Ketika Eleanore terbangun, sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong. Lagi, tidak ada Nikolai di sana. Pria itu sudah pergi entah ke mana. Namun, kali ini hari sudah mulai siang, sehingga Eleanore tak lagi takut.
Pria itu meninggalkan segelas air putih, obat pereda nyeri, dan secarik kertas kecil di atas nakas sebelah ranjangnya.
I'll be back soon. Don't wait for me.
Nik.
Eleanore mengembuskan napas pelan, menatap ke arah seprai yang kusut dan berantakan. Ia tidak tahu sejak kapan kepergian Nikolai mulai meninggalkan kekosongan. Meski enggan mengakui, namun Eleanore mulai menyukai kehadiran pria itu.
Tak berapa lama, lamunannya buyar karena sebuah ketukan pada pintu. Eleanore bergegas mengenakan kembali pakaian tidurnya yang dibuang Nikolai asal semalam.
"Come in."
Tepat saat itu, seorang pelayan masuk dengan wajah yang tampak gelisah.
"Nona, di bawah—"
Ucapan pelayan itu terpotong oleh suara gaduh yang tiba-tiba terdengar dari lantai bawah.
Awalnya memang samar, lalu makin jelas terdengar bersamaan dengan suara langkah kaki seakan berusaha menerobos masuk.
"Yang Mulia, kami mohon berhenti!"
"Kami tidak memiliki wewenang menyentuh Yang Mulia."
"Tolong tunggu Tuan Nikolai kembali."
Dahi Eleanore langsung berkerut. Yang Mulia?
"Ada apa?" tanya Eleanore pada pelayan yang bergegas menghampiri Eleanore. "Siapa yang datang?"
Pelayan itu menelan ludah sebelum menjawab dengan suara gemetar.
"Pa-Pangeran Agung, Nona."
Seketika Eleanore membeku, berharap ia salah mendengar.
"Beliau memaksa masuk ke dalam kediaman. Kami sudah berusaha menghentikannya, tetapi ... tidak ada seorang pun yang berani menghalangi Yang Mulia."
Suara ribut dari bawah kembali terdengar.
"Yang Mulia, kami mohon—"
"Menyingkir." Suara berat seorang pria terdengar menggema hingga ke lantai atas.
Pelayan itu langsung menundukkan kepala lebih dalam.
"Nona ..., mohon turun dan temui beliau. Mungkin hanya Nona yang bisa membujuk beliau untuk pergi. Jika Tuan Nikolai kembali dan mengetahui Yang Mulia berada di dalam rumah ini ...." Pelayan itu menggeleng pelan, wajahnya makin pucat. "Tuan pasti akan sangat marah."
Eleanore tidak menjawab, perasaan tidak enak langsung memenuhi dadanya. Tanpa membuang waktu lagi, ia bergegas keluar dari kamar, menuruni anak tangga hampir berlari.
Makin dekat ke lantai bawah, suara keributan itu terdengar makin jelas. Dan, sesampainya di ruang utama, langkah Eleanore langsung terhenti.
Sebab, ia mendapati sosok pria tinggi itu berdiri membelakanginya, dikelilingi beberapa pelayan dan petugas keamanan yang tidak berani menyentuhnya sedikit pun.
Tak seorang pun mampu mengusir seorang Pangeran Agung Rusia dari kediaman keluarga Rohlstein.
Romeo. Pria itu muncul entah dari mana.
"Elea," panggilnya ketika berbalik dan menyadari kehadiran Eleanore.
Pria itu berdiri di aula utama dengan napas sedikit memburu. Jas hitam yang dikenakannya tampak kusut, seolah ia datang terburu-buru tanpa memedulikan penampilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
