Kesempatan itu sama halnya seperti kepercayaan, yang tak akan datang dua kali. Jika bukan Nikolai, maka pria lain yang akan mendapatkan kesempatan itu, menyisakan penyesalan untuknya. Oleh sebab itu, Nikolai tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ketika Eleanore membutuhkan bantuannya.
Hanya beberapa cumbuan ringan dan liar, Nikolai berhasil membawa Eleanore ke dalam kamar. Sungguh, Nikolai hanya pria normal yang cepat terbawa suasana ketika pancingan yang diberikan begitu menggoda, seperti Eleanore.
Dengan menggebu, pria itu mendorong tubuh Eleanore ke tembok tanpa melepas pagutannya.
"Sepertinya pria gila itu sudah memberimu dosis yang tinggi." Nikolai melempar tubuh perempuan itu ke atas ranjang layaknya sebuah boneka. "Apa dia ingin membunuhmu?"
Di satu sisi, Nikolai juga merasa senang atas aksi kotor pria tadi. Karena kebejatan itu, ia bisa menikmati hasilnya.
Eleanore melenguh. Dia menggeliat pelan, menyebabkan gaunnya terangkat dan paha mulusnya terpampang. Nikolai menjilat bibir. Celananya sudah terasa penuh sesak. Ujung bibirnya tertarik membentuk seringai menatap perempuan yang terbaring pasrah.
Perlahan, Nikolai turut naik ke atas ranjang. Ditariknya Eleanore ke dalam kungkungannya.
"Are you sure you want me to touch you?" Nikolai menunduk sedikit, jaraknya cukup dekat hingga napasnya nyaris menyentuh kulit perempuan itu. "Because once I do, you might regret it. I won't stop, not even if you beg me to."
Menjawab itu, Eleanore yang berada dalam pengaruh obat justru merengek, dan menarik tangan Nikolai dan meletakkannya di tulang selangkanya. Nikolai bisa merasakan debar jantung perempuan itu, dan mau tak mau menyeringai.
"Jangan salahkan aku untuk ini, aku hanya berbaik hati membantumu. You're lucky it was me."
Tak ingin membuang waktu lebih lama, Nikolai kembali memagut bibir perempuan itu, lidahnya tak tinggal diam, kini bergerak liar menjelajahi setiap sudut mulut Eleanore.
Satu desahan lolos ketika tangan Nikolai turun dan meremas buah dadanya. Tubuh perempuan itu makin mendambakan sentuhan sang pria. Antara sadar dan tidak, Eleanore melengkungkan punggungnya, berusaha menghapus sedikit jarak yang tersisa di antaranya dan Nikolai.
Seketika tawa Nikolai pecah ketika perempuan itu berusaha mendorong tubuhnya, membalik posisi mereka hingga kini Nikolai-lah yang berada di bawahnya. Dalam posisi seperti ini akan lebih mudah untuk perempuan itu mendominasi tubuh Nikolai. Ia menunduk membenamkan wajah pada leher Nikolai.
Dihirupnya aroma tubuh pria itu dalam-dalam. Dijelajahinya ruang antara rahang dan dada Nikolai dengan kecupan. Tangannya bergerak liar, membelai wajah, kemudian turun berusaha melepas kancing kemeja sang pria.
Wajah Nikolai terlihat penuh kemenangan menerima keliaran perempuan di hadapannya. Entah karena efek obat atau memang Eleanore begitu dominan, namun Nikolai sangat menyukainya.
Seperti anjing yang kelaparan, perempuan itu terus bergerak gelisah membuka seluruh kancing kemeja Nikolai dan menjelajahi tubuhnya dengan bibir.
"Mengapa terburu-buru?" Nikolai menahan tangan perempuan itu yang berusaha membuka celana miliknya.
Ibu jarinya membelai bibir yang sedikit membengkak dan tampak sedikit kacau itu. Sentuhan Nikolai makin membuat tubuh sang perempuan memanas serta jantungnya berdebar hebat.
Oh, ia tidak bisa menunggu lebih lama.
Saat ini, Eleanore terlalu mabuk untuk menyadari siapa yang ada di bawahnya. Rasa panas dan pusing menguasai tubuh, merampas kesadarannya sedikit demi sedikit. Eleanore kehilangan kendali, tak lagi mampu berpikir dengan waras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romantika[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
