[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya.
Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nikolai berlutut, mengangkat tinggi kaki jenjang perempuan yang tengah duduk di hadapannya, memakaikan sepasang stiletto merah yang baru saja ia beli sebagai hadiah.
"Perempuan sepertimu lebih pantas mendampingiku," ucapnya sembari mengecup stiletto merah yang telah membalut kaki perempuan itu dengan sempurna.
Bukannya merasa senang atas hadiah yang diberikan oleh Nikolai, perempuan itu justru menatapnya jijik.
Melihat itu justru membuat Nikolai terkekeh sejenak, ia tampak puas dengan ekspresi sang perempuan. "Kau tahu? Aku justru merasa sangat terhibur melihat ekspresimu saat ini." "Lepaskan aku, Nikolai."
"Tidak akan pernah." Nikolai bangkit dari posisinya, kini berdiri tepat di hadapan perempuan itu.
Ia mengeluarkan sebuah kalung. Bukan sekadar perhiasan, itu adalah Permata Rusia. Di bagian ujungnya, menggantung sebuah batu permata merah tua pekat yang hampir menyerupai darah, dipotong sempurna, membentuk oval.
"Permata Rusia ini pada awalnya juga milik Romeo," ucap Nikolai pelan, suaranya nyaris seperti bisikan yang disengaja untuk menggoda ketakutan. "Namun, akhirnya, semua yang pernah menjadi milik Romeo selalu berakhir di tanganku."
Perempuan itu refleks menegang, tubuhnya mundur sedikit dari posisi duduknya. Kalung itu kini berada sangat dekat dengan lehernya. Bisa Eleanore rasakan dingin dari rantai kalung juga permata itu hampir menyentuh kulitnya.
"Look how perfect it looks on you," gumam Nikolai, matanya turun perlahan, menikmati pemandangan itu seolah sebuah karya seni. "Tampaknya kalung ini memang dibuat untukmu."
Perempuan itu berusaha menarik diri. "Jangan sentuh aku—"
Namun, Nikolai lebih dulu memasang kalung tersebut pada leher sang perempuan. Pria itu tak langsung menjauh, sebaliknya, jarinya menyentuh permata itu, menekannya pelan tepat di tengah tulang selangka perempuan itu.
"Pergilah sejauh mungkin, sejauh yang kau bisa. Tapi, Eleanore ..., sampai ke neraka sekalipun aku akan terus menemukan dan menyeretmu kembali."
"Bedebah gila!" teriak perempuan itu memukul mundur tubuh Nikolai. Ketimbang merasa takut atau terintimidasi, ia lebih merasa jijik kepada Nikolai. "Seharusnya sejak awal aku menusuk lehermu, mengirimmu ke neraka agar kau membusuk di sana."
"Aku tidak keberatan jika kau berada di dalam neraka yang sama denganku. Jika tidak, maka aku akan kembali dari neraka dan membawamu bersamaku."
Nikolai meniup daun telinga perempuan itu seraya memainkan surai gelapnya, menghirup dalam aroma bunga peony yang melekat pada perempuan itu.
Ah, entah sejak kapan Nikolai sangat menyukai aroma ini. Rasanya seperti menghirup cocaine—membuatnya bahagia dan menjadi lebih antusias.
"Aku sudah lelah mendengar semua omong kosongmu. Kau membuatku makin muak."
Nikolai menyeringai puas mendengar pengakuan tersebut, ia mengangkat dagu perempuan itu agar mendongak. "Kataleeva Eleanore, apa aku harus mematahkan kakimu, agar kau berhenti mencoba melarikan diri dariku?"
Dengan cepat Eleanore menepis tangan Nikolai dan tanpa ragu meludahi wajah pria itu. "Ada banyak pelacur di luar sana, kau bisa memilih mereka."
Bukannya marah, tawa Nikolai justru menggema. Dengan santai, ia membersihkan wajahnya dengan sapu tangan. "Tidak ada yang sehebat dirimu ketika berada di atasku."
