Nikolai tidak pernah membayangkan akan tiba hari di mana ia menyeret perempuan yang paling dicintainya seperti ini. Perempuan yang dulu bahkan tidak berani ia sentuh dengan sedikit kasar. Baginya, Pavlena adalah sesuatu yang berharga untuknya. Bahkan, dulu, Nikolai pernah memukul seorang pelayan hanya karena tanpa sengaja membuat Pavlena terluka saat menyiapkan teh panas untuknya. Sebegitu gilanya pria itu menjaga perempuan tersebut.
Namun, malam ini, tangannya justru mencengkeram pergelangan Pavlena begitu erat dan melangkah begitu cepat. Perempuan itu nyaris kesulitan mengikuti langkahnya, beberapa kali nyaris jatuh tersungkur.
Tidak ada kelembutan atau kasih sayang yang biasa selalu muncul ketika Nikolai menatap dan memperlakukannya. Yang tersisa sekarang hanyalah amarah dan rasa kecewa yang begitu besar, membuatnya tak berpikir dua kali untuk menyeret Pavlena ke dalam kediaman Romanoff.
Beberapa penjaga langsung tampak terkejut begitu melihat siapa yang datang, sembari menyeret seorang biarawati, ditambah wajah tak bersahabat.
"Sir—"
Nikolai langsung mendorong salah satu penjaga hingga tubuh pria itu membentur dinding. "Move."
Setelahnya tak ada yang berani menahan langkah Nikolai.
Pavlena mencoba menahan pria itu. "Nik ..., please ...."
Namun, Nikolai bahkan tidak menoleh padanya. Ia terus berjalan cepat, menyeret sang perempuan ke hadapan Romeo.
Meski sudah menduga, tetapi tetap saja Romeo terkejut dengan kehadiran Nikolai. Apalagi dengan kemunculan Pavlena yang terlihat kacau; kerudung biarawatinya berantakan, menunjukkan helai rambut, dan pergelangan tangan memerah akibat genggaman Nikolai.
"Nikolai—"
Pria itu langsung mendorong Pavlena dengan kasar hingga perempuan itu jatuh berlutut tepat di depan Romeo. Tatapannya berpindah perlahan dari Pavlena ke Romeo, sebelum tertawa kasar dan sartastik. Suasana makin tebal oleh ketegangan.
"Look at this." gumamnya lirih. "My wife." Tatapannya turun pada Pavlena. "Atau mungkin aku harus memanggilnya sister sekarang?"
Pavlena langsung menundukkan kepala penuh malu.
"Oh God." Nikolai mengusap wajah dengan kasar. "Aku benar-benar idiot. Aku membenci-Mu selama bertahun-tahun karena kupikir Kau mengambilnya dariku. Padahal mereka berdua tengah berdiri di belakangku sambil menyaksikan aku hidup seperti orang gila."
Tatapannya perlahan kembali tertuju pada Romeo. Dan, sialnya, Romeo masih berdiri di sana dengan wajah yang begitu tenang, tanpa rasa bersalah. Wajah yang selama ini membuat semua orang percaya bahwa dirinya pria baik, sahabat yang baik, calon kaisar sempurna. Padahal, diam-diam, pria itu menyembunyikan perselingkuhan istrinya selama bertahun-tahun, membiarkan Nikolai berkabung seperti orang kehilangan akal sehat.
Seketika Nikolai tertawa lagi, ia benar-benar tak habis pikir dengan kejutan yang ia terima hari ini.
"Kau benar-benar hebat, Romanoff. I don't even know whether I should hate you, or admire you for this. Kau berdiri di sampingku selama bertahun-tahun sambil menyimpan semua rahasia itu."
"Aku punya alasan sendiri." Romeo akhirnya membuka suara. "Kau boleh membenciku setelah ini, tetapi saat itu aku benar-benar percaya bahwa ini adalah keputusan terbaik."
"Terbaik kau bilang?"
"Apa menurutmu kau masih akan hidup dengan waras setelah mengetahui perempuan yang paling kau cintai ternyata mengkhianatimu selama pernikahan kalian?"
"Nik—" Pavlena mencoba bicara, namun Nikolai langsung mengangkat tangan, menghentikannya.
"Aku mencoba untuk menyelamatkan semuanya," Romeo mengaku tanpa ragu sedikit pun. "Aku tahu kau lebih memilih berkabung atas perempuan yang mati ... dibanding hidup bersama kenyataan bahwa perempuan itu tidak pernah benar-benar mencintaimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
