"It's so good to be home!" seru Nikolai saat melangkahkan kaki masuk ke dalam unit apartemen Eleanore. Pria itu bersikap seolah apartemen itu miliknya.
"You do realize this is my apartment, right? Because you're acting like you own the place."
"Apartemen kecilmu ini rasanya seperti rumah, sangat nyaman."
Apartemen kecil—ya, Nikolai selalu menggunakan ungkapan itu. Meski demikian, ia bersikeras ikut pulang bersama Eleanore. Menurut alasannya, apartemen Eleanore jauh lebih cocok untuk masa pemulihan karena kecil dan tenang.
Selama tiga minggu terakhir, Nikolai mengeluh setiap hari tentang rumah sakit, makanannya yang tidak enak, dokter rumah sakit yang katanya kurang profesional, dan hampir semua hal yang berhubungan dengan rumah sakit.
Kini, setelah akhirnya diperbolehkan pulang, pria itu tampak begitu senang dengan kebebasannya.
Kondisinya memang sudah jauh membaik. Jahitan di tangannya telah dilepas dan tulang rusuknya mulai pulih. Nikolai bahkan sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan kursi roda, meski masih sedikit lambat dan sesekali meringis jika bergerak terlalu cepat.
"Ini bukan akal-akalanmu agar bisa menempel padaku dan menyusahkanku, kan?" tanya Eleanore sambil melempar duffle bag—berisi pakaian Nikolai yang dibawakan oleh Yuriko beberapa minggu lalu. "Berapa lama kau akan tinggal di sini?"
"Berapa lama kau ingin aku berada di sini?" tanya Nikolai balik.
"Aku tidak pernah ingin kau di sini, bahkan untuk sedetik pun."
"Liar." Nikolai mendengus pelan sebelum berjalan menuju sofa ruang tamu. Pria itu tampak sedikit kaku, sesekali wajahnya berkerut menahan sedikit nyeri pada rusuknya. Dengan hati-hati, ia menjatuhkan tubuh ke atas sofa. "Kalau kau benar-benar tidak menginginkanku di sini, kau tidak akan menghabiskan tiga minggu terakhir di rumah sakit. You've been more worried about me than my own parents."
Eleanore yang semula hendak membalas tiba-tiba terdiam, teringat akan kedua orang tua Nikolai.
"Kau belum memberi tahu orang tuamu tentang kecelakaan ini?"
Nikolai menggeleng begitu saja.
"Kau dirawat di rumah sakit hampir tiga minggu, dan kau tidak memberitahu keluargamu sama sekali?"
"Mereka pasti akan khawatir jika kuberi tahu."
"Tentu saja!" Eleanore membelalak tak percaya. "That's the whole point, idiot!"
Nikolai terdiam sejenak, senyum di wajahnya perlahan memudar. "Aku belum siap."
"Belum siap untuk apa?"
"Memberi tahu mereka tentang Pavlena. Kedua orang tuaku sangat mencintainya. Mereka menganggapnya seperti putri mereka sendiri. Selama bertahun-tahun mereka juga berduka bersamaku. Jadi, aku tidak bisa memberi tahu mereka bahwa semua itu hanyalah kebohongan."
Sungguh, Eleanore tidak suka melihat ekspresi pria itu ketika mulai membicarakan Pavlena. Ia akan terlihat menyedihkan dan Eleanore tidak menyukainya. Mungkin karena Nikolai tidak pernah terlihat seperti itu di hadapan orang lain. Pria tersebut selalu tampil arogan, menyebalkan, penuh percaya diri. Namun, saat membicarakan Pavlena, semua topeng itu runtuh begitu saja. Yang tersisa hanyalah seorang pria yang terluka.
Untuk alasan yang tidak ingin ia pikirkan terlalu dalam, Eleanore tidak suka melihat Nikolai terluka. Jadi, alih-alih melanjutkan pembicaraan yang jelas-jelas membuat suasana makin muram, perempuan itu memilih untuk merokok.
"I'm going out for a smoke." Eleanore berjalan menuju balkon apartemennya. "Kalau ingin beristirahat, masuk saja ke kamar lebih dulu."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