Menghina, memaki, meludahi, melukai, semua sudah Eleanore lakukan. Seharusnya ia tahu bahwa semua itu tidak ada gunanya. Karena Nikolai si bajingan sudah terobsesi kepadanya.
Pria itu makin senang setelah mendapat penolakan dan perlakuan kasar dari Eleanore.
"Apa yang membuat bajingan sepertimu begitu terobsesi kepadaku?"
"Stiletto merahmu," aku Nikolai mengingat kembali saat pertama kali ia melihat Eleanore berdiri dengan stiletto berwarna merah darah. "Setiap lekuk tubuhmu, aromamu, kaki jenjangmu, wajahmu, aku menyukai segala tentangmu, Eleanore."
"Kau melakukan ini hanya karena aku kekasih Romeo Romanoff, bukan? Tujuanmu hanyalah balas dendam, kau hanya ingin merebut segala hal yang menjadi milik Romeo."
"Perempuan pintar," gumam Nikolai. "Pada awalnya, aku memang tertarik karena kau adalah perempuannya Romanoff. Namun, sekarang, aku tertarik karena kau adalah Eleanore Lyubov, perempuan dengan stiletto merah kebanggaannya."
Stiletto merah kebanggaannya.
Sejak awal, Nikolai sadar bahwa stiletto itu tidak menarik. Sampai dikenakan oleh Eleanore, seketika, sepasang sepatu berhak tinggi itu tampak sangat memesona.
Eleanore dengan stiletto merahnya sudah menarik perhatian Nikolai, sejak pertemuan pertama mereka. Fakta bahwa Eleanore adalah kekasih Romeo Romanoff adalah alasan tambahan untuk Nikolai memiliki perempuan itu.
"Jika sejak awal aku tahu stiletto sialan ini akan mengantarkanku kepadamu, lebih baik aku mematahkan kakiku."
"Mau aku bantu?" tawar Nikolai. "Dengan senang hati aku bisa melakukannya."
Pria itu tidak main-main dengan ucapannya ketika ia kembali berlutut mengangkat kaki Eleanore dan menekannya dengan kuat seolah memang ingin mematahkannya.
"Apa rasanya sakit?" tanya Nikolai dengan senyum manis pada wajah tampannya.
Siapa pun yang melihat Nikolai pasti akan jatuh cinta, jika mereka tidak tahu bahwa dia adalah bajingan gila.
Eleanore menggigit bibir menahan sakit yang teramat sangat pada kaki kanannya. Ia tidak boleh berteriak atau menangis, karena Nikolai akan merasa makin senang.
"Begitulah rasanya saat kau lebih memilih untuk mematahkan kakimu ketimbang bertemu denganku."
Senyum manis pada wajah Nikolai berubah menjadi seringai yang sangat Eleanore benci.
"Berteriak, menangis, dan memohonlah agar aku melepaskanmu, Eleanore."
Ngilu mulai menjalari pergelangan kaki Eleanore tatkala Nikolai dengan sengaja menekannya lebih keras, seakan memaksa Eleanore untuk memohon.
Namun, Eleanore tetaplah Eleanore. Perempuan keras kepala itu tidak akan tunduk meski ia harus mati sekalipun. Ketimbang memohon, Eleanore lebih memilih untuk menahan rasa sakit.
Mungkin ia benar-benar akan kehilangan kakinya kali ini. "Kau tidak akan memohon?" tanya Nikolai, tampak kecewa. "Baiklah jika itu pilihanmu. Lagi pula, tanpa kaki cantikmu kau tidak akan bisa kabur lagi dariku. Aku tidak masalah jika kau tidak bisa mengenakan stiletto lagi, jika dengan ini kau bisa berada di sisiku selamanya."
Tepat saat itu Nikolai menekan kaki Eleanore dengan kuat bersamaan dengan perempuan itu yang kehilangan kesadarannya akibat rasa sakit yang tak tertahankan.
Sepertinya, kali ini Nikolai benar-benar mematahkan kakinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.