Seharusnya Eleanore sudah mempertimbangkan segala konsekuensi yang akan terjadi setelah ia menginjakkan kaki ke dalam kelab malam. Pertengkaran besar yang terjadi antara dirinya dan Romeo, juga kebodohannya, yang menyeretnya sejauh ini.
Eleanore tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan berakhir di atas ranjang asing. Tubuhnya terasa lengket, dipenuhi jejak-jejak samar yang cukup untuk membuat perutnya mual hanya dengan melihatnya.
Keadaan kamar yang sudah sangat kacau seakan mempertegas segalanya, bahwa ia telah melakukan one night stand. Dan yang lebih buruk, bahkan tidak tahu dengan siapa.
"Argh ... bodoh," desisnya pelan sambil meremas rambutnya kesal berusaha mengingat apa yang sudah terjadi. Namun, kepalanya masih berat. Pikirannya kabur, hanya menyisakan potongan-potongan yang tak jelas.
Eleanore menoleh cepat ke sekeliling kamar, dan nihil. Tidak ada siapa pun di sana. Seketika jantungnya berdegup kencang, ia bangkit tergesa bahkan sedikit terhuyung sebelum akhirnya memungut gaun satin merahnya di lantai. Tanpa banyak berpikir, ia mengenakannya kembali, mengabaikan rasa tidak nyaman yang masih melekat di tubuhnya.
Eleanore tidak ingin berada di sana lebih lama, tidak ingin memikirkan apa yang terjadi, juga tidak ingin tahu. Satu-satunya hal yang ada di kepalanya sekarang hanya pergi.
***
Seberapa keras Eleanore mengusap tubuhnya dengan shower spons tak membuat jejak kemerahan yang ditinggalkan oleh pria semalam hilang. Justru kulitnya makin memerah.
Sebanyak apa pun sabun yang Eleanore tuang pada tubuhnya juga tak menghapus rasa kotor yang masih tertinggal dan menempel dalam pikirannya.
Ini pertama kalinya Eleanore melakukan one night stand dengan pria asing yang bahkan telah menghilang saat Eleanore terbangun.
Meski sejujurnya itu lebih baik.
Tanpa banyak berpikir, ia meraih pil kontrasepsi yang sudah ia beli sebelumnya, sekadar berjaga-jaga. Setelah itu, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, membiarkan rasa lelah dan pegal yang masih tersisa menggerogoti tubuhnya.
Untuk sesaat, semuanya terasa begitu tenang. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Pikirannya kembali menariknya pada satu hal yang belum selesai, yaitu Romeo.
Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar, sebelum perlahan berubah. Ingatan demi ingatan kembali muncul, tentang pertengkarannya dengan Romeo.
Sudah satu bulan hubungannya dengan Romeo tidak baik-baik saja, dan semalam adalah puncaknya. Hubungan mereka sudah berada di ujung tanduk, hanya tinggal waktu sebelum semuanya benar-benar berakhir.
Napas Eleanore tertahan. Ada sesuatu yang sesak di dadanya, membuat matanya mulai terasa panas, pandangannya mengabur. Namun, suara dering ponsel menahan air matanya.
Eleanore tersentak. Jemarinya bergerak cepat meraih ponsel di sampingnya. Ada harapan kecil yang muncul, bahwa mungkin Romeo yang menghubunginya.
Namun, harapan itu langsung pupus saat layar ponselnya menampilkan sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Kesal dan kecewa, Eleanore sudah hendak meletakkan ponselnya kembali, saat pesan lain muncul bertubi-tubi, dan masih dari nomor asing yang sama. Dahi perempuan itu berkerut dalam saat melihat ada beberapa rekaman video yang disisipkan di pesan-pesan terakhir. Jantungnya langsung berdegup kencang. Buru-buru dibukanya pesan tersebut.
Ini hadiah untukmu karena sudah memuaskanku.
Bagaimana jika aku mengirimkan video ini pada kekasihmu?
Aku penasaran bagaimana reaksinya saat menonton ini.
Tubuh Eleanore membeku, jemarinya bergetar saat memutar video-video itu. Di dalamnya, terdapat sebuah video yang menampilkan Eleanore sedang berlutut tanpa sehelai benang pun di hadapan pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
