Mungkin Nikolai akan menyesali ucapannya, karena tidak lama setelah Nikolai mengatakan itu, kamar Eleanore langsung berubah seperti kapal pecah.
Sebuah bantal menghantam wajah Nikolai lebih dulu sampai pria itu refleks mundur kaget. Bukan hanya bantal, bahkan buku, kotak tisu, lampu, cushion sofa, hingga lampu tidur melayang tanpa ampun ke arah Nikolai yang kini terlihat setengah kelabakan menghindar di dalam kamar yang berantakan.
"Elea— hey, wait—"
Nikolai refleks menunduk cepat ketika sebuah bantal menghantam wajahnya cukup keras sebelum jatuh ke lantai. Perempuan itu benar-benar mengamuk sekarang.
"Bukankah kau sendiri yang menyuruhku marah?!" teriak Eleanore sambil meraih barang lain di meja. "Kau bilang aku boleh memukulmu!"
Sebuah buku kembali melayang ke arah Nikolai, dan sialnya hampir mengenai kepalanya.
"Why are you dodging now?!" bentak Eleanore makin kesal ketika pria itu menghindar lagi.
Nikolai langsung mundur satu langkah sambil mengangkat kedua tangannya menyerah. "Karena kau terlihat benar-benar berniat membunuhku sekarang!"
"Itu memang niatku!"
Eleanore kembali mengejarnya sambil memukul lengan pria itu dengan bantal besar. Nikolai setengah tertawa setengah panik berusaha menahan kedua tangan perempuan itu, namun Eleanore terus memberontak dengan wajah memerah penuh emosi.
"Kau bajingan!" bentaknya lagi. "Kau mencium perempuan lain di depanku!"
"Aku tahu, aku tahu—"
"Lalu kau masih punya keberanian untuk mengatakan kau memikirkan bibirku saat menciumnya?!"
Nikolai langsung terdiam sepersekian detik.
"Well ..., technically itu benar."
"GET THE FUCK OUT!"
Eleanore langsung meraih bantal lain dan memukul wajah pria itu lagi sampai Nikolai akhirnya benar-benar tertawa, meski pukulannya cukup menyakitkan. Aneh bukan? Ketika melihat Eleanore mengamuk seperti ini justru sedikit melegakan untuknya. Setidaknya perempuan itu akhirnya melampiaskan emosinya padanya, bukan menangis diam-diam sendirian.
"Okay, okay! Enough!" Nikolai akhirnya berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Eleanore sebelum perempuan itu kembali melempar sesuatu ke arahnya. "Kau benar-benar mengerikan saat marah."
"Lepaskan aku!"
"Aku akan melepaskanmu kalau kau berhenti mencoba membunuhku."
Eleanore mendecak kesal sambil terus memberontak kecil di pelukannya. Namun, Nikolai justru menangkup wajah perempuan itu. Seketika, Eleanore bagai terhipnotis dan berhenti.
"Jawab aku dengan jujur."
"What?"
"Kau marah karena Romanoff pernah melakukan hal yang sama dengan perempuan itu? Or are you angry because I kissed another woman?"
Tatapannya tidak lepas sedikit pun dari wajah Eleanore sekarang, pria itu benar-benar ingin mendengar jawabannya.
"Does it even matter right now?"
Nikolai mengangguk serius, sembari menahan kedua tangan Eleanore. takut jika perempuan itu menyerangnya lagi.
"Aku marah karena kau membohongiku. Kau bilang kau tidak menyentuh perempuan lain. Tetapi aku justru melihatmu mencium perempuan lain tepat di depan mataku. Dulu, aku melihat pria yang kucintai melakukan itu ...." Matanya mulai berkaca-kaca lagi setelahnya. "Dan sekarang pria yang mulai kupercayai melakukan hal yang sama .... Kalian sama saja ...."
Kalimat itu membuat rahang Nikolai mengeras samar.
"But I'm not Romanoff."
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
