa semua orang untuk mengoperasikan kereta dan memanggil dokter pribadi keluarga Rohlstein.
Hati Eleanore seperti tercabik. Pada akhirnya, ia selalu menjadi yang disingkirkan. Dilupakan. Semacam ampas yang telah diperas sedemikian rupa hingga tidak tersisa apa-apa lagi.
Eleanore baru saja melumatkan puntung rokoknya yang entah keberapa saat doorbell apartemennya berbunyi. Eleanore langsung mengangkat kepala. Tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya ketika ia buru-buru bangkit dan berjalan sedikit tergesa menuju intercom di dekat pintu.
Begitu layar kecil itu menyala, jantungnya langsung berdetak sedikit lebih keras. Karena, sosok yang baru saja memenuhi kepalanya, kini berdiri tepat di depan pintunya. Nikolai.
Pria itu mengenakan mantel hitam panjang khas musim dingin. Ekspresinya tampak begitu tenang, tidak segugup Eleanore.
Eleanore hanya diam menatap layar intercom beberapa detik—tidak berani bergerak, bahkan bernapas. Sampai akhirnya, terlihat Nikolai bergerak, dan detik berikutnya suara doorbell kembali terdengar.
Pria itu mengangkat wajah sedikit, menatap tepat ke arah kamera kecil intercom. "I know you're standing behind the door, Eleanore. So be nice and open it for me."
Eleanore langsung terlonjak kecil.
Sialan.
Bagaimana pria itu tahu?
Dengan wajah kesal—yang sebenarnya lebih gugup daripada marah—Eleanore akhirnya membuka pintu. Dan, benar saja, Nikolai langsung menyeringai kecil begitu melihatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
