Satu bulan berlalu ....
Great Charity Gala adalah acara tahunan yang diselenggarakan langsung oleh Kekaisaran Rusia. Sebuah malam yang dikhususkan untuk amal—mengumpulkan dana bagi banyak proyek kemanusiaan.
Semua orang datang dengan alasan yang terdengar mulia, namun tak satu pun benar-benar hadir untuk itu. Mereka datang untuk dilihat, untuk diingat.
Tidak semua orang memiliki akses untuk berdiri di ruangan itu—hanya segelintir orang yang memiliki pengaruh nyata terhadap Rusia, dan mendapat undangan khusus dari kekaisaran.
Dan, di antara itu, selalu ada satu keluarga yang tak pernah terlewat dari undangan, yaitu keluarga Rohlstein.
Sayangnya, sejak kepemimpinan keluarga tersebut jatuh ke tangan Nikolai, kursi yang dikhususkan bagi Rohlstein selalu kosong karena tidak pernah ada yang hadir—baik itu sang kepala keluarga maupun perwakilan lainnya. Tapi, malam ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Nikolai Rohlstein memilih untuk hadir. Keputusan yang bahkan membuat beberapa kepala menoleh.
Keputusan itu si pria buat bukan tanpa alasan.
Tatapan Nikolai bergerak pelan menyapu ruangan, mencari satu sosok yang belum juga ia temukan. Namun, yang ia dapati justru sesuatu yang jauh lebih menarik.
Suara percakapan yang tertangkap, cukup untuk membuatnya berhenti. "... pertunangan itu tidak bisa ditunda lebih lama lagi, Yang Mulia. Kekaisaran membutuhkan kepastian. Malam ini segera umumkan pertunangan kalian."
Nikolai tidak perlu melihat ke balik tirai untuk tahu siapa yang sedang dibicarakan.
Romeo Romanoff ..., dan perempuan di sampingnya.
Sudut bibir Nikolai terangkat tipis.
Sungguh menarik.
Biasanya, Nikolai akan bergegas pergi setelah tak mendapati Eleanore di sisi Romeo. Namun, hari ini ia tertarik untuk menunggu dan menemui Romeo. Ia bahkan menunggu di balik tembok, hingga percakapan itu selesai.
Ketika Romeo selesai dengan percakapannya dan keluar, seketika ia terhenti saat mendapati sosok Nikolai yang telah berhenti di hadapannya.
Untuk sepersekian detik, ekspresinya berubah terkejut. Namun, dengan cepat ia kembali menutupinya.
"What are you doing here?"
Sudut bibir Nikolai terangkat tipis. "Menguping pembicaraanmu." Tatapan Nikolai turun sekilas pada perempuan di sisi Romeo. Rambut pirang, anggun, dan jelas bukan orang yang ia cari. "I didn't think you were this kind of man, Romanoff. Keeping one woman close as your lover while getting engaged to another."
Kalimat itu sukses membuat Romeo segera menarik perempuan yang bersamanya mundur, seakan takut Nikolai akan menyentuhnya.
"Tidak kalah cantik," lanjut Nikolai tanpa sedikit pun rasa canggung. Tatapannya begitu meremehkan. "Tapi seleraku tidak berubah. Aku tetap memilih Eleanore."
"Jangan pernah menyebut namanya dengan mulut hinamu itu."
Melihat reaksi Romeo justru membuat Nikolai makin ingin memancing pria itu.
"Well, di mana mantan kekasihmu itu sekarang?"
"Dia bukan mantan kekasihku," ralat Romeo tegas, menyuarakan ketidaksetujuan.
"Oh, jadi kau masih bersikeras untuk mempertahankan hubunganmu setelah bertunangan? Selanjutnya apa? Kau akan mengangkatnya menjadi selir?"
Tatapan Romeo tak lepas dari Nikolai ketika ia mengangkat tangan singkat, memberi isyarat. Seorang pria bersetelan hitam segera mendekat.
"Antarkan Putri Anaraya ke ballroom," ucap Romeo pada pria bersetelan hitam itu, ia tidak memberi penjelasan apa pun. Perempuan berambut pirang itu pun hanya menurut, menyisakan dua orang dan percakapan yang tak lagi perlu disembunyikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
