Bab 45

26.3K 1.4K 164
                                        

"Jika kau bertanya apakah aku mencintainya, maka sungguh aku pun tidak tahu. Tapi, tiga tahun yang tidak aku dapatkan darimu, aku mendapatkan dari Nikolai hanya dalam tiga bulan."

"So ... you do love him?"

"He treated me the way I'd been hoping you would."

The way I'd been hoping you would.

Kalimat itu terus terngiang di kepala Eleanore sepanjang perjalanan pulang, bahkan ketika ia masih bersama Romeo.

Romeo memang pernah membuatnya jatuh cinta, ia pun masih mencintai pria itu.

Namun, Nikolai ... membuatnya merasa dicintai.

Saat mobil milik Romeo berbelok memasuki jalan menuju kediaman Nikolai, jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat. Ada perasaan aneh yang perlahan memenuhi dada.

Sesaat terlintas keinginan yang begitu asing—ia ingin bertemu dan memeluk pria itu.

Belum juga mobil berhenti dengan sempurna, Eleanore sudah membuka sabuk pengaman, terburu-buru meraih handle pintu.

"You're really eager to see him." Romeo menyadarinya. Ia segera menghentikan mobil di depan pintu utama, tanpa berniat untuk turun dan mengganggu perempuan itu.

Sudut bibir Romeo terangkat tipis. Ia bahagia untuk Eleanore, tapi di saat yang bersamaan juga merasakan sakit.

"Maybe, in another life," timpal Eleanore berbisik, suaranya tercekat seakan sesuatu mencekiknya. "We'd finally have the happiness we kept promising each other. Maybe in another life ... but this life was never meant for us."

Eleanore menatap Romeo untuk terakhir kali sebagai perempuan yang pernah mencintainya.

"Terima kasih, Romeo. Sekarang hiduplah dengan penyesalan yang selama tiga tahun ini kupikul sendirian. I hope one day it becomes heavy enough for you to understand how lonely it was to love you."

Mungkin terdengar kejam, tapi begitulah yang Eleanore rasakan terlepas dari rasa cintanya. Mungkin itu adalah cara terakhir untuknya menghargai dirinya sendiri atas segala hal yang terjadi.

Eleanore menarik napas panjang sebelum akhirnya berbalik, meninggalkan Romeo dan melangkah masuk ke kediaman Nikolai.

Ia meninggalkan masa lalunya di belakang dan sungguh kali ini langkahnya begitu mantap hingga enggan untuk berbalik, bahkan sekadar menoleh pun tidak.

Yang ia pikirkan saat itu hanya keinginannya untuk bertemu dengan Nikolai secepat mungkin, mencari sosok yang terus memenuhi kepalanya.

Begitu melewati pintu utama, langkah Eleanore perlahan melambat, mendapati sosok Nikolai yang tengah menuruni anak tangga seakan menyambutnya. Pria itu masih mengenakan setelan jas yang sama seperti saat konferensi pers beberapa jam lalu, di dalam video. Hanya saja dasi hitamnya sudah sedikit longgar, tiga kancing teratas kemejanya terbuka, juga wajahnya tampak tak bersahabat, dengan tatapan nyalang.

"Nik," panggil Eleanore, mengikuti arah pandangnya ke luar rumah, tepat ke arah sedan hitam milik Romeo yang baru meninggalkan halaman.

Saat itu, Eleanore menyadari bahwa rahang Nikolai mengeras, jelas pria itu marah sebelum akhirnya menatap Eleanore kembali dengan kecewa.

"Nik ...." Eleanore mengambil satu langkah mendekat. "Aku bisa jelaskan .... It's not what you think—"

"It doesn't matter what I think, does it?" sela Nikolai dengan nada sangat dingin. Hal itu membuat Eleanore makin gelisah. "You always do whatever you want, whether I'm okay with it or not."

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang