Bab 38

22.6K 1.1K 35
                                        

"Nik, I'm going out! Don't do anything stupid, okay?"

Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Eleanore bergegas keluar dari unit apartemennya, langsung melesat ke dalam lift yang kebetulan sedang terbuka.

Hari ini langit cukup cerah, dan suhu udara tidak terlalu menggigit. Setelah berbulan-bulan menghadapi musim dingin yang panjang, cuaca seperti ini terasa seperti hadiah kecil yang menyenangkan.

Salju masih menutupi sebagian besar jalanan, tetapi tidak lagi setebal sebelumnya. Banyak tumpukan salju mulai mencair dan menyusut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eleanore merasa cukup nyaman untuk keluar rumah tanpa harus khawatir terjebak badai salju atau angin dingin yang menusuk tulang.

Karena itulah ia memutuskan untuk memanfaatkan hari ini untuk berbelanja berbagai kebutuhan rumah tangga, termasuk beberapa jenis makanan jadi atau cepat saji. Sejak kejadian kebakaran kecil beberapa hari yang lalu, Eleanore tidak berani lagi menginjakkan kaki ke dapur. Ia lebih memilih memesan makanan dari restoran.

Eleanore tiba-tiba sangat menginginkan salad yang segar dengan sedikit rasa asam. Mungkin membeli beberapa jenis keju dan sebotol acar timun juga bukan ide yang buruk.

Membayangkan makan salad acar yang asam dengan keju membuat suasana hatinya makin bahagia.

Ah, pergi berbelanja sendirian jauh lebih mudah dibandingkan mengajak Nikolai. Pria itu sangat mudah terdistraksi. Mereka keluar untuk membeli satu atau dua barang, lalu berakhir berkeliling selama berjam-jam karena Nikolai tiba-tiba tertarik pada sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan tujuan awal mereka. Belum lagi kebiasaannya mengomentari hampir semua barang yang dilihatnya.

Dan, jika Eleanore jujur pada diri sendiri, ia juga ingin menikmati sedikit waktu sendirian. Karena, entah mengapa, belakangan ini Nikolai terus menempel padanya seperti seekor anak anjing.

Seperti sekarang. Nikolai pasti tengah marah dan merajuk saat mengetahui Eleanore pergi berbelanja tanpa mengajak dirinya.

Memikirkan hal itu membuat Eleanore menghela napas panjang. Tangannya refleks membuka tas untuk mengambil ponsel. Ia ingin memeriksa apakah pria itu sudah mulai mengirim pesan-pesan tidak penting yang isinya keluhan karena ditinggal sendirian.

Namun, begitu membuka tas, pandangannya langsung jatuh pada setumpuk uang—beberapa ikat lembaran lima ribu rubel yang totalnya mungkin mencapai setengah juta rubel atau lebih.
Eleanore memejamkan mata sesaat. Ia langsung tahu siapa pelakunya.

Nikolai.

Lagi.

Belakangan ini pria itu memang selalu memasukkan uang ke dalam tas, laci, atau bahkan saku mantel Eleanore setiap kali menemukan kesempatan.

Awalnya, Eleanore selalu mengembalikannya, kemudian ia mencoba meninggalkannya begitu saja di meja. Lalu, ia pernah menyelipkan kembali uang itu ke dalam dompet Nikolai saat pria tersebut sedang tidur. Namun, semuanya gagal karena Nikolai akan selalu mengembalikannya lagi.

Pria itu berpesan bahwa uang itu adalah uang untuk kebutuhan rumah tangga karena biaya menampung dan merawat Nikolai besar, sedangkan Eleanore menganggur—ya, pria itu selalu menegaskan bahwa Eleanore menganggur.

Padahal, perempuan itu masih memperoleh pemasukan dari beberapa kerja sama media sosial dan sesekali menerima uang dari Lyubov. Ia tidak pernah kekurangan uang sampai harus bergantung pada Nikolai. Tetapi, tentu saja, pria keras kepala itu tidak peduli.

Akhirnya Eleanore mengurungkan niat untuk mengeluarkan ponsel. Perempuan itu menutup kembali tasnya lalu menyampirkannya ke bahu.

Baiklah. Jika Nikolai terus menerus memberinya uang, maka akan ia gunakan dengan sebaik-baiknya.

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang