[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya.
Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
Jika bukan untuk mempermainkan Eleanore, maka Nikolai tidak akan sudi untuk menginjakkan kakinya di kediaman Romeo. Tempat itu bukan wilayahnya—dan ia tidak punya kepentingan apa pun selain satu hal sederhana, bahwa ia ingin sedikit menakuti Eleanore. Atau, jika perempuan itu tidak kunjung datang, maka Nikolai akan memberikan kejutan kecil pada Romeo Romanoff.
Namun, rencananya berubah setelah melihat seorang perempuan berambut pirang tengah bersama Romeo. Perempuan itu adalah tunangannya.
Bibirnya terangkat samar, membayangkan bahwa permainan ini akan makin menarik. Maka dari itu, ia memutuskan untuk menunggu kehadiran Eleanore dengan bersembunyi di balik pilar koridor.
Dan benar saja, tak berapa lama Nikolai melihat perempuan itu datang, bahkan berlari tergesa, ke dalam ruangan Romeo. Tak berapa lama kemudian, perempuan itu keluar dengan tubuh yang menegang.
Nikolai tahu bahwa apa yang perempuan itu lihat di dalam sana pasti sudah membuat hatinya hancur.
Ketertarikannya makin menjadi begitu melihat bagaimana Eleanore mampu menangani situasinya.
Dan ketika perempuan itu akhirnya melewatinya, barulah Nikolai muncul sebagai bumbu.
"Kau, dirimu, Eleanore." Ujung jarinya berhenti tepat di atas dada Eleanore, matanya kembali naik, menatap lurus ke dalam mata Eleanore. "Aku ingin dirimu."
Pria itu tiba-tiba bergerak sangat cepat, bahkan sebelum Eleanore berkedip. Posisi mereka bertukar dalam sekejap. Sekarang, Nikolai berdiri tepat di hadapan Eleanore, mengurungnya dengan lengan. Perempuan itu terjebak di antara tubuhnya dan dinding.
Tatapan Nikolai turun perlahan, kembali tertuju pada turtleneck yang membalut leher Eleanore. Seketika ia menyeringai tipis.
"Kau memakai turtleneck itu untuk menutupi mahakaryaku, mencoba untuk membodohiku kekasihmu." Pria itu terkekeh pelan, tatapannya merendah. "Namun, tampaknya justru kau yang dibodohi di sini. That must have hurt, didn't it? Menjadi pengecut dalam hubunganmu sendiri."
"Aku. Tidak. Membodohi. Siapa pun." Eleanore geram, menekan setiap katanya. "Hubunganku juga bukan urusanmu."
"Tidak membodohi siapa pun? Oh my sweet Eleanore, kau membodohi dirimu sendiri dengan terus berdiri di sisi pria pengecut itu."
"Watch your words when you speak of Romeo. Ingat batasan dan posisimu. Kau tidak pantas menyebutnya pengecut."
Nikolai terkekeh pelan. Suara tawanya rendah dan menyebalkan, jelas mengejek Eleanore.
"Bahkan setelah dikhianati, kau masih berdiri di sisinya dan membelanya. Tell me, Eleanore, what are you, exactly? Budak Romanoff atau babi kekaisaran?"
"Whatever happens between me and Romeo is none of your business." Suara Eleanore tajam, nyaris bergetar oleh amarah yang ditahan. "Jadi, berhenti bertingkah seolah kau memiliki hak untuk membicarakan hal itu."
Tanpa menunggu jawaban, Eleanore mendorong tubuh Nikolai, berniat untuk pergi. Namun, dengan cepat Nikolai kembali menahan pergelangan tangannya dan menarik perempuan itu kembali menempel ke pilar.
Satu tangannya menahan pergelangan Eleanore di atas kepala, yang lain bertumpu di dinding di sampingnya, menjebaknya tanpa ruang untuk lolos.
"Urusan kita belum selesai."
"Mengancamku dengan menggunakan Romeo tidak akan berhasil," geram Eleanore. "Kau tidak akan mendapatkan apa pun, jadi menyerahlah."
"Jadi kau tidak keberatan jika Romeo melihat video kita? Dia mungkin akan terkesan dengan betapa hebatnya performa dirimu, Eleanore."
"Kita berdua ada di dalam video itu, jadi aku tidak akan rugi sendiri." Eleanore berusaha tetap terdengar tangguh, walau suaranya sedikit gemetar. "Moralmu juga akan dipertanyakan karena merekam seorang perempuan tanpa persetujuan dan menyebarkannya. Kau pikir apa yang akan Romeo lakukan? He might be disappointed, but it won't change anything. He'll do whatever it takes to cover up any scandal involving me."
"Kau benar, Romanoff tidak akan pernah menikahimu, takhtanya jauh lebih penting dari apa pun." Nikolai menyeringai. "Dan jika dia melihat video itu, tidak akan ada yang berubah. Tapi ..., bagaimana jika ayahmu yang melihatnya?"
"Rohlstein!"
"Sssttt ...." Nikolai sengaja menyentuh bibir Eleanore, memberi isyarat agar perempuan itu diam. "Kau tidak takut kekasihmu melihat kita berdua di sini? Suaramu bisa mengundang para pengawalnya."
"Jangan pernah mendekati ayahku. Jika sampai—"
"Bukankah kau tidak berada di posisi yang tepat untuk mengucapkan kalimat itu? Seharusnya sekarang kau memohon dan berlutut agar aku tidak memberi tahu kekasihmu tentang apa yang terjadi semalam?"
"Berlutut dan memohon? Oh you wish, aku tidak akan pernah sudi berlutut kepada siapa pun, terutama dirimu."
"But last night, you were on your knees, begging for me. Wasn't the video clear enough?"
Eleanore menggertakkan gigi gerahamnya dengan kesal. "Berapa kali aku harus memperjelasnya? Jika dalam keadaan sadar, maka aku tidak sudi, dan tidak akan pernah melakukannya."
Nikolai tak langsung menjawab. Sebaliknya, tangan pria itu terangkat, menyentuh sisi wajah Eleanore.
"Reaksi seperti ini—" Matanya menelusuri setiap perubahan kecil di wajah perempuan itu. "—justru membuatku makin tertarik." Sudut bibirnya terangkat tipis. "Makin kau menolak dan mendorongku, maka semuanya terasa makin menyenangkan."
Dengan cepat Eleanore menepis tangan Nikolai. Tatapannya tajam bercampur jijik. "Jangan sentuh aku."
Alih-alih merasa tersinggung, Nikolai justru terkekeh pelan seolah ia menikmati reaksi itu.
"Simpan nomorku dengan baik. Kedepannya kita akan saling berkomunikasi."
"Jangan harap kita akan bertemu lagi."
Pandangan Nikolai turun pada stiletto hitam yang membalut kaki jenjang Eleanore. "Kali ini hitam? Di mana yang merah itu?"
"Sudah kubuang dan kupatahkan, karena stiletto merah itu membawa kesialan untukku."
"The black stiletto suits you, much better than the red."
"Keep your opinion to yourself, Rohlstein."
Detik itulah Nikolai menyadari bahwa ia telah menemukan mainan barunya. Kataleeva Eleanore sangat menarik dan akan sangat menyenangkan bermain-main dengannya sedikit lebih lama. Nikolai yakin bahwa ia tidak akan merasa bosan dalam waktu dekat.
"Jika aku sampai tidak bisa menghubungimu, maka aku akan langsung menghubungi Romanoff atau Tuan Lyubov. Kau tahu, aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku. Jika ingin membuktikannya, maka abaikan saja aku dan lihat apa yang terjadi."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.