Bab 15

28.8K 1.4K 68
                                        

Dua bulan kemudian ....

Eleanore bahkan belum melepas mantel dinginnya ketika suara benda keras menghantam, menyambut kepulangannya. Sebuah map terlempar, semua isinya berhamburan tepat di hadapannya.

"Kau bertengkar dengan Nikolai?"

Eleanore tidak langsung menjawab, tatapannya hanya turun malas pada dokumen yang berserakan di kakinya. "Aku baru pulang, begini caramu menyambut putrimu?"

"Jawab pertanyaanku, apa kau bertengkar dengan Nikolai?"

Tidak—atau ya, entah. Tapi yang jelas sudah dua bulan Eleanore tidak bertemu dengan Nikolai. Terakhir kali ia marah dan meninggalkan pria itu di kediamannya.

Dan Nikolai, bajingan itu, juga tidak berupaya untuk mencarinya.

"Itu bukan urusanmu."

"Bukan urusanku?" Ia menunjuk dokumen di lantai. "Kapal Volca telah ditahan di perairan utara selama tiga hari. Three damn days!"

"So what? Apa hubungannya denganku dan Nikolai?"

"Hanya Nikolai yang bisa membantu kapal itu terlepas dari perairan utara. Nilainya—"

"You've managed on your own all this time, so why do you suddenly need Nikolai now? Go on, fix it yourself, like you always have." Eleanore berniat untuk pergi, tak ingin meladeni ayahnya lebih lama, tetapi kali ini ayahnya menahan pergelangan tangannya.

"Kau tahu berapa banyak yang kudapat sejak Nikolai masuk ke dalam bisnis ini?"

Tidak, ia tidak tahu, juga tidak peduli.

"Kau tahu berapa banyak jalur yang terbuka sejak kehadiran Nikolai? Berbagai pelabuhan yang tidak tersentuh inspeksi karena pria itu? With him, everything becomes easier. Jadi, sebaiknya kau berbaikan dengan pria itu dan permudah segala urusanku."

Eleanore menarik tangannya dari genggaman Lyubov. "Apa pun itu tidak ada hubungannya denganku. Keluhkan masalah ini pada Nikolai atau cari cara lain."

"Nikolai menolak karena kau mengabaikannya!" sembur Lyubov.

Langkah Eleanore terhenti. Ia menahan diri untuk tidak berbalik. Dalam benak, ia merapalkan, "Bukan urusanku ... bukan urusanku ...," berkali-kali.

"Jika kapal itu tidak bergerak dalam 24 jam, maka kita bukan hanya rugi tetapi juga berurusan dengan kekaisaran," desis Lyubov setelah beberapa saat tidak ada tanggapan dari sang putri.

Eleanore mengeluarkan suara dengusan bercampur tawa tertahan. Ia berbalik dan melipat kedua tangan di depan dada. "Perlu aku hubungi Romeo? Agar kau dan Nikolai lebih cepat dipertemukan dengan kekaisaran?"

"Stop acting like a child, Eleanore!" Lyubov tidak lagi menahan diri. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras. Ia melangkah ke arah putrinya. "Put your pride aside. Whatever it is—your problem with Rohlstein—fix it."

Eleanore tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menahan diri untuk tidak melempar apa pun ke wajah ayahnya.

"You're being selfish." Perempuan itu menatap ayahnya dengan miris. "Kau tidak tahu apa pun, bukan? Do you even know what it cost me ... to make things easier for you? Do you have any idea what I had to go through? Sudahlah, kau tidak akan pernah peduli. Kau bukan hanya suami yang buruk, tetapi juga ayah yang buruk."

Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun yang pernah Eleanore ucapkan sebelumnya. Kalimat itu seperti peledak yang tertahan dan akhirnya berhasil dilepaskan.

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang